AS Akan Pangkas Jangkauan Diplomatiknya Demi Efisiensi Anggaran
WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan memangkas jangkauan diplomatiknya demi efisiensi anggaran, menurut laporan AFP pada Kamis (17/4/2025). Departemen Luar Negeri (Deplu) AS diperkirakan akan mengusulkan perombakan jangkauan diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sejak Selasa (15/4/2025) beberapa media berita telah melaporkan pemerintahan AS yang kini dipimpin Presiden Donald Trump telah menutup berbagai program dan kedutaan di seluruh dunia, untuk memangkas anggaran hampir 50%.
Usulan tersebut telah dimuat dalam memo internal Deplu yang dikatakan sedang dibahas secara serius oleh para pejabat senior. Jika disepakati, langkah ini akan menghilangkan hampir semua pendanaan untuk organisasi internasional termasuk untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Dukungan finansial untuk penjagaan perdamaian internasional akan dibatasi, bersama dengan pendanaan untuk pertukaran pendidikan dan budaya seperti Program Fulbright, salah satu beasiswa AS yang paling bergengsi.
Rencana tersebut muncul bersamaan dengan Presiden Trump yang mendesak serangan yang lebih luas terhadap pengeluaran pemerintah. Ia juga mencanangkan pengurangan peran utama Amerika di panggung internasional.
Juru bicara Departemen Luar Negeri Tammy Bruce meremehkan laporan tersebut. "Tidak ada rencana akhir, anggaran akhir, dinamika akhir. Itu terserah Gedung Putih dan presiden Amerika Serikat saat mereka terus mengerjakan rencana anggaran mereka dan apa yang akan mereka serahkan ke Kongres," kata Bruce seperti dikutip AFP, Kamis.
Ia menambahkan, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio telah menegaskan kembali komitmen penuh kami kepada NATO, seperti yang telah dilakukan presiden Amerika Serikat.
Asosiasi Layanan Luar Negeri Amerika menyebut pemotongan yang diusulkan itu ceroboh dan berbahaya. Sedangkan mantan duta besar (dubes) AS untuk Rusia Michael McFaul mengecam apa yang disebutnya sebagai hadiah besar bagi Partai Komunis China.
Memo itu mengatakan Departemen Luar Negeri AS akan meminta anggaran sebesar US$ 28,4 miliar pada tahun fiskal 2026 mulai 1 Oktober sebesar US$ 26 miliar, berkurang dari angka 2025, menurut The New York Times.
Meskipun tidak banyak yang dikatakan tentang bantuan kemanusiaan, program-program yang menangani penyakit tropis, menyediakan vaksin untuk anak-anak di negara-negara berkembang, dan mempromosikan kesehatan ibu dan anak akan dibatalkan, kata laporan itu.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






