Iran Mulai Tata Ulang Stabilitas Ekonomi di Tengah Harapan Perang Berakhir
TEHERAN, investor.id – Pemerintah Iran mulai melakukan peninjauan mendalam terhadap indikator moneter dan nilai tukar guna menjaga stabilitas keuangan nasional. Langkah ini diambil di tengah menguatnya harapan berakhirnya konflik bersenjata, menyusul klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa kesepakatan damai sudah sangat dekat.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menekankan bahwa koordinasi antarlembaga kebijakan moneter menjadi krusial setelah infrastruktur negara mengalami kerusakan signifikan akibat serangan selama 40 hari terakhir. Dalam kunjungannya ke Bank Sentral Iran, Pezeshkian menginstruksikan pengelolaan pasar yang ketat guna menahan ekspektasi inflasi.
“Menjaga stabilitas keuangan dan mengendalikan ekspektasi inflasi dalam keadaan seperti ini membutuhkan koordinasi penuh antara otoritas moneter, pemerintah, dan lembaga ekonomi lainnya,” demikian tulis Kantor Berita Tasnim, Jumat (17/4/2026), yang merujuk pada pernyataan Pezeshkian.
Laporan komprehensif terkait likuiditas, neraca pembayaran, dan cadangan devisa telah dipresentasikan sebagai basis pembuatan kebijakan ekonomi lapangan. Pezeshkian mengapresiasi kinerja Bank Sentral yang sejauh ini dinilai mampu meredam guncangan pasar dan mencegah fluktuasi mata uang yang ekstrem di masa perang.
Di saat yang sama, optimisme perdamaian datang dari Washington. Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan komprehensif dengan Iran kemungkinan besar akan ditandatangani di Islamabad, Pakistan. Trump bahkan menyatakan kesiapannya untuk hadir langsung dalam seremoni tersebut jika kesepakatan itu dapat tercapai.
“Kita akan lihat apa yang terjadi. Tapi saya pikir kita sudah sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” ujar Trump seperti ditukil dari Reuters.
Proses diplomasi kali ini dimediasi oleh Panglima Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Asim Munir, dilaporkan telah mencapai semacam "terobosan besar" pada isu-isu sensitif, termasuk program nuklir. Meski masih ada perbedaan tenggat waktu penangguhan aktivitas nuklir—AS meminta 20 tahun sementara Iran menawarkan 3 hingga 5 tahun—sinyal kompromi mengenai pengiriman stok uranium (HEU) ke luar negeri mulai terlihat.
Kabar ini langsung memberikan napas lega bagi pasar global. Harga minyak mentah Brent terkoreksi ke level US$ 98,53 per barel, sementara WTI turun ke US$ 93,59 per barel. Meski demikian, jalur vital Selat Hormuz hingga saat ini masih tertutup efektif bagi pelayaran internasional.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






