Harga Minyak Dunia Turun Seiring Harapan Diplomasi AS-Iran
LONDON, investor.id – Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (14/4/2026). Melemahnya harga dipicu oleh munculnya sinyal pembicaraan diplomatik untuk mengakhiri ketegangan antara Amerika Serikat (AS) Iran, yang sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan di Selat Hormuz.
Berdasarkan data perdagangan pukul 08.28 GMT, minyak mentah berjangka Brent turun 62 sen atau sekitar 0,6% ke level US$ 98,74 per barel seperti dipantau Reuters, Senin. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot tajam US$ 2,30 atau 2,3% ke posisi US$ 96,78 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah lonjakan drastis pada sesi sebelumnya, di mana Brent sempat melambung 4% dan WTI hampir 3% akibat blokade militer AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Tercatat, harga minyak telah meroket hingga 50% bulan lalu, mencetak rekor kenaikan tertinggi.
Sentimen Pasar dan Gangguan Pasokan
Meski wacana dimulainya kembali pembicaraan AS-Iran memberi tekanan turun pada harga, analis PVM Oil Associates Tamas Varga mengingatkan pasar cenderung mengabaikan hilangnya pasokan fisik di lapangan.
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanannya menyebutkan serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Pada Maret 2026 saja, dunia kehilangan pasokan sebesar 10,1 juta barel per hari (bpd).
Kondisi geopolitik tetap panas setelah militer AS memperluas zona blokade hingga ke Teluk Oman dan Laut Arab. Di sisi lain, sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis memilih untuk tidak terlibat dalam blokade tersebut dan mendesak agar jalur pelayaran internasional segera dibuka kembali.
Peluang Diplomasi di Islamabad
Harapan muncul setelah lima sumber mengungkapkan kepada Reuters bahwa tim negosiasi dari AS dan Iran kemungkinan akan kembali bertemu di Islamabad, Pakistan, akhir pekan ini. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, juga mengonfirmasi bahwa upaya mediasi masih terus berjalan.
Namun, Varga memperingatkan jika diplomasi ini gagal, harga minyak bisa kembali melonjak melewati rekor tertinggi bulan Maret, terutama karena menipisnya stok minyak global diprediksi akan berlanjut hingga kuartal III-2026.
IEA Pangkas Proyeksi Permintaan
Selain faktor geopolitik, IEA memroyeksikan penurunan permintaan minyak mentah yang signifikan pada kuartal II-2026 yakni level terburuk sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Lonjakan harga yang ekstrem memaksa berbagai industri membatasi penggunaan bahan bakar.
"Penurunan permintaan akan meluas seiring dengan kelangkaan dan harga tinggi yang terus berlanjut," tulis IEA. Dalam skenario terburuk, jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam jangka panjang, ekonomi global harus bersiap menghadapi gangguan energi yang jauh lebih berat dalam beberapa bulan mendatang.
Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang paling vital, menghubungkan produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar utama di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Secara historis, sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari melintasi jalur sempit ini.
Ketegangan terbaru ini berakar dari eskalasi konflik militer yang melibatkan kepentingan AS dan sekutunya dengan Iran, yang berujung pada tindakan blokade laut. Krisis ini tidak hanya memicu lonjakan harga komoditas energi, tetapi juga meningkatkan biaya logistik global dan asuransi pengiriman barang.
Sejarah mencatat setiap gangguan di Selat Hormuz selalu berdampak langsung pada inflasi global, mengingat ketergantungan dunia yang masih sangat tinggi terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






