OPEC di Ambang Pecah, Dominasi Arab Saudi Terancam?
LONDON, investor.id – Kabar mengejutkan datang dari pasar energi global. Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi menyatakan pengunduran dirinya dari keanggotaan OPEC dan OPEC+. Langkah berani ini menjadi pukulan telak bagi organisasi negara-negara pengekspor minyak tersebut, khususnya bagi sang pemimpin de facto, Arab Saudi.
Keputusan ini diambil di tengah guncangan energi bersejarah akibat perang Iran yang telah melumpuhkan ekonomi dunia. Para analis menilai keluarnya UEA bukan sekadar urusan produksi, melainkan sinyal keretakan aliansi strategis yang selama ini menjaga stabilitas harga minyak dunia.
Sejumlah pakar energi melihat langkah UEA ini sebagai upaya untuk lepas dari belenggu kuota produksi. "UEA berencana meningkatkan produksi minyak hingga 30%. Sangat sulit melakukan itu jika masih terikat batasan OPEC+," ujar mantan eksekutif Gazprom Neft Sergey Vakulenko seperti dikutip Reuters, Rabu (29/4/2026).
Kepala ekonom ADCB Monica Malik menambahkan, keluarnya UEA membuka pintu bagi negara tersebut untuk merebut pangsa pasar global lebih besar setelah situasi geopolitik kembali normal.
Sementara itu, Jorge Leon dari Rystad memperingatkan bahwa tanpa UEA, OPEC kehilangan salah satu pilar utamanya yang memiliki cadangan kapasitas signifikan, membuat organisasi tersebut secara struktural menjadi lebih lemah.
Meski menjadi peristiwa monumental, analis dari Pepperstone Michael Brown menilai dampaknya secara langsung mungkin masih terbatas. Selama Selat Hormuz tetap tertutup akibat konflik, masalah utama pasar bukan pada berapa banyak minyak yang diproduksi, melainkan bagaimana mengirimkannya ke konsumen.
Namun, dalam jangka panjang, pengunduran diri ini menimbulkan pertanyaan besar. Mampukah Arab Saudi tetap menjadi penyeimbang pasar sendirian? Jika produsen lain mulai mengutamakan pangsa pasar di atas disiplin kuota, kemampuan OPEC untuk mengendalikan harga minyak dunia akan berada di titik nadir.
Ketegangan antara Uni Emirat Arab dan OPEC sebenarnya telah terendus sejak beberapa tahun terakhir. UEA telah menginvestasikan miliaran dolar untuk meningkatkan kapasitas produksinya hingga 5 juta barel per hari pada 2027, namun mereka seringkali terhambat oleh kebijakan kuota ketat yang dipelopori oleh Arab Saudi dan Rusia
Pengunduran diri ini terjadi di saat Selat Hormuz—jalur nadi utama minyak dunia—masih tertutup akibat konflik AS-Israel-Iran, yang telah menyebabkan harga minyak meroket dan memaksa negara-negara di seluruh dunia mencari alternatif pasokan yang lebih fleksibel.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






