AS Resmi Blokade Pelabuhan Iran, Harga Minyak Tampak Melandai
WASHINGTON, investor.id – Militer Amerika Serikat (AS) resmi memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada Selasa (14/4/2026). Langkah agresif ini memicu kemarahan Teheran dan meningkatkan ketidakpastian di jalur perdagangan maritim global.
Namun, harapan akan adanya dialog damai justru memberikan napas lega bagi pasar energi, di mana harga minyak mentah mulai turun ke bawah level US$ 100 per barel.
Meskipun perundingan antara kedua negara di Islamabad menemui jalan buntu pada akhir pekan lalu, pejabat AS menyatakan komunikasi terus berjalan. Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif juga menegaskan upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik masih terus diupayakan.
Blokade Ketat dan Ancaman Militer
Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran telah menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan. Namun, ia menegaskan tidak akan menyetujui perjanjian apa pun yang memungkinkan Iran memiliki senjata nuklir.
Sebagai respons atas tindakan Iran yang sebelumnya menutup Selat Hormuz bagi kapal asing, Trump memerintahkan blokade total.
- Blokade AS: Militer AS akan mencegat kapal Iran serta kapal mana pun yang membayar "pajak lintasan" kepada Teheran.
- Ancaman Serangan: Trump memperingatkan akan menghancurkan kapal serbu cepat Iran yang berani mendekati area blokade.
- Tanggapan Iran: Iran menyebut blokade ini sebagai tindakan "perompakan" dan mengancam akan membalas serangan terhadap pelabuhan negara-negara tetangga di Teluk.
Data pelayaran menunjukkan kapal tanker minyak milik China Rich Starry menjadi kapal pertama yang berhasil melintasi selat tersebut pada Selasa pagi sejak blokade resmi diberlakukan.
Gencatan Senjata di Ambang Kehancuran
Ketegangan ini menempatkan gencatan senjata yang telah berlangsung selama enam minggu dalam posisi kritis. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan blokade akan ditegakkan secara imparsial terhadap semua negara yang keluar-masuk pelabuhan Iran, namun tetap mengizinkan transit netral ke destinasi non-Iran.
Di sisi lain, konflik di Lebanon semakin memanas. Israel terus membombardir wilayah selatan Lebanon untuk merebut kota-kota strategis dari kelompok Hizbullah. Israel dan AS berargumen operasi militer terhadap Hizbullah tidak termasuk dalam poin-poin gencatan senjata, sebuah klaim yang ditolak mentah-mentah oleh Iran.
Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang paling krusial. Terletak di antara Oman dan Iran, selat sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sebelum konflik pecah pada Februari 2026, hampir seperlima dari total pasokan minyak dan gas dunia melintasi jalur ini setiap harinya.
Krisis ini bermula ketika serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran memicu pembalasan berupa penutupan selat oleh Teheran. Secara historis, setiap gangguan di Selat Hormuz selalu memicu lonjakan harga energi global yang berdampak pada inflasi di berbagai belahan dunia.
Blokade pelabuhan yang dilakukan AS saat ini dipandang sebagai upaya untuk melumpuhkan ekonomi Iran secara total, namun langkah ini juga membawa risiko besar bagi keamanan pasokan barang internasional dan stabilitas kawasan Timur Tengah secara menyeluruh.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






