Trump Gemparkan Perdagangan Global Hanya dengan 6 Bulan Jadi Presiden
12 Jul 2025 | 10:20 WIB
JAKARTA, investor.id — Enam bulan setelah kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengguncang tatanan perdagangan global. Lewat kebijakan tarif yang berubah-ubah dan sering diumumkan secara sepihak lewat media sosial, negara-negara mitra dagang kini dilanda ketidakpastian yang serius.
Selain mengubah tenggat waktu secara tiba-tiba, Donald Trump juga kerap membatalkan negosiasi di saat-saat terakhir, bahkan menambahkan isu-isu non ekonomi ke dalam agenda perdagangan, seperti kritik terhadap perlakuan Brasil terhadap mantan presidennya Jair Bolsonaro atau penyelundupan fentanil dari Kanada.
Alih-alih mempercepat kesepakatan, Gedung Putih justru menyebar puluhan surat bernada tegas kepada negara mitra dagang, menetapkan tarif antara 20% hingga 50% yang akan berlaku mulai 1 Agustus 2025. Ironisnya, banyak negara baru mengetahui tarif tersebut dari unggahan Trump di media sosial.
“Kami merasa seperti berjalan dalam labirin dan akhirnya kembali ke titik awal,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai bertemu dengan pejabat AS di Washington, Rabu (9/7/2025).
Airlangga mengaku terkejut karena Indonesia tetap dikenai tarif 32%, sama seperti yang diumumkan pada April, meski negosiasi selama ini dianggap berjalan positif.
Namun, dengan proses negosiasi yang sarat drama dan keputusan yang bisa berubah sewaktu-waktu, satu hal yang pasti: ketidakpastian masih akan terus membayangi perdagangan global. “Keputusan ada di tangan POTUS (Presiden AS),” kata Airlangga.
Kekacauan ini menghambat negara dan perusahaan untuk menyusun strategi jangka panjang. “Kita masih jauh dari kata sepakat,” kata Kepala Ekonom Makro Global ING di Jerman Carsten Brzeski sembari menyebut ketidakpastian ini sebagai ‘racun’ bagi ekonomi global.
Para mitra kini berlomba melobi Washington untuk menurunkan angka tarif yang dinilai tidak masuk akal. Namun, Trump berulang kali memberi sinyal bahwa ruang negosiasi sangat terbatas. “Semua negara dapat surat dengan isi yang sama. Ini seperti template,” ujar penasihat Menteri Keuangan Thailand Supavud Saicheua sembari mengatakan Tarif 36% untuk Thailand dihitung dengan rumus yang tidak pernah didengar sebelumnya.
Kesepakatan Berubah Sekejap
Kendati beberapa negara sudah menjalin kesepakatan awal, semua bisa berubah dalam sekejap. Vietnam, misalnya, awalnya mencapai kesepakatan tarif 20%-40% untuk produk-produk tertentu, namun Trump secara sepihak mengubah isi perjanjian setelah berbicara dengan Sekretaris Jenderal Vietnam, To Lam.
Tiga sumber menyatakan pemerintah Vietnam belum menyetujui angka-angka tarif itu, dan negosiasi masih berlanjut. Bahkan belum ada pernyataan resmi bersama dari kedua negara.
Sementara itu, Kanada sempat hampir mencapai kesepakatan, namun negosiasi terganggu akibat rencana pajak layanan digital yang dikenakan pada perusahaan teknologi AS. Setelah Trump menekan, Kanada pun mencabut rencana pajak tersebut, hanya untuk kembali diberi tarif 35% lewat surat yang diterima Kamis (10/7/2025).
Kejutan juga datang untuk Brasil. Trump tiba-tiba mengumumkan tarif 50% bagi Negeri Samba sebagai bentuk protes atas perlakuan terhadap Bolsonaro. Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva langsung menanggapi dengan mengatakan Brasil adalah negara berdaulat yang tidak bisa diperlakukan seenaknya.
India juga tak luput dari ancaman. Trump menyatakan dalam pertemuan pekan ini bahwa seluruh impor produk farmasi akan dikenai tarif “sangat tinggi, mungkin 200%” setelah satu tahun. Ini bisa menjadi pukulan telak, mengingat ekspor farmasi India ke AS mencapai hampir US$ 30 miliar tahun lalu.
Di sisi lain, Uni Eropa, mitra dagang terbesar AS, masih menunggu nasib. Negosiasi masih berlangsung dengan rencana tarif dasar 10% dan imbal balik berupa peningkatan investasi di AS. Namun para pejabat Eropa tahu betul, semua bisa berantakan dalam sekejap. “Ini seperti operasi darurat yang berjalan terus menerus,” ujar Andrew Small, peneliti senior di German Marshall Fund.
Juru bicara Gedung Putih Kush Desa mengklaim, banyak negara masih mau memberi konsesi demi menjaga akses ke pasar AS. “Amerika adalah pasar konsumen terbaik di dunia. Kami memegang kartu truf,” katanya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






