Jumat, 15 Mei 2026

Gaza Kehabisan Makanan Khusus Anak Gizi Buruk

Penulis : Happy Amanda Amalia
26 Jul 2025 | 16:54 WIB
BAGIKAN
Yazan Abu Ful, seorang anak berusia 2 tahun yang menderita malnutrisi, berada di rumah keluarganya di kamp pengungsian Shati, di Gaza City pada Rabu (23/07/2025). (AP Photo/Jehad Alshrafi)
Yazan Abu Ful, seorang anak berusia 2 tahun yang menderita malnutrisi, berada di rumah keluarganya di kamp pengungsian Shati, di Gaza City pada Rabu (23/07/2025). (AP Photo/Jehad Alshrafi)

JENEWA, investor.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga-lembaga kemanusiaan mengatakan bahwa Gaza sedang berada di ambang kehabisan makanan terapeutik khusus untuk anak-anak gizi buruk. Jenis makanan ini dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa anak-anak yang mengalami malnutrisi parah.

Menurut Unicef, persediaan Makanan Terapeutik Siap Pakai atau Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF) yang penting ini diprediksi habis pada pertengahan Agustus 2025, jika tidak ada perubahan.

“Kami sekarang menghadapi situasi yang mengerikan, kami kehabisan persediaan makanan terapeutik. Hal ini sangat berbahaya bagi anak-anak karena mereka menghadapi kelaparan dan kekurangan gizi saat ini,” ujar Salim Oweis, juru bicara Unicef di Amman, Yordania kepada Reuters pada Kamis (24/07/2025).

Menurut Oweis, Unicef hanya memiliki sisa RUTF yang cukup untuk merawat 3.000 anak. Dalam dua minggu pertama pada Juli 2025 saja, Unicef telah merawat 5.000 anak yang mengalami malnutrisi akut di Gaza.

ADVERTISEMENT

Sebagai informasi, persediaan RUTF yang padat gizi dan berkalori tinggi, seperti biskuit berenergi tinggi dan pasta kacang tanah yang diperkaya dengan susu bubuk, sangat penting untuk mengobati malnutrisi yang parah.

“Sebagian besar persediaan pengobatan malnutrisi telah dikonsumsi dan apa yang tersisa di fasilitas-fasilitas akan segera habis jika tidak diisi ulang,” kata juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis.

Diungkapkan oleh WHO bahwa ada program di Gaza yang bertujuan mencegah malnutrisi di antara mereka yang paling rentan – termasuk wanita hamil dan anak-anak balita – yang kemungkinan berhenti beroperasi akibat kehabisan suplemen gizi.

Stok makanan di Gaza sendiri telah menipis sejak Israel memutus semua pasokan ke wilayah tersebut pada Maret 2025, dan kemudian mencabut blokade pada Mei yang disertai pembatasan guna mencegah bantuan dialihkan ke kelompok-kelompok militan.

Akibatnya, hanya sedikit bantuan, termasuk obat-obatan yang dibutuhkan, yang saat ini sampai ke tangan warga Gaza.

Di sisi lain, Israel mengaku berkomitmen mengizinkan masuknya bantuan, namun harus mengontrolnya agar tidak diselewengkan oleh para militan. Menurut Israel, pihaknya sudah mengizinkan cukup banyak makanan masuk ke Gaza selama perang, dan menyalahkan Hamas atas penderitaan 2,2 juta penduduk Gaza.

COGAT, badan koordinasi bantuan militer Israel, menanggapi pertanyaan mengenai pasokan RUTF mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan organisasi internasional untuk meningkatkan distribusi bantuan dari tempat penyeberangan di mana ratusan truk bantuan menunggu.

Malnutrisi Akut Parah

Sementara Save the Children, yang mengelola sebuah klinik tempat merawat sejumlah anak-anak yang mengalami kekurangan gizi di Gaza tengah, menyampaikan tidak dapat membawa pasokannya sendiri sejak Februari 2025 dan bergantung pada pengiriman dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Jika mereka kehabisan, hal itu juga akan berdampak pada mitra Unicef dan organisasi lain yang bergantung pada persediaan mereka untuk menyediakannya bagi anak-anak,” tutur Kepala Global Kebijakan Kemanusiaan dan Advokasi Save the Children, Alexandra Saieh.

Menurut Unicef, dari April 2025 hingga pertengahan Juli 2025, sebanyak 20.504 anak dirawat karena malnutrisi akut. Dari jumlah tersebut, 3.247 anak menderita malnutrisi akut yang parah, hampir tiga kali lipat lebih banyak dari tiga bulan pertama tahun ini.

Malnutrisi akut yang parah dapat menyebabkan kematian, serta masalah kesehatan fisik dan mental jangka panjang pada anak-anak yang bertahan hidup.

WHO mengatakan pada Rabu bahwa 21 anak di bawah usia lima tahun, termasuk di antara mereka yang meninggal karena kekurangan gizi sepanjang tahun ini.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan pada Kamis, dua orang Palestina lagi meninggal semalam karena kelaparan. Dengan demikian, jumlah total orang yang mati kelaparan menjadi 113 orang, sebagian besar dari mereka meninggal beberapa minggu terakhir karena gelombang kelaparan melanda daerah kantong Palestina itu.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia