Jumat, 15 Mei 2026

China Sebut Pasar Telah Berbicara Usai Tarif Trump Picu Kejatuhan Saham Global

Penulis : Grace El Dora
5 Apr 2025 | 23:28 WIB
BAGIKAN
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun. (Foto: ANTARA/ Desca Lidya Natalia)
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun. (Foto: ANTARA/ Desca Lidya Natalia)

BEIJING, investor.id – Pemerintah China lewat Kementerian Luar Negeri menyebut pasar telah berbicara, usai tarif Trump memicu kejatuhan saham global pada Sabtu (5/4/2025). Pihaknya menyampaikan hal ini, menyusul pemberlakuan tarif baru yang luas oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Pemerintah China pun meminta Gedung Putih untuk meredakan perang dagang yang meningkat melalui apa yang disebutnya sebagai konsultasi yang setara.

Pasar saham AS turun tajam untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan Jumat (4/4/2025) di Wall Street. Ketiga indeks utama turun lebih dari 5% sebagai bagian dari kejatuhan global.

ADVERTISEMENT

Kekacauan pasar diperburuk pada hari yang sama, ketika Kementerian Keuangan China mengumumkan akan mengenakan tarif 34% pada semua barang yang diimpor dari AS mulai 10 April 2025.

Tanggapan pemerintah China pun meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko inflasi, resesi, dan pertumbuhan ekonomi global.

"Pasar telah berbicara," ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam sebuah unggahan di media sosial Facebook pada Sabtu pagi.

Ia membagikan gambar yang merujuk pada kemerosotan pasar saham AS pada Jumat.

"Perang dagang dan tarif yang dimulai oleh AS terhadap dunia tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan," imbuh Guo, seperti dikutip CNBC internasional, Sabtu. Ia meminta Gedung Putih untuk menyelesaikan perbedaan dengan mitra dagang melalui konsultasi yang setara.

Presiden Trump pada Rabu (2/4/2025) mengumumkan pungutan baru yang luas sebagai bagian dari kebijakan "tarif timbal balik". Ini termasuk tarif 10% untuk hampir setiap negara dan bea masuk barang impor ke AS yang jauh lebih tinggi, diberlakukan kepada banyak negara mitranya.

Donald Trump menargetkan China dengan 34% dari tarif timbal balik tambahan, sehingga total tarif AS terhadap ekonomi terbesar kedua di dunia menjadi 54%.

Pada Jumat, Donald Trump tampak tidak terpengaruh oleh reaksi pasar terhadap peluncuran tarifnya. Lewat unggahan di media sosialnya, Truth Social, Trump mengatakan bisnis besar di AS tidak khawatir tentang tarif.

"Kebijakan (Trump) tidak akan pernah berubah," pungkasnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia