Jumat, 15 Mei 2026

Strategi Kekacauan Trump Rugikan Saingan Maupun Sekutunya

Penulis : Ara Trista Larasati *)
12 Jul 2025 | 15:24 WIB
BAGIKAN
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpidato di sebuah acara untuk promosi kebijakan dalam negeri dan agenda anggarannya di Ruang Timur Gedung Putih, Kamis, 26 Juni 2025 di Washington, AS. (Foto: AP/Mark Schiefelbein)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpidato di sebuah acara untuk promosi kebijakan dalam negeri dan agenda anggarannya di Ruang Timur Gedung Putih, Kamis, 26 Juni 2025 di Washington, AS. (Foto: AP/Mark Schiefelbein)

JAKARTA, investor.id – Di Indonesia, seperti di banyak ibu kota dunia, para pembuat kebijakan ekonomi kini bergulat tidak hanya dengan fluktuasi pasar tetapi juga fluktuasi pesan dari Amerika Serikat (AS). Di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump, kebijakan luar negeri dan ekonomi Amerika tampaknya kurang dipandu oleh diplomasi terstruktur, melainkan lebih oleh apa yang oleh beberapa analis disebut "Teori Orang Gila" (The Madman Theory) dalam praktiknya.

Trump memerintah bukan seperti negarawan, melainkan seperti pedagang berisiko tinggi di kios pasar yang ramai. Kepemimpinan ala pasar bebas ini mengandalkan menjaga keseimbangan semua pihak melalui ketidakpastian, tarif yang mengejutkan, panggilan telepon antar-pemimpin yang tidak terjadwal, dan pengumuman spontan melalui platform media sosialnya, Truth Social. Namun, apa yang tampak sebagai kekuatan di permukaan seringkali berujung pada kelumpuhan dan kerugian ekonomi bagi mitra-mitra Amerika.

Ekonomi Global di Ujung Tanduk

ADVERTISEMENT

Tahun 2025 telah menghadirkan serangkaian langkah disruptif dari AS. Berbagai negara seperti Jakarta hingga Belgia telah menghadapi:

  • Tarif impor mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  • Pembatalan perjanjian perdagangan secara tiba-tiba.
  • Unggahan media sosial yang mengguncang pasar dan panggilan pribadi tak terduga dari presiden AS.
  • Ketidakpastian ini memiliki konsekuensi nyata. Arus investasi terhenti. Perusahaan-perusahaan menahan ekspansi.

Pemerintah menjadi kurang bersedia bernegosiasi dengan itikad baik ketika kesepakatan dapat dibatalkan dalam semalam.

Indonesia: Kemiitraan yang Dirusak

Indonesia, meskipun secara historis memiliki hubungan yang bersahabat dengan AS, tidak luput dari dampaknya. Jakarta kini menghadapi tarif sebesar 32% untuk ekspor utama ke AS, yang berdampak pada minyak sawit, elektronik, tekstil, barang dari karet, dan alas kaki. Sektor-sektor ini merupakan tulang punggung ekonomi ekspor Indonesia.

Hal ini sangat meresahkan mengingat Indonesia secara proaktif telah menawarkan konsesi yang signifikan kepada AS:

  • Tarif hampir nol untuk barang-barang AS yang masuk ke Indonesia.
  • Perjanjian pembelian produk AS senilai US$ 34 miliar.
  • Akses ke mineral penting seperti nikel, tembaga, dan kobalt.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah memimpin negosiasi, tetapi dalam situasi saat ini, mengamankan kesepakatan yang stabil dengan Washington seperti mencoba mencapai target yang terus bergerak.

Pelajaran dari Vietnam: Langkah-Langkah Unilateral

Vietnam memberikan contoh nyata lainnya. Karena yakin telah mencapai kesepakatan untuk mempertahankan tarif AS di angka 11%, Hanoi terkejut ketika Trump secara pribadi menghubungi Sekretaris Jenderal Vietnam, Tô Lâm—seseorang di luar perundingan perdagangan formal—dan secara sepihak memberlakukan tarif dasar sebesar 20%, yang meningkat menjadi 40% untuk barang-barang yang diduga merupakan produk ekspor ulang China.

Tidak ada jalur diplomatik formal yang digunakan. Tidak ada peringatan yang diberikan. Dampaknya langsung terasa: volatilitas pasar dan guncangan diplomatik.

Meretakkan Kepercayaan di Seluruh Dunia

Situasi serupa sedang terjadi di Eropa. Uni Eropa, yang menghadapi tarif setinggi 50% untuk produk otomotif, baja, dan farmasi, telah menyatakan rasa frustrasi yang semakin meningkat. "Anda tidak dapat membangun aliansi berdasarkan tebakan," kata Maroš Šefčovič, Wakil Presiden Komisi Eropa. Seorang pejabat senior Uni Eropa merangkum suasana tersebut: "Setiap kali kami merasa telah mencapai kesepakatan, ia mengubah arah tujuan," katanya.

Di Asia Tenggara, Thailand dan Malaysia juga melaporkan menerima surat tarif mendadak tanpa konsultasi terlebih dahulu, yang memicu kepanikan di antara kementerian ekonomi. Erosi kepercayaan ini tidak mudah diperbaiki.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia