Sabtu, 4 April 2026

Warren Buffett Sebut Tunai Itu Seperti Oksigen, Penting tapi Bukan Aset yang Baik

Penulis : Grace El Dora
13 Mar 2026 | 16:47 WIB
BAGIKAN
Warren Buffett, chairman dan CEO Berkshire Hathaway, saat bermain kartu bridge di luar toko perhiasan Borsheims yang dimiliki Berkshire di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat (AS) pada 6 Mei 2018. (Foto: AP/ Nati Harnik)
Warren Buffett, chairman dan CEO Berkshire Hathaway, saat bermain kartu bridge di luar toko perhiasan Borsheims yang dimiliki Berkshire di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat (AS) pada 6 Mei 2018. (Foto: AP/ Nati Harnik)

NEBRASKA, investor.id – Sang Oracle of Omaha, Warren Buffett, memberikan pesan penting mengenai strategi pengelolaan uang tunai pasca-pengunduran dirinya sebagai CEO Berkshire Hathaway pada akhir 2025. Meski perusahaannya tercatat memegang dana tunai fantastis senilai lebih dari US$ 370 miliar (sekitar Rp 6.274,1 triliun), Buffett menegaskan bahwa memegang uang tunai bukanlah strategi investasi yang ideal.

Pria berusia 95 tahun ini menjelaskan tumpukan uang tersebut bukanlah cerminan sikap konservatif di masa tuanya. Sebaliknya, ia mengaku belum menemukan peluang investasi besar yang cukup berharga untuk "menggerakkan jarum" portofolio Berkshire yang raksasa.

Penting namun Tidak Produktif

Buffett mengibaratkan uang tunai seperti oksigen. "Di level tertentu, tunai itu sangat diperlukan, tetapi tunai bukanlah aset yang baik," ujarnya seperti dikutip CNBC internasional, Jumat (13/3/2026). Seperti oksigen, uang tunai harus selalu tersedia karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, jika Anda kekurangan "oksigen" finansial selama beberapa menit saja saat krisis, dampaknya bisa fatal.

Advertisement

Meski memberikan bunga yang moderat, Buffett jauh lebih memilih menempatkan uangnya pada aset produktif seperti saham. Menurutnya, bisnis yang baik memiliki kemampuan untuk tumbuh secara majemuk dan mampu bertahan dari gerusan inflasi, hal yang tidak bisa dilakukan oleh uang tunai dalam jangka panjang.

Strategi Mengelola Dana Simpanan

Bagi investor ritel, Buffett menyarankan agar tidak lari ke uang tunai hanya karena takut akan koreksi pasar. Dalam surat pemegang saham pada 2024, ia menegaskan Berkshire tidak akan pernah lebih memilih aset setara kas dibandingkan kepemilikan bisnis yang bagus.

Data menunjukkan sejak Januari 1975 hingga Januari 2026, indeks S&P 500 telah melonjak hampir 6.700%, jauh melampaui kenaikan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang hanya sebesar 524%.

Pesan Buffett tetap konsisten bagi masyarakat umum. "Beli dana indeks S&P 500 berbiaya rendah secara konsisten. Itu adalah langkah yang paling masuk akal hampir di setiap waktu," kata dia.

Meskipun Warren Buffett mengelola dana dalam skala miliaran dolar, prinsip "uang tunai sebagai oksigen" sangat relevan bagi investor perorangan melalui konsep dana darurat. Dalam dunia perencanaan keuangan, para ahli umumnya menyarankan setiap individu untuk memiliki cadangan kas setara dengan tiga hingga enam bulan biaya pengeluaran.

Latar belakang pemikiran ini adalah untuk menjaga stabilitas finansial saat terjadi peristiwa tak terduga, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) atau biaya medis darurat. Dengan memiliki "oksigen" tunai yang cukup, seorang investor tidak akan terpaksa menjual aset investasinya (seperti saham atau reksa dana) di saat harga pasar sedang turun, sehingga rencana keuangan jangka panjang tetap berada di jalurnya.

Strategi Buffett mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan: miliki tunai yang cukup untuk keamanan, namun tetap biarkan mayoritas kekayaan bekerja di aset produktif.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 26 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 36 menit yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 1 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 1 jam yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 1 jam yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 2 jam yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia