Meski Selat Hormuz Dibuka, EIA Prediksi Harga BBM Tetap Mahal
NEW YORK, investor.id – Harapan konsumen untuk mendapatkan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) secara instan nampaknya harus tertunda. Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) memperingatkan harga bahan bakar kemungkinan besar akan terus merangkak naik selama berbulan-bulan, bahkan setelah Selat Hormuz dibuka kembali.
Laporan ini muncul sebagai antitesis dari janji Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berulang kali meyakinkan warga AS bahwa harga BBM akan segera turun begitu perang dengan Iran berakhir, sebagaimana dikutip Reuters, Rabu (8/4/2026).
Perang antara blok AS-Israel melawan Iran, yang kini memasuki bulan kedua dan dalam jeda gencatan senjata, telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Hal ini disebabkan oleh blokade Iran terhadap Selat Hormuz, jalur perdagangan energi paling vital di dunia.
Dalam laporan Short-Term Energy Outlook, EIA menyatakan pemulihan aliran minyak tidak bisa terjadi dalam semalam. "Sama seperti kita belum pernah melihat selat ini ditutup sebelumnya, kita juga belum pernah melihat proses pembukaannya kembali. Bagaimana rupa pemulihan itu nantinya masih harus kita lihat," tulis laporan EIA tersebut, Rabu.
EIA memperkirakan butuh waktu berbulan-bulan untuk memulihkan arus distribusi secara penuh. Faktor ketidakpastian pasokan ini diprediksi akan menjaga harga minyak tetap berada di atas level sebelum konflik hingga akhir 2026.
Harga Bensin dan Diesel Mencetak Rekor
Di Amerika Serikat, dampak perang ini sangat terasa di kantong masyarakat. Harga Bensin Retail diperkirakan mencapai puncaknya pada rata-rata US$ 4,30 per galon pada April 2026. Data GasBuddy menunjukkan harga rata-rata nasional saat ini sudah menyentuh US$ 4,14, tertinggi sejak Agustus 2022.
Harga Solar (Diesel) diperkirakan mengalami lonjakan yang lebih parah karena ketergantungan global pada minyak mentah Timur Tengah untuk jenis bahan bakar ini. Harga diesel diprediksi mencapai puncak rata-rata US$ 5,80 per galon bulan ini.
Analis GasBuddy Patrick De Haan bahkan memperingatkan, jika tidak ada rencana jelas untuk membuka kembali Selat Hormuz, harga bensin bisa menembus rekor baru di atas US$ 5 per galon dalam hitungan minggu.
Ancaman "Kehancuran Peradaban"
Laporan EIA ini dirilis di tengah ketegangan luar biasa setelah Presiden Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz paling lambat Selasa malam. Trump bahkan mengeluarkan ancaman ekstrem bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" jika kesepakatan tidak tercapai.
Meskipun diplomasi sedang diupayakan, para ahli energi mengingatkan bahwa kerusakan pada rantai pasokan global sudah terlanjur terjadi dan membutuhkan waktu lama untuk diperbaiki.
Selat Hormuz merupakan titik sumbat (chokepoint) maritim paling penting di dunia yang terletak di antara Oman dan Iran. Jalur sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara historis, sekitar 20% hingga 30% dari total konsumsi minyak bumi dunia melewati selat ini setiap harinya.
Pentingnya jalur ini membuat setiap gangguan militer atau penutupan wilayah perairan tersebut berdampak langsung pada volatilitas pasar energi global. Dalam konflik terbaru antara AS-Israel dan Iran, pemblokiran selat ini tidak hanya menghentikan pengiriman minyak mentah, tetapi juga mengganggu distribusi gas alam cair (LNG).
Ketegangan di Selat Hormuz selalu menjadi instrumen geopolitik yang kuat karena dampaknya yang bersifat sistemik. Kenaikan harga minyak di selat ini akan memicu inflasi global, meningkatkan biaya transportasi, dan memaksa negara-negara importir energi untuk mencari alternatif pasokan yang lebih mahal dari wilayah lain.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





