Harga Minyak Tembus US$ 100 Lagi, Wall Street Tetap Tenang
NEW YORK, investor.id – Harga minyak mentah dunia kembali melonjak di atas level US$ 100 per barel pada perdagangan Senin (13/4/2026). Kenaikan ini dipicu oleh kegagalan perundingan gencatan senjata selama 21 jam antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang gagal mengakhiri konflik bersenjata di antara kedua negara.
Meski pasar energi bergejolak, bursa saham AS cenderung bergerak stabil. Hal ini mengindikasikan, para investor di Wall Street masih menyimpan harapan kedua belah pihak pada akhirnya akan menghindari skenario terburuk bagi ekonomi global.
Hingga Senin pagi waktu New York (Senin malam WIB), indeks S&P 500 hampir tidak bergerak setelah sempat melemah di awal pembukaan. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 250 poin (0,5%), sementara Nasdaq justru menguat tipis 0,3%. Pergerakan ini jauh lebih tenang dibandingkan ayunan ekstrem yang terjadi sejak perang pecah pada akhir Februari 2026, sebagaimana dipantau Associated Press.
Di sisi lain, pasar minyak menunjukkan kekhawatiran yang lebih besar dengan kenaikan harga sekitar 5%. Harga minyak mentah Brent, yang menjadi standar internasional, kembali menyentuh US$ 100,18 per barel. Meski naik tajam, angka ini masih di bawah puncak tertinggi US$ 119 yang sempat tercapai saat kekhawatiran perang berada di level maksimal.
Ancaman Blokade Selat Hormuz
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan blokade di Selat Hormuz sebagai respons atas kegagalan perundingan akhir pekan. Langkah ini bertujuan untuk memutus jalur pendapatan Iran dari penjualan minyak.
Namun, Iran membalas dengan ancaman yang tidak kalah sengit. Militer Iran dan Korps Garda Revolusi menyatakan bahwa keamanan di kawasan tersebut berlaku untuk semua atau tidak sama sekali.
"Tidak akan ada pelabuhan di kawasan ini yang aman," tegas pernyataan resmi militer Iran yang dikutip oleh media pemerintah setempat.
Selain memantau situasi geopolitik, perhatian investor kini terbagi pada musim laporan keuangan perusahaan besar di AS.
Goldman Sachs melaporkan laba sebesar US$ 5,63 miliar, melebihi ekspektasi pasar. Namun, sahamnya turun 4% karena penurunan pendapatan di sektor perdagangan komoditas dan mata uang. Sementara itu, beberapa raksasa seperti JPMorgan Chase, Netflix, dan PepsiCo dijadwalkan akan merilis laporan keuangan mereka minggu ini.
Analisis dari para ahli menunjukkan pasar saat ini sedang dalam posisi wait and see. Selama proses komunikasi antar kedua negara masih berjalan dan gencatan senjata yang lebih luas masih bertahan, pasar saham diyakini tidak akan jatuh ke jurang aksi jual besar-besaran.
Kenaikan harga minyak di atas US$ 100 per barel merupakan pukulan berat bagi upaya pengendalian inflasi global. Sejak perang AS-Iran pecah pada Februari 2026, harga energi telah meroket dari level stabilnya di kisaran US$ 70.
Blokade di Selat Hormuz menjadi ancaman paling nyata bagi ekonomi dunia karena jalur sempit ini adalah pintu keluar utama bagi minyak produksi negara-negara Teluk Persia menuju pasar global.
Gangguan pada jalur ini tidak hanya akan melambungkan harga bensin di tingkat konsumen, tetapi juga memicu kenaikan suku bunga pinjaman (termasuk KPR) karena bank sentral harus berjuang melawan inflasi yang dipicu oleh biaya energi. Kegagalan diplomasi di Islamabad pekan ini menandai babak baru ketidakpastian yang memaksa pelaku pasar untuk bersiap menghadapi disrupsi rantai pasok energi jangka panjang.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






