Jumat, 15 Mei 2026

Tak Ingin Meninggal dalam Keadaan Kaya, Bill Gates Akan Tutup Yayasan

Penulis : Grace El Dora
9 Mei 2025 | 14:52 WIB
BAGIKAN
Presiden RI Prabowo Subianto (kanan) menyapa salah satu pendiri dan mantan CEO Microsoft Bill Gates saat pertemuan mereka di Istana Merdeka di Jakarta, Rabu (7/5/2025). (Foto: AP/ Achmad Ibrahim)
Presiden RI Prabowo Subianto (kanan) menyapa salah satu pendiri dan mantan CEO Microsoft Bill Gates saat pertemuan mereka di Istana Merdeka di Jakarta, Rabu (7/5/2025). (Foto: AP/ Achmad Ibrahim)

JAKARTA, investor.id – Miliarder Bill Gates berencana untuk menyumbangkan hampir semua kekayaan pribadinya dan menutup Yayasan Gates dalam waktu 20 tahun, menurut pengumuman dalam unggahan blog. Ia mengatakan dirinya tak ingin meninggal dalam keadaan kaya.

"Orang-orang akan mengatakan banyak hal tentang saya ketika saya meninggal, tetapi saya bertekad bahwa 'dia meninggal dalam keadaan kaya' tidak akan menjadi salah satu dari komentar itu," tulis Gates (69).

"Ada terlalu banyak masalah mendesak yang harus dipecahkan bagi saya untuk berpegang pada sumber daya yang dapat digunakan untuk membantu orang," kata Bill Gates seperti dikutip CNBC internasional, Jumat (9/5/2025).

ADVERTISEMENT

Salah satu pendiri Microsoft itu memiliki kekayaan bersih yang diperkirakan oleh Bloomberg mencapai US$ 168 miliar. Ia telah berjanji selama bertahun-tahun untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaannya kepada yayasan filantropisnya. Tujuan akhirnya adalah untuk keluar dari "daftar orang terkaya di dunia", tulisnya dalam sebuah unggahan media sosial pada Juli 2022.

Kini, Gates telah menetapkan jadwal khusus untuk mencairkan kekayaannya. Bill Gates menyatakan akan menutup Gates Foundation pada 31 Desember 2045.

Sejak Yayasan tersebut diluncurkan pada 2000, yayasan tersebut telah menyumbangkan lebih dari US$ 100 miliar untuk tujuan-tujuan global. Yayasan ini khususnya memiliki visi untuk memberantas penyakit dan kemiskinan, mengatasi perubahan iklim, dan memperluas akses ke layanan kesehatan dan pendidikan.

Gates memperkirakan Yayasan tersebut akan dapat menggandakan total tersebut dan menyalurkan US$ 200 juta lagi antara sekarang dan pada 2045, tergantung pada faktor-faktor seperti inflasi dan kinerja pasar, tulis Bill Gates. Ia berencana untuk meningkatkan anggaran tahunannya dari US$ 6 miliar menjadi US$ 9 miliar.

Di antara tujuannya untuk dua dekade berikutnya, ia menulis beberapa poin ini.

1. Lebih jauh mengurangi kematian ibu dan anak kecil akibat penyebab yang dapat dicegah.

2. Membantu memberantas penyakit seperti polio, malaria, campak, dan penyakit cacing Guinea.

3. Mendanai kemajuan dalam bidang pendidikan dan pertanian di negara-negara Afrika untuk membantu "ratusan juta orang terbebas dari kemiskinan".

Meskipun Gates berharap yayasan miliknya dapat memenuhi tujuan tersebut, Bill Gates juga bersikap realistis. "Semua kemajuan ini tidak mungkin terjadi tanpa kemitraan dari pemerintah," tulisnya. Pengumumannya muncul pada saat pemerintah dunia, khususnya Amerika Serikat (AS), telah memangkas anggaran bantuan global mereka hingga puluhan miliar dolar, katanya.

Gates menyatakan kekhawatiran soal organisasi filantropi seperti miliknya tidak akan dapat mengisi kekosongan dalam bantuan global yang ditinggalkan oleh pemotongan pajak pemerintah baru-baru ini.

"Tidak ada organisasi filantropi, bahkan yang sebesar Gates Foundation, yang dapat menutupi kesenjangan dalam pendanaan yang muncul saat ini. Tidak jelas apakah negara-negara terkaya di dunia akan terus membela rakyatnya yang termiskin," tulisnya.

Akan Lebih Baik 20 Tahun ke Depan

Gates menggambarkan pengaruh dalam hidupnya yang membentuk komitmennya terhadap filantropi, dimulai dari ibunya, Mary Gates, yang meninggal pada 1994. Ibunya adalah penganut setia gagasan “siapa yang diberi banyak, akan banyak pula yang diharapkan”, kata Gates.

Setelah Microsoft menjadi sukses, Gates untuk sementara waktu menjadi orang terkaya di dunia. Ibunya mengingatkannya, ia hanya seorang pengurus kekayaan apa pun yang dikumpulkannya. Gates juga memiliki kewajiban moral dan sosial untuk membalasnya, tulisnya. Ayah Gates memiliki pandangan yang sama dan menjadi salah satu ketua Gates Foundation hingga ia meninggal pada 2020.

Pendirian Gates tentang filantropi juga dipengaruhi oleh sahabat lama sekaligus miliarder Warren Buffett. Buffett sebelumnya telah menyumbangkan puluhan miliar dolar untuk kegiatan amal dan menugaskan anak-anaknya untuk memberikan 99% dari sisa kekayaannya setelah ia meninggal.

“(Buffett) tetap menjadi contoh utama kedermawanan. Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan saya pada gagasan untuk menyumbangkan segalanya," kata Gates.

Bersama Buffett, Gates dan mantan istrinya Melinda French Gates mendirikan Giving Pledge pada 2010. Sejak saat itu, lebih dari 240 miliarder telah menandatanganinya yang berkomitmen untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaan mereka selama hidup mereka.

Dalam unggahannya, Gates juga mengutip pengaruh taipan baja Gilded Age Andrew Carnegie. Esai Carnegie pada 1889 "The Gospel of Wealth" dianggap sebagai model filantropi modern. Saat membaca esai itu beberapa dekade lalu, Gates mengatakan ia dikejutkan oleh kalimat "orang yang meninggal dalam keadaan kaya akan meninggal dalam keadaan malu".

"Saya telah menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan kutipan itu akhir-akhir ini," tulis Gates. Ia menambahkan, kutipan itu memengaruhi keputusannya untuk bergerak lebih cepat dalam donasinya.

"Saya berharap orang kaya lainnya mempertimbangkan seberapa besar mereka dapat mempercepat kemajuan bagi orang-orang termiskin di dunia jika mereka meningkatkan kecepatan dan skala pemberian mereka, karena itu adalah cara yang sangat berdampak untuk memberi kembali kepada masyarakat," imbuhnya.

Gates pada dasarnya adalah orang yang optimis, mengharapkan banyak kondisi global membaik dalam beberapa dekade mendatang, sebagian besar karena kemajuan dalam teknologi dan perawatan kesehatan, katanya kepada The New York Times pada Kamis (8/5/2025).

Setidaknya sebagian dari kemajuan itu, katanya, dapat didorong oleh peningkatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) yang cepat. "Saya pikir objektif untuk mengatakan kepada Anda bahwa segala sesuatunya akan lebih baik dalam 20 tahun ke depan," kata Gates.

Namun, ia juga mencatat dirinya masih cenderung melakukan kegiatan filantropi jika ia tidak merasa optimis.

"Katakanlah seseorang meyakinkan saya sebaliknya. Apa yang akan saya lakukan? Membeli beberapa perahu atau semacamnya? Berjudi? Uang ini harus dikembalikan ke masyarakat dengan cara yang paling memungkinkan untuk menghasilkan sesuatu yang positif," lanjut dia.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 47 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 49 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia