Jumat, 15 Mei 2026

Tarif Trump Timbulkan Pertanyaan Tentang Pasokan China yang Mahal

Penulis : Grace El Dora
26 Jul 2025 | 22:37 WIB
BAGIKAN
Sebuah truk melewati tumpukan kontainer di Terminal Peti Kemas Internasional Jakarta (JICT) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (9/7/2025). (Foto: AP/ Tatan Syuflana)
Sebuah truk melewati tumpukan kontainer di Terminal Peti Kemas Internasional Jakarta (JICT) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (9/7/2025). (Foto: AP/ Tatan Syuflana)

JAKARTA, investor.id – Serangkaian kesepakatan dagang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini telah memberikan kejelasan bagi eksportir di Asia tentang tarif Trump. Tarif Trump menimbulkan pertanyaan tentang pasokan China yang mahal.

Pasalnya, detail penting tentang cara menghindari tarif hukuman yang menargetkan rantai pasokan China masih belum terungkap.

Trump mengumumkan tarif sebesar 20% untuk Vietnam dan 19% untuk Indonesia dan Filipina. Ini menandakan tarif tersebut kemungkinan akan disetujui AS untuk sebagian besar negara Asia Tenggara, kawasan yang mengirimkan barang senilai US$ 352 miliar (Rp 5.758,7 triliun) setiap tahun ke AS, menurut data Bloomberg internasional, Sabtu (26/7/2025).

ADVERTISEMENT

Ia juga mengancam akan menaikkan tarif hingga 40% untuk produk yang dianggap ditransshipment, atau dialihkan, melalui negara-negara tersebut. Langkah ini sebagian besar ditujukan untuk mengekang barang-barang China agar terhindar dari tarif AS yang lebih tinggi, masih belum jelas bagi para produsen.

Namun, yang masih belum jelas bagi para produsen adalah bagaimana AS akan menghitung dan menerapkan persyaratan konten lokal. Padahal, ini merupakan kunci dalam menentukan apa yang dianggap sebagai barang transshipment.

Negara-negara Asia Tenggara sangat bergantung pada komponen dan bahan baku China, sementara perusahaan-perusahaan AS yang bersumber dari kawasan tersebut akan menanggung dampak tarif tambahan.

Hal ini membuat perusahaan, investor, dan ekonom menghadapi beberapa pertanyaan yang belum terjawab tentang tarif Trump yang tampaknya bertujuan untuk menekan konten China, menurut Deborah Elms selaku kepala kebijakan perdagangan di Hinrich Foundation di Singapura.

"Apakah itu bahan baku? Semua bahan baku? Di atas persentase tertentu? Bagaimana dengan suku cadang? Bagaimana dengan tenaga kerja atau jasa? Bagaimana dengan investasi?" tanyanya.

Dalam perjanjian dengan Indonesia pekan lalu, Gedung Putih mengatakan kedua negara akan menegosiasikan "aturan asal" untuk memastikan negara ketiga tidak akan diuntungkan. Kesepakatan dengan Vietnam awal bulan ini menguraikan tarif Trump sebesar 40% yang lebih tinggi untuk barang-barang yang diangkut melalui laut.

Para pejabat Thailand, yang belum mencapai kesepakatan, merinci soal kemungkinan perlu meningkatkan konten lokal dalam ekspor ke AS.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia