Jumat, 15 Mei 2026

China Balas Tarif AS Jadi 125%, Picu Perang Dagang Jilid II

Penulis : Grace El Dora
11 Apr 2025 | 17:23 WIB
BAGIKAN
Bendera nasional AS dan China berkibar saat seseorang lewat di kawasan Pecinan di New York, Selasa (8/4/2025). (Foto: AP/ Eduardo Munoz Alvarez)
Bendera nasional AS dan China berkibar saat seseorang lewat di kawasan Pecinan di New York, Selasa (8/4/2025). (Foto: AP/ Eduardo Munoz Alvarez)

BEIJING, investor.id – Pemerintah Negara Tirai Bambu membalas tarif timbal balik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Otoritas China balas tarif 125% atas barang AS, memicu perang dagang jilid II menaikkan tarifnya atas barang-barang AS menjadi 125% dari 84%, kata kementerian keuangan China.

“Bahkan jika AS terus mengenakan tarif yang lebih tinggi, itu tidak akan lagi masuk akal secara ekonomi dan akan menjadi lelucon dalam sejarah ekonomi dunia,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan menurut terjemahan CNBC internasional, Jumat (11/4/2025).

“Dengan tarif pada tingkat saat ini, tidak ada lagi pasar untuk barang-barang AS yang diimpor ke China,” tulisnya. Pihaknya menambahkan, jika pemerintah AS terus menaikkan tarif atas China maka akan mengabaikannya. Ini mengindikasikan otoritas China akan terus bertahan pada kebijakannya saat ini.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, pemerintahan Trump pada Kamis (10/4/2025) telah mengonfirmasi tarif AS atas impor China sekarang secara efektif mencapai 145%. Perintah eksekutif terbaru Trump menaikkan tarif timbal balik terhadap China hingga 125%, yang ditambahkan pada tarif gabungan terkait fentanil sebesar 20% yang diberlakukan pada Februari dan Maret 2025.

“Ini adalah akhir dari eskalasi dalam hal tarif bilateral. Baik China maupun AS telah mengirimkan pesan yang jelas, tidak ada gunanya menaikkan tarif lebih lanjut,” ucap Zhiwei Zhang selaku presiden dan kepala ekonom di Pinpoint Asset Management terkait kemelut perang dagang jilid II.

Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi kerusakan pada aktivitas ekonomi di AS dan China akibat perang dagang, kata Zhang. Ia menambahkan, tidak ada tanda-tanda kedua pemerintah akan memulai negosiasi dan menghindari gangguan besar dalam rantai pasokan global.

Tidak seperti putaran tindakan pembalasan sebelumnya, pemerintah China telah menahan diri untuk tidak mengumumkan tindakan pengendalian ekspor lebih lanjut atau memperluas apa yang disebutnya sebagai “daftar entitas yang tidak dapat diandalkan” dengan menambah perusahaan Amerika.

Pemerintah China akan membuat perusahaan AS ini tunduk pada pembatasan lebih lanjut, saat beroperasi di negaranya.

Meskipun terjadi eskalasi terbaru, juru bicara Kementerian Perdagangan China menegaskan kembali dalam pernyataan terpisah pada Jumat, pemerintah China terbuka untuk bernegosiasi dengan AS secara setara.

Harapan akan kesepakatan AS-China untuk menyelesaikan ketegangan perdagangan telah memudar dengan cepat. Pasalnya, pekan lalu pemerintah China telah membalas dengan bea masuk yang saling berbalas atas barang-barang Amerika dan pembatasan yang luas terhadap bisnis AS.

"Sangat disayangkan China sebenarnya tidak ingin datang dan bernegosiasi, karena mereka adalah pelanggar terburuk dalam sistem perdagangan internasional," tutur Menteri Keuangan AS Scott Bessent seperti dikutip Fox Business pada Rabu (9/4/2025), setelah pemerintah China menaikkan tarif menjadi 84% dan memberikan kobaran bagi perang dagang jilid II. 

"Mereka memiliki ekonomi yang paling tidak seimbang dalam sejarah dunia modern, dan saya dapat memberi tahu Anda bahwa eskalasi ini merugikan mereka," tukas Bessent.

Goldman Sachs pada Kamis telah memangkas perkiraan produk domestik bruto (PDB) China menjadi 4%, mengingat hambatan dari ketegangan perdagangan AS dan pertumbuhan global yang lebih lambat.

Meskipun ekspor China ke AS hanya mencapai sekitar tiga poin persentase dari total PDB China, masih ada dampak signifikan pada lapangan kerja, kata analis Goldman Sachs. Mereka memperkirakan sekitar 10 juta hingga 20 juta pekerja di China terlibat dengan bisnis ekspor yang menuju AS.

Pihak berwenang China menegaskan kembali mereka akan terus "dengan tegas melakukan serangan balik dan berjuang sampai akhir" jika AS terus melanggar kepentingan China.

Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Spanyol Pedro Sánchez pada Jumat, Presiden China Xi Jinping mengatakan tidak ada pemenang dalam perang tarif dan melawan dunia hanya akan mengisolasi dirinya sendiri.

Kedua pemimpin berjanji untuk memperdalam hubungan di berbagai bidang termasuk perdagangan, investasi, dan inovasi teknologi.

Pemerintah AS belum memberi tanggapan atas keputusan ini.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia