Jumat, 15 Mei 2026

Alasan di Balik Rencana Trump Pangkas Tarif Substansial Terhadap China

Penulis : Grace El Dora
23 Apr 2025 | 22:04 WIB
BAGIKAN
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat menandatangani perintah eksekutif di Ruang Oval Gedung Putih, Washington, AS pada Senin (31/4/2025). (Foto: Bloomberg/ Getty Images)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat menandatangani perintah eksekutif di Ruang Oval Gedung Putih, Washington, AS pada Senin (31/4/2025). (Foto: Bloomberg/ Getty Images)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana untuk bersikap "sangat baik" kepada China dalam setiap pembicaraan dagang. Ada alasan di balik rencana Trump memangkas tarif substansial terhadap China.

Trump mengatakan, jika kedua negara dapat mencapai kesepakatan, maka hal ini akan menjadi tanda ia mungkin akan menarik kembali sikap kerasnya terhadap China di tengah volatilitas pasar.

"Tarif akan turun secara substansial, tetapi tidak akan menjadi nol," ucap Trump pada Selasa (22/4/2025) di Washington, AS seperti dikutip CNBC internasional, Rabu (23/4/2025). Pernyataan ini diucapkannya menyusul komentar sebelumnya dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

ADVERTISEMENT

Bessett mengatakan kebuntuan tarif tidak dapat dipertahankan. "Kami akan bersikap sangat baik dan mereka akan bersikap sangat baik, dan kita akan lihat apa yang terjadi," tambah Trump. Ia juga membeberkan ia tidak melihat perlunya mengatakan bahwa ia akan bersikap keras terhadap pemimpin China Xi Jinping.

Trump mengatakan, selama diskusi dengan China ia tidak akan mengangkat Covid-19 yang adalah isu sensitif secara politis di Beijing. Gedung Putih baru-baru ini meluncurkan sebuah situs web yang menyatakan virus tersebut berasal dari sebuah laboratorium di China, yang membuat para diplomat negara itu kesal.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun mengatakan pintu untuk perundingan terbuka lebar. Dalam jumpa pers rutin di Beijing pada Rabu, Jiakun menegaskan kembali perang dagang tidak memiliki pemenang.

Komentar Trump muncul saat saham dan obligasi AS terpukul sejak ia memberlakukan tarif besar-besaran pada 2 April 2025, kemudian mengumumkan penangguhan selama 90 hari untuk sebagian besar negara. Bea masuk 145% yang diberlakukan Trump terhadap China tahun ini tetap berlaku, meskipun ia telah membuat pengecualian untuk komputer dan barang elektronik konsumen populer.

"Trump panik karena pasar anjlok dan imbal hasil obligasi AS yang masih sangat tinggi. Ia butuh kesepakatan dan cepat. China tidak perlu menawarkan sesuatu yang besar dalam keadaan seperti itu," ujar kepala ekonom Asia Pasifik Natixis Alicia Garcia Herrero, Rabu.

Xi masih belum berbicara dengan Trump sejak mitranya dari AS itu kembali menjabat, tanpa ada indikasi publik bahwa pembicaraan antara ekonomi terbesar di dunia sedang berlangsung, bahkan di tingkat yang lebih rendah.

Otoritas China malah mengintensifkan penjangkauannya ke negara-negara lain, bahkan memperingatkan mereka untuk tidak membuat kesepakatan perdagangan dengan AS yang merugikan kepentingan China. Selama pertemuan dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev pada Rabu, Xi menegaskan kembali perang tarif merusak hak dan kepentingan semua negara.

Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi memberi tahu rekan-rekannya di Inggris dan Austria bahwa sikap China terhadap AS tidak hanya bertujuan untuk menjaga kepentingannya sendiri, tetapi juga melindungi aturan internasional dan sistem perdagangan multilateral.

Perdana Menteri (PM) China Li Qiang dilaporkan menulis surat kepada PM Jepang Shigeru Ishiba minggu ini, menyerukan tanggapan terkoordinasi terhadap tarif Trump.

Media China Cailian menyebut pernyataan terbaru presiden AS sebagai tanda Trump telah melunakkan pendiriannya terhadap kebijakan tarif khasnya. Trump yang mengalah menjadi salah satu topik yang paling banyak dibicarakan di situs media sosial Weibo milik China pada Rabu.

Pemerintah China telah mengindikasikan bahwa mereka ingin melihat sejumlah langkah dari pemerintahan Trump sebelum menyetujui diskusi apa pun, terutama mengekang pernyataan meremehkan dari anggota Kabinet China. Pihak China menyatakan ketidaksenangannya dengan komentar Wakil Presiden AS JD Vance tentang petani China, karena seorang diplomat AS menyebut mereka bodoh dan tidak sopan.

Dalam pertemuan puncak investor tertutup, Bessent mengatakan dua ekonomi terbesar di dunia harus menemukan cara untuk meredakan ketegangan yang akan terjadi dalam waktu dekat. Bessent juga mengatakan bukanlah tujuan AS untuk melepaskan diri dari China, menurut orang-orang yang menghadiri sesi tersebut.

Namun, kepala Departemen Keuangan AS mengatakan kesepakatan komprehensif bisa memakan waktu dua hingga tiga tahun. Dia juga menegaskan kembali pandangannya bahwa China telah menghambat ekonomi konsumennya dan lebih menyukai manufaktur dengan mengorbankan AS. Pasalnya, ia mengatakan kesepakatan apa pun akan memerlukan penyeimbangan kembali perdagangan yang memungkinkan AS untuk meningkatkan manufaktur.

Negosiasi dengan China mengenai kesepakatan semacam itu belum dimulai, katanya.

Pihak China telah mengirim Gubernur Bank Rakyat China (PBoC) Pan Gonsheng, Wakil Gubernur Xuan Changneng, dan Menteri Keuangan Lan Fo’an ke Washington, yang minggu ini akan menjadi tuan rumah pertemuan Kelompok Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Itu dapat menciptakan peluang bagi pejabat tinggi China dan AS untuk bertukar pandangan dan membuka pintu bagi perundingan perdagangan.

Selain itu, salah satu anggota kunci tim China yang akan bernegosiasi dengan pemerintahan Trump kemungkinan telah ditempatkan minggu lalu, ketika Li Chenggang ditunjuk sebagai wakil menteri perdagangan dan utusan perdagangan.

Henry Wang Huiyao, pendiri kelompok penelitian Pusat China dan Globalisasi di Beijing mengatakan penunjukan Li menunjukkan China siap untuk berunding. Ia menambahkan, komentar terbaru Trump mengisyaratkan nada yang lebih masuk akal.

"Saya yakin hal ini akan mendapat respons dari China, jadi semoga saja kita akan mengalami masa stabilisasi dan pendinginan, dan kita dapat melanjutkan hubungan kita senormal mungkin dengan Presiden Trump," ucap Wang.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia