Tantangan Fundamental Perdagangan Global di Tengah Ancaman Tarif
SEOGWIPO, investor.id – Pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) mengadopsi pernyataan yang isinya mengutip tantangan-tantangan fundamental yang dihadapi sistem perdagangan global. Namun dalam pertemuan itu mereka tidak membahas respons bersama atas tarif AS.
Seperti diberitakan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenakan tarif besar-besaran terhadap separuh dari 21 anggota blok APEC, yang melampaui batas minimum 10%.
“Kami prihatin dengan tantangan-tantangan fundamental yang dihadapi oleh sistem perdagangan global,” demikian bunyi pernyataan bersama para anggota APEC, yang dilansir Reuters pada Jumat (16/05/2025).
Mereka juga mengatakan tetap berkomitmen pada APEC sebagai forum utama untuk kerja sama ekonomi regional dan mengatasi tantangan-tantangan ekonomi yang dihadapi kawasan Asia-Pasifik.
Pernyataan tersebut sekaligus menyatakan dukungan terhadap kelanjutan peran Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), sembari mencatat kekurangan-kekurangannya.
“Kami mengakui pentingnya WTO untuk memajukan isu-isu perdagangan, dan mengakui aturan-aturan yang telah disepakati dalam WTO sebagai bagian integral dari sistem perdagangan global. WTO memiliki tantangan dan membutuhkan reformasi yang berarti, penting, dan komprehensif untuk meningkatkan semua fungsinya, melalui pendekatan-pendekatan yang inovatif, agar lebih relevan dan responsif terhadap realitas saat ini,” katanya.
Sementara, pemerintahan Trump memandang WTO sebagai sebuah badan yang memungkinkan Cina untuk mendapatkan keuntungan ekspor yang tidak adil. Oleh karenanya AS baru-baru ini menghentikan sementara pendanaan untuk WTO.
Menanggapi pernyataan bersama yang dirilis APEC, Kim Yong Jin, seorang profesor manajemen di Sogang University, mengatakan bahwa itu mencerminkan klaim AS yang dirugikan di bawah WTO, dan hal ini perlu diperbaiki.
APEC juga sempat memperingatkan di awal pertemuan bahwa tarif AS bakal membuat ekspor di wilayah – yang menyumbang sekitar setengah dari perdagangan dunia – melambat tajam tahun ini.
Pada Jumat pagi, beberapa diplomat tinggi dari negara-negara anggota sempat mengungkapkan keraguan bahwa APEC dapat mengadopsi pernyataan bersama. Meski demikian, mereka mengatakan jika Menteri Perdagangan Korea Selatan, Cheong In-kyo, telah berusaha keras untuk mencapai konsensus.
"Ada momentum baru yang tercipta melalui pertemuan-pertemuan ini untuk mengatasi situasi yang sulit, karena APEC mendesak upaya trans-regional untuk menerobos ketidakpastian yang melanda ekonomi global," kata Cheong dalam konferensi pers.
Adopsi pernyataan bersama ini menyusul kegagalan dalam mencapai komunike bersama saat pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 di Cape Town pada Februari 2025, setelah para pejabat tinggi dari beberapa negara, termasuk (AS), tidak hadir dalam pertemuan tersebut.
Ditambahkan oleh Cheong, tidak ada diskusi resmi seputar tanggapan bersama terhadap tarif AS.
“Namun, dari sudut pandang kami, sulit untuk merespons secara bersama-sama karena setiap negara berada dalam situasi yang sama sekali berbeda,” tambahnya.
Pertemuan Bilateral
Bagi banyak negara anggota, kehadiran Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, meningkatkan taruhan konferensi yang diselenggarakan di Pulau Jeju, Korea Selatan, menjelang pertemuan puncak para pemimpin yang dijadwalkan akhir tahun ini.
Menurut para pejabat negara tuan rumah, di hari pertama cukup banyak perwakilan yang hadir meminta atau mengupayakan pertemuan dengan Greer. Greer sendiri menggelar pertemuan dengan Wakil Menteri Perdagangan China Li Chenggang pada Kamis (15/05/2025), kurang dari seminggu setelah pembicaraan tatap muka pertama di Jenewa, Swiss pada 10-11 Mei, di mana mereka sepakat menurunkan tarif secara signifikan selama 90 hari.
Juru bicara Kementerian Perdagangan China, He Yongqian menyampaikan dalam konferensi pers bahwa China selalu terbuka untuk menyelesaikan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan AS melalui komunikasi offline, tetapi tidak memberikan rincian tentang substansi pembicaraan terbaru.
Mengutip pernyataan dari kementerian, Li mengatakan pada pertemuan APEC bahwa dalam beberapa tahun terakhir masing-masing negara telah menerapkan tarif resiprokal, dan memprovokasi gesekan perdagangan global. Ia juga menambahkan, banyak mitra dagang menyatakan ketidakpuasan dan penolakan yang jelas.
Selain dengan Li, Greer juga bertemu dengan Cheong selang tiga minggu setelah pembicaraan perdagangan antara Kores Selatan (Korsel) dan AS, serta rekan-rekannya dari Malaysia dan Taiwan. Yang mana menghasilkan optimistis bahwa pembicaraan lebih lanjut akan menghasilkan penurunan tarif.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler

