Strategi Kekacauan Trump Rugikan Saingan Maupun Sekutunya
JAKARTA, investor.id – Di Indonesia, seperti di banyak ibu kota dunia, para pembuat kebijakan ekonomi kini bergulat tidak hanya dengan fluktuasi pasar tetapi juga fluktuasi pesan dari Amerika Serikat (AS). Di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump, kebijakan luar negeri dan ekonomi Amerika tampaknya kurang dipandu oleh diplomasi terstruktur, melainkan lebih oleh apa yang oleh beberapa analis disebut "Teori Orang Gila" (The Madman Theory) dalam praktiknya.
Trump memerintah bukan seperti negarawan, melainkan seperti pedagang berisiko tinggi di kios pasar yang ramai. Kepemimpinan ala pasar bebas ini mengandalkan menjaga keseimbangan semua pihak melalui ketidakpastian, tarif yang mengejutkan, panggilan telepon antar-pemimpin yang tidak terjadwal, dan pengumuman spontan melalui platform media sosialnya, Truth Social. Namun, apa yang tampak sebagai kekuatan di permukaan seringkali berujung pada kelumpuhan dan kerugian ekonomi bagi mitra-mitra Amerika.
Ekonomi Global di Ujung Tanduk
Tahun 2025 telah menghadirkan serangkaian langkah disruptif dari AS. Berbagai negara seperti Jakarta hingga Belgia telah menghadapi:
- Tarif impor mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya.
- Pembatalan perjanjian perdagangan secara tiba-tiba.
- Unggahan media sosial yang mengguncang pasar dan panggilan pribadi tak terduga dari presiden AS.
- Ketidakpastian ini memiliki konsekuensi nyata. Arus investasi terhenti. Perusahaan-perusahaan menahan ekspansi.
Pemerintah menjadi kurang bersedia bernegosiasi dengan itikad baik ketika kesepakatan dapat dibatalkan dalam semalam.
Indonesia: Kemiitraan yang Dirusak
Indonesia, meskipun secara historis memiliki hubungan yang bersahabat dengan AS, tidak luput dari dampaknya. Jakarta kini menghadapi tarif sebesar 32% untuk ekspor utama ke AS, yang berdampak pada minyak sawit, elektronik, tekstil, barang dari karet, dan alas kaki. Sektor-sektor ini merupakan tulang punggung ekonomi ekspor Indonesia.
Hal ini sangat meresahkan mengingat Indonesia secara proaktif telah menawarkan konsesi yang signifikan kepada AS:
- Tarif hampir nol untuk barang-barang AS yang masuk ke Indonesia.
- Perjanjian pembelian produk AS senilai US$ 34 miliar.
- Akses ke mineral penting seperti nikel, tembaga, dan kobalt.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah memimpin negosiasi, tetapi dalam situasi saat ini, mengamankan kesepakatan yang stabil dengan Washington seperti mencoba mencapai target yang terus bergerak.
Pelajaran dari Vietnam: Langkah-Langkah Unilateral
Vietnam memberikan contoh nyata lainnya. Karena yakin telah mencapai kesepakatan untuk mempertahankan tarif AS di angka 11%, Hanoi terkejut ketika Trump secara pribadi menghubungi Sekretaris Jenderal Vietnam, Tô Lâm—seseorang di luar perundingan perdagangan formal—dan secara sepihak memberlakukan tarif dasar sebesar 20%, yang meningkat menjadi 40% untuk barang-barang yang diduga merupakan produk ekspor ulang China.
Tidak ada jalur diplomatik formal yang digunakan. Tidak ada peringatan yang diberikan. Dampaknya langsung terasa: volatilitas pasar dan guncangan diplomatik.
Meretakkan Kepercayaan di Seluruh Dunia
Situasi serupa sedang terjadi di Eropa. Uni Eropa, yang menghadapi tarif setinggi 50% untuk produk otomotif, baja, dan farmasi, telah menyatakan rasa frustrasi yang semakin meningkat. "Anda tidak dapat membangun aliansi berdasarkan tebakan," kata Maroš Šefčovič, Wakil Presiden Komisi Eropa. Seorang pejabat senior Uni Eropa merangkum suasana tersebut: "Setiap kali kami merasa telah mencapai kesepakatan, ia mengubah arah tujuan," katanya.
Di Asia Tenggara, Thailand dan Malaysia juga melaporkan menerima surat tarif mendadak tanpa konsultasi terlebih dahulu, yang memicu kepanikan di antara kementerian ekonomi. Erosi kepercayaan ini tidak mudah diperbaiki.
TACO: Trump Selalu Menghindar
Di kalangan pelaku pasar, ada istilah informal untuk perilaku ini: TACO atau "Trump Selalu Menghindar". Istilah ini menggambarkan pola Trump dalam mengumumkan kebijakan ekstrem hanya untuk kemudian secara bertahap membalikkannya. Namun, kekacauan sementara pun meninggalkan luka yang berkepanjangan. Investasi tertunda. Rantai pasokan terganggu. Kepercayaan bisnis terkikis.
Ketika Kedua Pihak Kalah
Dampak ekonomi tidak terbatas pada mitra Amerika. Amerika Serikat pun menanggung akibatnya:
- OECD memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS hanya 1,6% untuk 2025, turun dari sebelumnya diperkirakan 2,2%.
- JPMorgan memperingatkan kenaikan biaya impor dapat memicu inflasi.
- Pengadilan federal AS sedang meninjau penggunaan wewenang tarif darurat oleh Trump.
Indonesia menghadapi tantangannya sendiri:
- Proyeksi PDB telah diturunkan dari 5,2% menjadi antara 4,7% dan 5,0%. Industri-industri yang berorientasi ekspor berisiko mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, terutama di sektor tekstil dan minyak sawit.
- Kekacauan Bukanlah Strategi.
- Komentar ini bukanlah serangan pribadi terhadap Donald Trump. Ini adalah kritik terhadap gaya kepemimpinan yang merusak stabilitas global, termasuk keamanan ekonomi Indonesia.
Baca Juga:
Prabowo Berniat Temui Trump Bahas TarifKetika kebijakan luar negeri didorong oleh impuls alih-alih strategi yang jelas, bukan musuh Amerika yang paling menderita -- melainkan teman dan mitranya. Indonesia, seperti banyak negara lainnya, sedang berupaya membangun ekonomi yang stabil dan mandiri. Namun ketika mitra ekonomi terbesarnya berperilaku tak terduga, upaya tersebut menjadi jauh lebih sulit.
Teori Orang Gila mungkin memberikan keuntungan jangka pendek, tetapi dalam dunia yang saling terhubung, kebingungan bukanlah kekuatan. Kekacauan bukanlah strategi. Dan pada akhirnya, baik Amerika maupun mitranya akan merugi.
*) Ara Trista Larasati adalah lulusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) dan saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Manajemen Bisnis Global di Monash University.
Pendapat yang diungkapkan sepenuhnya merupakan pendapat penulis.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






