Jumat, 15 Mei 2026

China Tak Mau Perang Dagang, Tapi Tak Takut Tarif Trump

Penulis : Grace El Dora
11 Apr 2025 | 23:56 WIB
BAGIKAN
Sebuah kapal peti kemas bertolak dari terminal peti kemas di Qingdao, Provinsi Shandong, China pada Minggu (06/04/2025). China harus maju menuju perang dagang dengan AS karena posisi ekonominya sedang terpojok. (Investor Daily/Chinatopix Via AP)
Sebuah kapal peti kemas bertolak dari terminal peti kemas di Qingdao, Provinsi Shandong, China pada Minggu (06/04/2025). China harus maju menuju perang dagang dengan AS karena posisi ekonominya sedang terpojok. (Investor Daily/Chinatopix Via AP)

BEIJING, investor.id – Pemerintah China menegaskan tidak ingin melakukan perang dagang. Namun jika pemerintah Amerika Serikat (AS) menerapkan tarif yang merugikan masyarakat China, maka pemerintah China tidak akan takut menghadapinya.

"China tidak ingin berperang, tetapi tidak takut. Kami tidak akan tinggal diam ketika hak dan kepentingan sah rakyat China dirugikan atau ketika rezim perdagangan multilateral dirusak. Jika AS bertekad untuk berperang tarif dan perdagangan, respon China akan terus berlanjut sampai akhir," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing pada Kamis (10/4/2025).

Pada Rabu (9/4/2025) sore waktu AS, Trump mengumumkan penundaan selama 90 hari atas tarif timbal balik ke lebih dari 75 negara mitra dagangnya. Namun Trump sekaligus mengungkapkan AS akan segera menetapkan tarif impor terhadap produk-produk asal China menjadi 125%.

ADVERTISEMENT

"Berdasarkan kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan China terhadap pasar dunia, saya dengan ini menaikkan tarif yang dikenakan Amerika Serikat terhadap China menjadi 125%, berlaku segera," tulis Trump dalam akun media sosial di X, seperti dikutip pada Jumat (11/4/2025).

Sebelumnya negara-negara itu dijadwalkan akan dikenakan tarif lebih tinggi dari batas dasar tarif 10% pada Rabu.

"Jika AS mengutamakan kepentingannya sendiri di atas kebaikan publik masyarakat internasional dan mengorbankan kepentingan semua negara demi hegemoninya sendiri, AS pasti akan menghadapi tentangan yang lebih kuat dari masyarakat internasional," tambah Lin Jian.

Lin Jian menegaskan China mengambil tindakan balasan yang diperlukan terhadap tindakan intimidasi AS demi menjaga kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunannya dan yang lebih penting, untuk menegakkan keadilan dan kesetaraan internasional serta rezim perdagangan multilateral, dan melindungi kepentingan bersama masyarakat internasional.

"Tujuan yang adil didukung oleh banyak orang. Langkah Amerika yang melawan tren zaman tidak akan mendapat dukungan dan berakhir dengan kegagalan," ungkap Lin Jian.

Terkait kemungkinan untuk melakukan negosiasi tarif dengan AS, Lin Jian mengatakan AS harus menunjukkan mereka siap memperlakukan orang lain dengan kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan.

"AS masih menyalahgunakan tarif terhadap China, kami dengan tegas menolak dan tidak akan pernah menerima tindakan hegemonik dan intimidasi tersebut. Jika AS memutuskan untuk hanya peduli dengan kepentingan AS sendiri, China, dan seluruh dunia, dan bertekad untuk melawan perang tarif dan dagang, respons China pun akan terus berlanjut sampai akhir," tegas Lin Jian.

Lin Jian pun mengakui hubungan China-AS saat ini kut melemahkan fondasi sosial dan hubungan antarmasyarakat China dan AS.

"Hal ini telah menghambat pertukaran dan kerja sama antara kedua negara di berbagai bidang, tapi China akan terus mengambil langkah-langkah kuat untuk melindungi hak dan kepentingannya sendiri yang sah," lanjut Lin Jian.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan penangguhan itu diberikan karena negara-negara tersebut telah menghubungi mitra mereka di AS untuk mencari solusi terkait isu-isu perdagangan, hambatan dagang, tarif, manipulasi mata uang dan tarif non-moneter.

Selain itu negara-negara tersebut juga tidak melakukan tindakan balasan terhadap AS "dalam bentuk apa pun".

"Saya telah mengesahkan PAUSE (penangguhan) selama 90 hari dan menetapkan tarif timbal balik yang jauh lebih rendah, sebesar 10%, yang juga berlaku segera. Suatu saat nanti, semoga dalam waktu dekat, China akan menyadari masa-masa menipu Amerika Serikat dan negara-negara lain sudah tidak dapat diterima dan tidak bisa dipertahankan lagi," unggah Trump dalam akun Truth Social.

Setelah kabar tersebut diumumkan, bursa Wall Street kompak melonjak tajam dengan indeks Dow Jones naik 7,69%, indeks Nasdaq naik 12,16%, dan Russell 2000 naik 8,66%. Tidak hanya saham, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS alias US Treasury pun mulai berangsur normal, dari sebelumnya di level 4% di tengah ekspektasi akan pemangkasan tingkat suku bunga The Fed yang berkurang.

Adapun pemerintah China mulai Kamis (10/4/2025) pukul 12.00 waktu setempat memberlakukan tarif baru yaitu sebesar 84% terhadap barang-barang asal AS, menurut pengumuman Komisi Tarif Bea Cukai Dewan China.

Pihaknya juga sudah melayangkan tuntutan terhadap AS kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait penerapan perang tarif Trump yang dianggap berpotensi mengacaukan perdagangan global.

Otoritas Negara Tirai Bambu itu juga menuduh AS telah melanggar aturan WTO dan merusak sistem perdagangan multilateral. China mendorong Sekretariat WTO meneliti dampak dari kebijakan tarif timbal balik terhadap perdagangan global, serta melaporkan temuannya kepada seluruh anggota.

"Situasi tersebut, telah meningkat secara berbahaya. Sebagai salah satu anggota yang terdampak, China menyampaikan keprihatinan mendalam dan penolakan tegas terhadap langkah sembrono ini," demikian isi pernyataan China kepada WTO.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia