Selat Hormuz Tersumbat Akibat Perang, Rusia Pasok Kebutuhan Energi China
BEIJING, investor.id – Rusia menyatakan kesiapannya untuk menjadi penyokong utama kebutuhan energi Tiongkok di tengah terganggunya jalur pasokan global. Hal ini menyusul lumpuhnya lalu lintas pengiriman di Selat Hormuz akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan, pemerintah Rusia mampu menutup kekurangan sumber daya yang dialami China maupun negara-negara mitra lainnya. Hal tersebut disampaikan Lavrov dalam konferensi pers di Beijing pada Rabu (15/4/2026), menanggapi kekhawatiran atas blokade jalur pelayaran vital di Timur Tengah.
"Rusia, tanpa keraguan, dapat memberikan kompensasi atas kekurangan sumber daya yang muncul bagi China dan negara-negara lain yang tertarik bekerja sama dengan kami," ujar Lavrov sebagaimana dikutip dari media pemerintah Rusia, Rabu.
Hubungan Tak Tergoyahkan Rusia-China
Dalam kunjungan dua harinya yang dimulai sejak Selasa (14/4/2026), Lavrov telah bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Ia menggambarkan hubungan bilateral kedua negara sebagai sesuatu yang tak tergoyahkan dalam menghadapi badai apa pun.
Kemitraan ekonomi dan politik antara kedua negara memang kian mendalam sejak 2022.
Lavrov menambahkan, hubungan ini memainkan peran stabilisasi dalam urusan dunia, terutama bagi mayoritas global yang menghindari turbulensi geopolitik.
Selain membahas pasokan energi, Lavrov juga mengonfirmasi rencana kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke China pada paruh pertama tahun ini. Kunjungan Putin mendatang diprediksi akan semakin memperkuat poros kekuatan Rusia-China di tengah dinamika global yang memanas.
Kunjungan Lavrov pekan ini berbarengan dengan rangkaian pertemuan Presiden China Xi Jinping dengan pemimpin dunia lainnya di Beijing, termasuk pemimpin Vietnam To Lam dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim paling krusial di dunia bagi industri minyak dan gas. Terletak di antara Oman dan Iran, selat ini menghubungkan produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Sekitar seperlima dari konsumsi minyak dunia melintasi jalur sempit ini setiap harinya.
Blokade atau gangguan di Selat Hormuz akibat konflik bersenjata otomatis memicu lonjakan harga energi dan mengancam ketahanan ekonomi negara-negara importir besar, terutama China yang merupakan konsumen minyak mentah terbesar di dunia.
Dalam konteks ini, Rusia yang memiliki cadangan gas alam dan minyak melimpah melalui jalur darat (pipa) menawarkan solusi logistik yang lebih aman bagi China. Tawaran Rusia tidak hanya bermotif ekonomi, tetapi juga strategis guna memperkuat aliansi Eurasia sebagai tandingan terhadap pengaruh Barat di tengah krisis Timur Tengah.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





