AS Tekan Negara yang Beli Minyak Rusia, Siapa Saja?
WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menekan negara yang beli minyak Rusia. Saat ini, Presiden AS Donald Trump telah mendesak pemerintah China dan India untuk berhenti membeli minyak dari Rusia.
Menurut Trump, perdagangan dengan negara itu akan membantu mendanai perang Kremlin di Ukraina. Seperti dikutip Associated Press pada Kamis (7/8/2025), Trump mengangkat isu ini saat ia berupaya menekan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyetujui gencatan senjata.
Namun, minyak Rusia yang murah menguntungkan kilang-kilang di negara-negara tersebut serta memenuhi kebutuhan energi mereka. Negara-negara ini tidak menunjukkan keinginan untuk menghentikan perdagangan dengan Rusia. Siapa saja mereka?
Tiga Negara Pembeli Utama Minyak Rusia
Pemerintah China, India, dan Turki adalah penerima minyak terbesar yang sebelumnya dikirim ke Uni Eropa (UE). Keputusan UE untuk memboikot sebagian besar minyak Rusia yang diangkut melalui laut mulai Januari 2023 menyebabkan pergeseran besar-besaran aliran minyak mentah dari Eropa ke Asia.
Sejak saat itu otoritas China telah menjadi pembeli energi Rusia nomor satu secara keseluruhan, sejak boikot UE.
Perdagangan minyak, gas, dan batu bara Rusia ke Negara Tirai Bambu itu mencapai nilai US$ 219,5 miliar (Rp 3.577,6 triliun), diikuti oleh India dengan US$ 133,4 miliar (Rp 2.174,3 triliun), dan Turki dengan US$ 90,3 miliar (Rp 1.471,8 triliun). Sebelum invasi, India mengimpor minyak Rusia relatif sedikit.
Pemerintah Hongaria mengimpor sebagian minyak Rusia melalui pipa. Hongaria adalah anggota UE, tetapi Presiden Hongaria Viktor Orban sempat mengritik sanksi terhadap Rusia.
Daya Tarik Minyak Murah
Satu alasan besar beli minyak Rusia hanya karena satu alasan, yaitu murah. Minyak Rusia diperdagangkan dengan harga yang lebih rendah daripada patokan internasional Brent. Oleh karena itu, kilang dapat meningkatkan margin keuntungan ketika mereka mengubah minyak mentah menjadi produk yang dapat digunakan seperti bahan bakar diesel.
Pendapatan Minyak Rusia Substansial Meski Ada Sanksi
Sekolah Ekonomi Kyiv mengatakan, pemerintah Rusia memperoleh US$ 12,6 miliar (Rp 205,3 triliun) dari penjualan minyak pada Juni 2025 saja. Kremlin terus memperoleh pendapatan yang substansial bahkan ketika Kelompok Tujuh (G7) negara industri terkemuka mencoba membatasi pendapatan Rusia dengan memberlakukan batasan harga minyak.
Batasan ini akan diberlakukan dengan mewajibkan perusahaan pelayaran dan asuransi untuk menolak menangani pengiriman minyak di atas batas tersebut. Rusia, sebagian besar berhasil menghindari batas tersebut dengan mengirimkan minyak menggunakan armada bayangan.
Armada ini terdiri dari kapal-kapal tua yang menggunakan perusahaan asuransi dan perusahaan dagang yang berlokasi di negara-negara yang tidak memberlakukan sanksi. Armada ini sulit dikenai sanksi internasional.
Ekspor minyak Rusia diperkirakan akan meraup pendapatan US$ 153 miliar (Rp 2.493,4 triliun) tahun ini, menurut lembaga Ukraina. Bahan bakar fosil merupakan sumber pendapatan anggaran terbesarnya. Impor tersebut mendukung mata uang rubel Rusia dan membantu Rusia membeli barang dari negara lain, termasuk senjata dan suku cadang.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






