Jumat, 15 Mei 2026

Laba Industri China Mereda di Tengah Gempuran Perang Harga

Penulis : Grace El Dora
27 Aug 2025 | 10:02 WIB
BAGIKAN
Dua petugas kebersihan sedang mengepel lantai di kompleks perkantoran Galaxy Soho di Beijing, China. (Foto: AP Photo/ Andy Wong)
Dua petugas kebersihan sedang mengepel lantai di kompleks perkantoran Galaxy Soho di Beijing, China. (Foto: AP Photo/ Andy Wong)

BEIJING, investor.id – Perusahaan-perusahaan industri China mengalami penurunan laba yang lebih lambat pada Juli 2025 di tengah gempuran perang harga. Ini menjadi tanda potensial bahwa upaya untuk mengekang kelebihan kapasitas mulai meredakan tekanan dari persaingan yang agresif antar produsen.

Laba industri turun 1,5% pada Juli 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini adalah penurunan terkecil sejak mulai menyusut pada Mei 2025, menurut data yang dirilis Rabu (27/8/2025) oleh Biro Statistik Nasional (NBS) seperti dikutip Bloomberg internasional. Selama tujuh bulan pertama tahun ini, laba industri China mengalami kontraksi 1,7%.

Laba naik jauh lebih cepat di sektor manufaktur, tumbuh 6,8% pada Juli 2025 dibandingkan tahun lalu setelah kenaikan 1,4% pada Juni 2025, kata ahli statistik Yu Weining dalam pernyataan terpisah yang menyertai rilis data tersebut. Produsen bahan baku, manufaktur baja, dan penyuling minyak bumi beralih dari kerugian menjadi laba pada bulan tersebut.

“Langkah-langkah kebijakan untuk mendorong pemulihan harga yang wajar telah diterapkan secara bertahap, mendorong profitabilitas perusahaan untuk terus pulih,” ungkap Yu.

Margin laba industrial China masih tertekan setelah permintaan domestik melemah, bahkan ketika kampanye yang dipimpin pemerintah untuk mengekang persaingan yang berlebihan mulai menghasilkan pendapatan yang lebih baik. Ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut melemah secara keseluruhan pada Juli 2025, dengan inflasi konsumen merosot ke nol sementara pertumbuhan penjualan ritel melambat.

Harga di tingkat pabrik telah menurun selama 34 bulan berturut-turut, menunjukkan deflasi yang mengakar yang dapat menghambat bisnis dan rumah tangga untuk berbelanja dan berdampak pada laba perusahaan.

Laba Industri China Mereda di Tengah Gempuran Perang Harga
Laba Industri China terkontraksi pada Juli 2025. (Sumber: NBS)

Pengiriman luar negeri ke pasar yang bukan Amerika Serikat (AS) lebih dari cukup untuk mengkompensasi penurunan pesanan dari Amerika. Namun, tolok ukur pesanan ekspor baru China turun paling cepat dalam tiga bulan, menjadi pertanda buruk bagi permintaan asing dalam beberapa bulan mendatang.

Laba industri China merupakan tolok ukur penting kesehatan keuangan pabrik, tambang, dan utilitas. Angka ini yang membentuk keputusan investasi mereka di bulan-bulan mendatang.

Sedangkan laba di sektor pertambangan terus menurun, dengan penurunan hampir 32% dari tahun ke tahun (YoY) selama tujuh bulan pertama. Perusahaan tambang batu bara dan mesin cuci tetap menjadi yang paling terpukul karena kelebihan pasokan di industri mereka.

Produsen mengalami peningkatan pendapatan selama periode Januari-Juli 2025. Beberapa produsen terus diuntungkan oleh subsidi negara yang mendorong perusahaan dan konsumen untuk mengganti peralatan dan perlengkapan rumah tangga lama dengan yang baru.

Laba di sektor manufaktur berteknologi tinggi melonjak 19% pada Juli 2025 dibandingkan tahun lalu, kata Yu, mengutip kemajuan dalam peralatan kedirgantaraan dan semikonduktor.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia