Chainalysis Sebut Transaksi Kripto dalam Sindikat Human Trafficking Melonjak 85%
NEW YORK, investor.id – Penggunaan mata uang kripto dalam jaringan perdagangan manusia (human trafficking) global mencatat rekor mengkhawatirkan. Laporan terbaru dari firma analisis blockchain, Chainalysis, mengungkapkan pembayaran kripto ke sindikat yang diduga terkait perdagangan manusia melonjak tajam hingga 85% sepanjang 2025.
Laporan tersebut menyoroti bagaimana ekosistem kriminal di Asia Tenggara menjadi pusat aktivitas ini, di mana pusat penipuan (scam compounds), perjudian daring ilegal, dan jaringan pencucian uang berbahasa Mandarin beroperasi secara terintegrasi.
Tiga Kategori Utama Kejahatan
Chainalysis membagi aktivitas kripto oleh para pelaku perdagangan manusia ke dalam tiga kategori besar, seperti dikutip CNBC internasional, Senin (16/2/2026).
- Layanan Prostitusi dan Pendamping Internasional: Jaringan terorganisir yang menawarkan paket perjalanan lintas batas dengan nilai transaksi mencapai puluhan ribu dolar.
- Agen Penyalur Tenaga Kerja dan Scam Compounds: Perekrutan ilegal untuk dipekerjakan paksa di pusat-pusat penipuan di Kamboja atau Myanmar.
- Vendor Materi Pelecehan Seksual Anak (CSAM): Penjualan konten ilegal melalui grup obrolan terenkripsi.
Migrasi ke Telegram dan Customer Service Kriminal
Analis intelijen Chainalysis Tom McLouth menjelaskan adanya pergeseran tren dari forum darknet lama ke aplikasi pesan instan seperti aplikasi perpesanan Telegram.
“Ekosistem Telegram yang semi-terbuka, dikombinasikan dengan kripto, memungkinkan jaringan ini berskala lebih cepat, menjalankan 'layanan pelanggan', dan memindahkan uang secara global dengan hambatan yang jauh lebih sedikit,” ujar McLouth seperti dikutip CNBC internasional, Senin (16/2/2026).
Meskipun digunakan untuk kejahatan, transparansi blockchain sebenarnya memberikan keuntungan bagi penegak hukum. Jejak digital yang tidak bisa dihapus memberikan visibilitas yang belum pernah ada sebelumnya bagi otoritas untuk melacak dan memutus aliran dana kriminal tersebut.
Modus Operandi: Dari Loker Palsu hingga Stablecoin
Di Asia Tenggara, modus paling umum adalah janji pekerjaan palsu sebagai "staf layanan pelanggan" dengan gaji tinggi. Namun, setibanya di lokasi, para korban dipaksa melakukan penipuan romansa (romance scams) dan investasi kripto palsu.
Untuk mencuci uang hasil kejahatan, sindikat ini sangat bergantung pada Stablecoin dan grup pencucian uang berbahasa Mandarin. Chainalysis memperkirakan layanan tersebut telah menyalurkan dana ilegal sedikitnya sebesar US$ 16,1 miliar pada 2025.
Maraknya penggunaan kripto dalam perdagangan manusia tidak lepas dari fenomena scam compounds yang menjamur di kawasan Asia Tenggara, khususnya di zona ekonomi khusus yang lemah pengawasan hukumnya.
Praktik ini sering dikaitkan dengan metode Pig Butchering alias Penyembelihan Babi, sebuah skema penipuan investasi jangka panjang di mana pelaku membangun kepercayaan emosional dengan korban sebelum menguras seluruh aset mereka.
Para pekerja di pusat penipuan ini umumnya adalah korban perdagangan orang yang dijanjikan pekerjaan legal di luar negeri. Namun, sesampainya di lokasi, paspor mereka disita dan mereka dipaksa bekerja di bawah ancaman kekerasan fisik.
Penggunaan kripto menjadi pilihan utama sindikat ini karena sifatnya yang lintas batas dan mampu melewati sistem perbankan tradisional yang ketat, meski kini otoritas global mulai memperketat pengawasan melalui regulasi aset digital yang lebih komprehensif.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






