Tarif Trump Timbulkan Pertanyaan Tentang Pasokan China yang Mahal
Rincian yang Hilang
Pemerintahan Trump tidak memberikan banyak kejelasan tentang masalah ini saat ini. Para pejabat AS masih membahas detail dengan mitra dagang dan meninjau persyaratan konten lokal berbasis nilai untuk memastikan ekspor lebih dari sekadar komponen impor yang dirakit, menurut seseorang yang mengetahui masalah ini, yang tidak ingin disebutkan namanya saat membahas pembicaraan tertutup.
Seorang pejabat senior pemerintahan Trump juga mengatakan minggu ini bahwa detail tentang pendekatan transshipment diperkirakan akan dirilis sebelum 1 Agustus 2025, batas waktu penerapan tarif AS yang lebih tinggi.
Beberapa pabrik telah menyesuaikan rantai pasokan mereka untuk mematuhi aturan yang mewajibkan lebih banyak komponen buatan lokal dalam produksi.
Frank Deng selaku eksekutif di perusahaan eksportir furnitur yang berbasis di Shanghai dan beroperasi di Vietnam menyampaikan komentarnya soal hal ini. Menurut Deng, perusahaannya sedang melakukan penyesuaian karena pihak berwenang tampaknya lebih ketat menegakkan aturan negara asal. Adapun perusahaannya mendapatkan sekitar 80% bisnis dari AS.
Bagi sebagian besar Asia Tenggara, mengurangi jumlah komponen buatan China dalam manufaktur akan membutuhkan perombakan total rantai pasokan. Perkiraan dari Eurasia Group menunjukkan komponen asal China menyumbang sekitar 60% hingga 70% ekspor dari Asia Tenggara, terutama input industri yang digunakan dalam perakitan manufaktur.
Sekitar 15% ekspor kawasan ini kini ditujukan ke AS, naik sekitar empat poin persentase dari 2018.
Konten Lokal
Pemerintah AS semakin waspada terhadap kemampuan pemerintah China untuk menghindari tarif perdagangan AS dan pembatasan lainnya melalui negara ketiga sejak perang dagang pertama Trump pada 2017.
Pihak Thailand mengisyaratkan rasa frustrasinya atas kurangnya kejelasan tentang berapa banyak konten lokal yang dibutuhkan dalam barang yang diekspor ke AS untuk menghindari tarif transshipment, tetapi mencatat jumlahnya kemungkinan akan jauh lebih tinggi daripada ukuran tradisional sebesar 40%.
"Dari apa yang kami dengar, persentase yang dibutuhkan bisa jauh lebih tinggi, mungkin 60%, 70%, atau bahkan 80%," ungkap Wakil Perdana Menteri Pichai Chunhavajira pada 14 Juli 2025.
"Negara-negara berkembang atau basis produksi baru jelas berada pada posisi yang kurang menguntungkan," ujarnya, karena kemampuan manufaktur mereka masih dalam tahap awal dan harus bergantung pada negara lain untuk bahan baku.
Vietnam, Thailand, dan Malaysia telah mengambil langkah tahun ini untuk mengatasi kekhawatiran Trump. Otoritasnya meningkatkan pengawasan perdagangan yang melewati pelabuhan mereka, termasuk kebijakan aturan asal baru yang memusatkan pemrosesan dan menjatuhkan sanksi berat kepada transshipper.
Negara-negara berkembang mungkin masih kesulitan untuk menegakkan aturan Trump atau mematuhi aturan tersebut jika itu berarti harus melawan China, mitra dagang terbesar dan mitra geopolitik mereka.
"Kenyataannya, hal itu sama sekali tidak dapat ditegakkan. Perusahaan-perusahaan China punya berbagai cara untuk mengakalinya, sementara negara-negara lain tidak punya insentif untuk menegakkan langkah-langkah tersebut, atau kapasitas untuk mengumpulkan data dan menentukan konten lokal," sebut Dan Wang selaku direktur China di Eurasia Group.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






