Ultimatum Trump ke Iran Gagal Tenangkan Pasar, Harga Minyak Dunia Fluktuasi Tajam
HOUSTON, investor.id – Harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi tajam pada perdagangan Senin (23/3/2026). Para investor kini tengah mencermati dampak dari ultimatum Presiden AS Donald Trump kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, di tengah ancaman balasan yang kian memanas di Timur Tengah.
Minyak mentah jenis Brent berada di level sedikit di bawah US$ 112 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati angka US$ 98, seperti dipantau Bloomberg internasional, Senin (23/3/2026).
Ketegangan ini memuncak setelah Trump memberikan tenggat waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka jalur pelayaran tersebut secara penuh, atau menghadapi risiko pengeboman terhadap pembangkit listrik mereka.
Ancaman Balasan dan Krisis Energi Global
Menanggapi gertakan tersebut, Teheran memperingatkan akan menyerang infrastruktur vital di seluruh Timur Tengah jika Trump merealisasikan ancamannya. Hingga saat ini, Brent telah melonjak lebih dari 50% sejak serangan awal AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu.
"Pasar membutuhkan sesuatu yang nyata, bukan sekadar retorika eskalasi," ujar Chief Investment Officer Karobaar Capital LP Haris Khurshid, Senin. Menurutnya, harga mungkin akan bergerak lebih agresif jika masalah asuransi dan pengiriman barang mulai terganggu secara luas.
Prediksi Analis dan Gangguan Pasokan
Goldman Sachs Group Inc. telah menaikkan prakiraan harga Brent pada 2026 dari US$77 menjadi US$ 85 per barel. Analis memperkirakan aliran minyak melalui Selat Hormuz hanya tersisa 5% dari level normal selama enam minggu ke depan sebelum pulih secara bertahap.
"Ini adalah kejutan pasokan minyak terbesar yang pernah ada," tulis analis Goldman Sachs dalam laporannya. Saat ini, para produsen minyak di Teluk Persia terpaksa menahan jutaan barel pasokan harian mereka atau mencari rute ekspor alternatif yang sangat terbatas.
Diplomasi dan Upaya Meredam Harga
Di tengah konflik yang telah memasuki hari ke-24 ini, Departemen Keuangan AS mencoba meredam harga dengan mengizinkan penjualan minyak dan petrokimia Iran yang sudah berada di kapal tanker hingga 19 April 2026 mendatang.
Sementara itu Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan, serangan terhadap Iran bertujuan untuk menghancurkan benteng pertahanan di sepanjang selat tersebut serta melumpuhkan kekuatan udara dan laut Iran guna mencegah kepemilikan senjata nuklir.
Selat Hormuz merupakan urat nadi energi global yang paling krusial, menghubungkan produsen minyak mentah di Timur Tengah dengan pasar utama di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Jalur sempit yang memisahkan Teluk Oman dan Teluk Persia ini menjadi lintasan bagi hampir seperlima dari total konsumsi minyak dunia setiap harinya.
Penutupan atau gangguan pada jalur ini secara historis selalu memicu guncangan hebat pada pasar komoditas karena minimnya rute alternatif yang memadai.
Dalam konflik 2026 ini, durasi perang yang telah melampaui konflik serupa di tahun sebelumnya menciptakan ketidakpastian yang jauh lebih tinggi. Ketegangan antara retorika militer Amerika Serikat dan keteguhan pertahanan Iran kini tidak hanya menjadi isu geopolitik, tetapi juga menjadi penentu arah inflasi global dan stabilitas pasar keuangan dunia di masa depan.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






