Jumat, 15 Mei 2026

Trump Beri Sinyal Akhiri Balas-Membalas Tarif dengan China

Penulis : Prisma Ardianto
18 Apr 2025 | 18:43 WIB
BAGIKAN
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (kanan). (Foto: AFP)
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (kanan). (Foto: AFP)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (17/4/2025) waktu setempat, mengisyaratkan untuk mengakhiri aksi balas-membalas tarif dengan China. Ia khawatir tarif tinggi bisa membuat orang-orang urung membeli barang.

“Saya tidak ingin mereka (China) naik lebih tinggi karena pada titik tertentu Anda membuatnya di mana orang tidak membeli,” kata Trump kepada wartawan tentang tarif di Gedung Putih, seperti dilansir dari Reuters pada Jumat (18/4/2025).

Dia juga membuka diri untuk tidak akan menaikan lagi tarif kepada China—setelah memukul dengan tarif 245%. Sebaliknya, ia mungkin akan menurunkan tarif kepada China supaya orang-orang AS mau membeli barang.

ADVERTISEMENT

“Jadi, saya mungkin tidak ingin naik lebih tinggi atau bahkan tidak ingin naik ke tingkat itu. Saya mungkin ingin menurunkannya karena Anda tahu bahwa Anda ingin orang membeli dan, pada titik tertentu, orang tidak akan membeli,” ujar Trump.

Tak cuma China, Trump juga berniat menahan diri untuk memberi tarif yang lebih tinggi secara menyeluruh atau kepada puluhan negara lainnya. Saat ini, Trump memasang tarif 10% kepada puluhan negara, sambil menunggu negosiasi.

Pemerintah China pada Rabu (16/4/2025) merespons tarif Trump sebesar 245%. Pemerintah China menegaskan tidak akan mundur dari sikapnya meski Trump menetapkan tarif impor tersebut terhadap barang-barang asal China.

“Mengenai bagaimana angka 245% itu muncul, sebaiknya ditanyakan pada pihak AS. Tidak ada pemenang dalam perang tarif atau perang dagang, China pun tidak ingin melawan negara mana pun, tetapi kami juga tidak takut,” papar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, China.

Aksi Balas-membalas Tarif AS-China

Di sisi lain, Trump mengaku bahwa China telah melakukan komunikasi sejak pemberlakuan tarif dan menyatakan optimisme bahwa mereka dapat mencapai kesepakatan. Namun, sumber-sumber lain menyatakan bahwa pembicaraan tingkat tinggi antara AS dan China mengalir bebas dan sebagian besar tidak menghasilkan kesepakatan.

China sendiri mengatakan bahwa pemerintah AS harus menghentikan ancaman, serta berdialog atas dasar kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan. Ini adalah syarat dari China jika AS benar-benar ingin menyelesaikan masalah tarif.

Aksi balas membalas tarif antara China telah berlangsung beberapa waktu belakangan ini. Trump di awal menjabat Presiden AS pada Januari memberlakukan tarif 20% kepada China. Kemudian mengerek tarif itu menjadi 34% pada Rabu (3/4/2025), bersamaan dengan tarif baru ke puluhan negara.

China pun membalas dengan tarif yang sama besar ke AS yaitu 34%, alih-alih mengambil jalan negosiasi seperti yang dilakukan banyak negara. Trump merespons dengan menaikan kembali tarif ke China menjadi 50%. China lantas membalas dengan menetapkan tarif 84% ke AS.

Perang tarif semakin meruncing. Trump memang menunda pengenaan tarif baru selama 90 hari ke puluhan negara pada Rabu (8/4/2025), kecuali China. Sebagai respons, pemerintah China memutuskan untuk menambah besaran tarif ke AS menjadi 125%. Aksi itu dibalas Trump dengan memasang tarif ke China sebesar 245% yang dilakukan baru-baru ini.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia