Jumat, 15 Mei 2026

Harvard Pinjam Rp 12,6 Triliun dari Wall Street Setelah Tarif Trump

Penulis : Grace El Dora
8 Apr 2025 | 15:27 WIB
BAGIKAN
Harvard memperingatkan investor tentang ancaman pendanaan federal dalam dokumen obligasinya. (Foto: Bloomberg)
Harvard memperingatkan investor tentang ancaman pendanaan federal dalam dokumen obligasinya. (Foto: Bloomberg)

WASHINGTON, investor.id – Universitas Harvard berencana meminjam US$ 750 juta atau sekitar Rp 12,6 triliun berupa obligasi yang diterbitkan di Wall Street, setelah pengumuman tarif Trump. Saat ini, ada peningkatan ancaman terhadap pendanaan federalnya dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Sebagai bagian dari perencanaan kontinjensi yang sedang berlangsung untuk berbagai keadaan keuangan, Harvard sedang mengevaluasi sumber daya yang dibutuhkan untuk memajukan prioritas akademis dan penelitiannya," ungkap juru bicara Harvard dalam pernyataan melalui surel ketika ditanya tentang penjualan obligasi tersebut, lapor Bloomberg, Selasa (8/4/2025).

Utang tersebut akan dikenakan pajak dan hasilnya akan digunakan untuk keperluan umum perusahaan, menurut dokumen obligasi. Goldman Sachs Group Inc. adalah satu-satunya bookrunner dalam transaksi tersebut.

ADVERTISEMENT

Sekolah-sekolah di seluruh AS bersiap menghadapi potensi pukulan pendanaan setelah Trump meningkatkan pengawasan terhadap perguruan tinggi, yang dituduh salah menangani tuduhan antisemitisme di kampus-kampus.

Trump juga mengancam akan mencabut miliaran dolar dalam bantuan federal. Pemerintah telah membekukan pendanaan untuk universitas Columbia dan Princeton, sementara Harvard menghadapi potensi kerugian hingga US$ 9 miliar dalam bentuk hibah dan kontrak kecuali jika mematuhi daftar tuntutan federal.

Demi mempersiapkan ketidakpastian, beberapa sekolah telah memanfaatkan pinjaman jangka pendek untuk menghemat uang tunai. Menjual obligasi kena pajak, yang memiliki penggunaan hasil yang lebih fleksibel daripada utang bebas pajak tradisional, merupakan opsi lain untuk menopang likuiditas.

Harvard juga memiliki fasilitas kredit bergulir senilai US$ 1,5 miliar dengan bank serta kapasitas surat berharga komersial senilai US$ 3 miliar, menurut laporan keuangannya untuk tahun fiskal 2024.

“(Bagi perguruan tinggi, ini adalah) keputusan yang strategis dan sangat cermat secara fiskal untuk menopang likuiditas apa pun yang mereka miliki karena ketidakpastian yang ekstrem," kata Lisa Washburn selaku direktur pelaksana di Municipal Market Analytics, Selasa. Ia mengaku tidak akan terkejut melihat lebih banyak perguruan tinggi memanfaatkan pasar kena pajak.

Universitas Princeton juga mempertimbangkan penjualan obligasi kena pajak. Sekolah tersebut pekan lalu mengumumkan lembaga pemerintah AS telah menangguhkan puluhan hibah penelitiannya. Harvard memperingatkan investor tentang ancaman pendanaan federal dalam dokumen obligasinya.

"Meskipun dampak finansial universitas dari setiap perkembangan di tingkat federal tidak dapat diukur saat ini, hal itu mungkin, secara langsung atau tidak langsung, memiliki dampak buruk yang material pada profil keuangan dan kinerja operasional universitas saat ini dan di masa mendatang," terang Harvard dalam dokumen obligasi tertanggal 6 April 2025.

Obligasi baru tersebut diberi peringkat Aaa oleh Moody's Ratings, menurut rilis awal pekan ini.

“(Peringkat tersebut) mencerminkan kualitas kredit Harvard yang unggul sebagai universitas komprehensif terkemuka dan diakui secara global yang diuntungkan oleh permintaan mahasiswa yang luar biasa, penggalangan dana yang luar biasa, dan kemampuan penelitian yang luas," tulis analis Moody's yang dipimpin oleh Susan Shaffer dalam sebuah laporan.

Mereka menyoroti "kekayaan besar" Harvard dan "posisi pasar yang luar biasa".

Meskipun Harvard adalah perguruan tinggi AS terkaya dengan dana abadi sebesar US$ 53 miliar, universitas ini sangat bergantung pada pendanaan federal, terutama untuk operasi penelitiannya.

Dalam dokumen penawaran (tender offer), sekolah tersebut mengatakan secara historis pihaknya telah menerima dukungan substansial untuk penelitian dari pemerintah AS. Jumlahnya mencapai 11% dari pendapatan operasional pada tahun fiskal yang berakhir pada 30 Juni 2025.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 4 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 1 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia