Iran Tuntut Gencatan Senjata Lebanon dan Pencairan Aset Hari Ini
ISLAMABAD, investor.id – Harapan akan perdamaian permanen di Timur Tengah menghadapi jalan terjal. Pemerintah Iran secara mendadak mengajukan dua syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) dimulai di Pakistan hari ini, Sabtu (11/4/2026).
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan melalui platform X bahwa Amerika Serikat harus mencairkan aset-aset Iran yang dibekukan serta memastikan gencatan senjata menyeluruh di Lebanon benar-benar terwujud.
"Kedua langkah ini telah disepakati sebelumnya dengan AS. Negosiasi tidak akan dimulai sampai persyaratan tersebut dipenuhi," tegas Qalibaf sebagaimana dikutip Reuters, Sabtu.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait tuntutan mendadak tersebut. Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi Amerika, telah bertolak menuju Pakistan dengan harapan membawa hasil positif.
Namun, Vance juga memberikan peringatan keras kepada Teheran. "Jika mereka mencoba mempermainkan kami, mereka akan mendapati bahwa tim negosiasi ini tidak akan bersikap ramah," ujarnya sebelum keberangkatan.
Iran saat ini kesulitan mengakses dana puluhan miliar dolar di bank-bank asing akibat sanksi AS pada sektor perbankan dan energi. Dana tersebut merupakan hasil ekspor minyak dan gas yang sangat dibutuhkan untuk memulihkan ekonomi mereka.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Situasi di lapangan pun masih jauh dari kata stabil. Meski Presiden Donald Trump telah mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan untuk menghentikan serangan udara ke wilayah Iran, ketegangan di Lebanon dan penutupan Selat Hormuz tetap menjadi duri dalam daging.
Otoritas Israel menyatakan operasinya melawan kelompok Hizbullah di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan AS. Akibatnya, jet tempur Israel masih terus menggempur Lebanon Selatan, yang pada Jumat (10/4/2026) dilaporkan menewaskan belasan orang, termasuk aparat keamanan setempat.
Di sisi lain, Selat Hormuz, jalur urat nadi energi dunia, masih lumpuh. Donald Trump mengkritik tajam Iran yang dianggap gagal membuka jalur pelayaran minyak tersebut. "Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk dalam membiarkan minyak lewat. Itu bukan perjanjian yang kita miliki!" tulis Trump di media sosialnya.
Krisis yang terjadi saat ini merupakan puncak dari perang enam minggu yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran beserta sekutunya. Ketegangan mencapai titik didih ketika Selat Hormuz ditutup, menyebabkan gangguan pasokan energi paling parah dalam sejarah modern dan memicu lonjakan harga minyak dunia.
Presiden AS Donald Trump mengambil langkah drastis dengan memberikan ultimatum keras kepada Iran sebelum akhirnya menyetujui gencatan senjata sementara selama dua pekan. Namun, kompleksitas konflik ini terletak pada perang paralel di Lebanon, di mana Israel bersikeras untuk terus menekan Hizbullah meskipun AS dan Iran sedang mencoba berdialog.
Pertemuan di Islamabad, Pakistan, semula dipandang sebagai secercah cahaya untuk mengakhiri blokade maritim dan serangan udara, namun perbedaan interpretasi mengenai butir-butir kesepakatan kini justru mengancam proses diplomasi tersebut sebelum sempat dimulai.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





