Jumat, 15 Mei 2026

Menko Airlangga Respons Soal AS Minta Akses Tembaga Indonesia

Penulis : Bambang Ismoyo
25 Jul 2025 | 12:42 WIB
BAGIKAN
Seorang karyawan bekerja di Nexans, salah satu produsen kawat dan kabel terbesar di dunia, Jumat (12/4/2025), dekat Montreal, Kanada. Perusahaan ini semakin banyak mencampurkan skrap tembaga ke dalam produk-produknya. (Foto: Ryan Remiorz/ The Canadian Press via AP)
Seorang karyawan bekerja di Nexans, salah satu produsen kawat dan kabel terbesar di dunia, Jumat (12/4/2025), dekat Montreal, Kanada. Perusahaan ini semakin banyak mencampurkan skrap tembaga ke dalam produk-produknya. (Foto: Ryan Remiorz/ The Canadian Press via AP)

JAKARTA, investor.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto merespons perihal adanya ketertarikan Amerika Serikat terhadap komoditas tembaga Indonesia. Diketahui, Amerika Serikat (AS) meminta akses penuh tembaga dari Indonesia, yang disebut kualitasnya unggul.

Airlangga mengungkapkan Indonesia tentu akan menyetujui permintaan AS tersebut, asalkan mekanismenya mengikuti aturan yang berlaku di Indonesia. Dalam hal ini, tembaga yang diekspor dari Indonesia telah melalui proses hilirisasi. Bukan dalam bentuk mentah atau ore nikel.

Adapun pihak AS, melalui perusahaan Freeport, yang beroperasi di Indonesia sejak lama telah mengikuti aturan yang berlaku. Perusahaan tersebut melakukan pembangunan fasilitas pemurnian mineral atau smelter. Dengan demikian, Freeport kini tak lagi mengirim material mentah ke luar Indonesia.

ADVERTISEMENT

"Jadi kita bicara critical mineral itu bagian dari industrial komoditas. Jadi formatnya bukan ore, tetapi sebagai industrial produk. Dan ini sudah dilakukan oleh Amerika sejak tahun 1967. Oleh karena itu Presiden Amerika menyebut Indonesia kuat di copper," ungkap Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta (25/7/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga mengungkapkan pihak Indonesia melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) siap berkolaborasi untuk membangun ekosistem mineral kritis, baik di Indonesia maupun Amerika Serikat. Adapun Danantara disebut telah melakukan komunikasi dengan US Development Finance Corporation.

"Selanjutnya juga sudah ada pembicaraan antara Danantara dengan Development Finance Corporation untuk membiayai investasi ekosistem di bidang mineral," tandasnya.

Sebagai informasi, pemerintah Indonesia bersama AS telah sepakat terkait negosiasi tarif dari yang semula 32% kini menjadi 19%.

Kesepakatan ini terjadi setelah pemerintah Indonesia memberikan sejumlah penawaran. Seperti pembelian produk energi hingga pertanian yang jumlahnya US$ 19,5 miliar.

Selain itu, salah satu kesepakatan lainnya adalah AS menginginkan produk tembaga dari Indonesia yang disebut memiliki kualitas tinggi. Pemerintah AS juga mengaku menginginkan akses dan jumlah yang lebih baik.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia