Jumat, 15 Mei 2026

Gaya Memerintah Trump Bak Pedagang Jadi Ancaman Ekonomi RI

Penulis : Investor.id
12 Jul 2025 | 13:47 WIB
BAGIKAN
Donald Trump saat ini dinominasikan sebagai penerima Nobel Perdamaian. (Sumber: YouTube)
Donald Trump saat ini dinominasikan sebagai penerima Nobel Perdamaian. (Sumber: YouTube)

JAKARTA, investor.id – Gaya memerintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai bukan seperti negarawan, melainkan lebih menyerupai seorang pedagang. Hal ini membawa risiko tinggi di pasar yang kacau dan bisa menjadi ancaman bagi ekonomi Indonesia.

“Pendekatannya dikenal sebagai teori orang gila (madman theory), mengandalkan ketidakpastian untuk memaksakan hasil yang diinginkan. Namun, ketika kekacauan menjadi gaya utama dalam kepemimpinan, dunia tidak lagi takut, melainkan bingung, waspada, bahkan lumpuh,” ungkap peneliti dari Hubungan Internasional dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ara Trista Larasati

Dalam tulisannya berjudul “Donald Trump: The Madman Theory in Practice” Ara Trista yang kini sedang menempuh pendidikan Magister Manajemen Bisnis Global di Monash University secara detail menggambarkan gaya Trump memimpin AS.

ADVERTISEMENT

“Kebijakan tanpa prosedur didasari insting, media dosial, dan telepon mendadak. Pada tahun 2025, banyak negara dari Jakarta hingga Brussel mengalami kejutan akibat kebijakan sepihak Amerika Serikat, yaitu tarif impor tiba-tiba yang melambung tinggi,” tukasnya.

Ara menggambarkan pendekatan Trump dalam pengambilan kebijakan seperti:

  •  Panggilan telepon tak terjadwal dari Presiden Trump langsung ke pemimpin negara.
  • Pengumuman kebijakan lewat Truth Social, media sosial milik Trump.
  • Pembatalan kesepakatan formal hanya dengan satu unggahan.
  • Diplomasi berubah menjadi permainan untung-untungan, bergantung pada suasana hati, intuisi, atau status media sosial sang presiden.

Gaya Trump ini dikeluhkan pada pejabat tinggi Eropa. “Anda tidak bisa membangun aliansi hanya berdasarkan tebakan," ujar Wakil Presiden Komisi Eropa Maroš Šefčovič.

“Setiap kali kami merasa telah mencapai kesepakatan, dia mengubah target,” ungkap pejabat senior Uni Eropa (UE) itu.

Mungkin Vietnam menjadi contoh nyata dari gaya memerintah Trump ini. Awalnya negara Asia Tenggara itu percaya tarif ekspornya ke AS akan dipertahankan pada angka 11%. Namun setelah Trump melakukan panggilan pribadi kepada Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, yang tidak terlibat dalam negosiasi perdagangan, tarif tiba-tiba naik menjadi 20%, bahkan 40% untuk produk yang dicurigai berasal dari China.

Kejutan Tarif Impor

Terkait tarif impor Trump 2025 yang berlaku Agustus mendatang, banyak negara dibuat terkejut, termasuk Indonesia yang terkena potongan 32%. “Indonesia juga tak luput dari imbas. Meski menjadi mitra dagang ramah dan memberikan tarif rendah untuk produk AS, ekspor Indonesia justru dikenai tarif 32%,” ungkap Ara.

Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, sektor-sektor terdampak meliputi:

  • Minyak sawit (Indonesia memasok 85% dari total impor AS).
  • Elektronik dan komponen.
  • Tekstil dan garmen.
  • Produk berbahan dasar karet.
  • Alas kaki

Indonesia bahkan telah menawarkan tarif mendekati nol bagi produk asal AS.

“Risiko tarif Trump untuk Indonesia membuat proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) direvisi turun dari 5,2% menjadi 4,7%-5,0%, kemudian risiko PHK massal pada sektor ekspor tekstil, kelapa sawit, karet,” beber Ara.

Ia menjelaskan, fenomena ini dijuluki para pelaku pasar sebagai TACO (Trump Always Changes Outcome alias Trump Selalu Menghindar). “Trump kerap mengumumkan kebijakan ekstrem, lalu membatalkannya secara bertahap. Namun, meski akhirnya dibatalkan, dampaknya nyata ekonomi AS dan Indonesia sama-sama terpukul,” ucap dia.

Dampaknya nyata dari TACO ini membuat pasar menjadi volatilitas, investasi tertunda hingga diplomasi yang lumpuh. “Tulisan ini bukanlah serangan pribadi terhadap Donald Trump, tetapi kritik terhadap pendekatan kebijakan yang berdampak luas. Ketika kepemimpinan dijalankan berdasarkan ego, kejutan, dan insting alih-alih struktur dan diplomasi, maka bukan musuh yang paling menderita, melainkan mitra,” pungkas Ara.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia