Harga Minyak Stabil di Tengah Rencana Evakuasi Trump
LONDON, investor.id – Harga minyak dunia terpantau stabil pada perdagangan Senin (4/5/2026). Pelaku pasar bersikap waspada sekaligus skeptis terhadap efektivitas rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengevakuasi kapal-kapal netral dari Selat Hormuz, menyusul laporan adanya kapal tanker yang kembali dihantam proyektil di jalur tersebut.
Harga minyak mentah Brent tertahan di kisaran US$ 108 per barel setelah sempat anjlok 2,4% pada pembukaan pasar, seperti dipantau Bloomberg internsional, Senin. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di bawah level US$ 102.
Ketidakpastian pasar meningkat setelah badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker terkena serangan proyektil di 78 mil laut sebelah utara Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA). Meski identitas kapal belum diungkap, seluruh kru dilaporkan selamat.
Rencana ‘Project Freedom’ Trump
Mulai hari ini, militer AS dijadwalkan membantu kapal-kapal sipil yang terjebak akibat perang dengan Iran untuk keluar dari Selat Hormuz. Trump menyatakan akan mengerahkan kapal perusak rudal, pesawat tempur, hingga drone. Namun, laporan The Wall Street Journal menyebutkan rencana tersebut saat ini tidak mencakup pengawalan langsung secara fisik oleh Angkatan Laut AS.
“Kami akan berupaya maksimal agar kapal dan kru mereka keluar dengan selamat. Mereka (perusahaan pelayaran) menyatakan tidak akan kembali sampai area ini benar-benar aman,” tulis Trump dalam unggahan media sosialnya, Senin.
Meski demikian, analis pasar mulai meragukan dampak nyata dari kebijakan ini.
"Pasar mulai mengalami 'kelelahan' terhadap pernyataan Trump. Penurunan harga awal yang tidak bertahan lama menunjukkan orang-orang tidak menganggap rencana ini akan mengubah keadaan secara signifikan," ujar Chief Investment Officer Karobaar Capital LP Haris Khurshid.
Cekikan Ekonomi dan Nasib OPEC+
Kenaikan harga minyak tahun ini didorong oleh "blokade ganda" di Selat Hormuz. Pemerintah Iran melarang kapal keluar dari Teluk Persia, sementara AS menyita kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperkirakan Iran akan mulai menutup sumur minyaknya dalam pekan depan karena kapasitas penyimpanan yang sudah penuh.
Di tengah ketegangan ini, aliansi OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi secara simbolis untuk Juni 2026. Langkah ini diambil guna mengirimkan pesan bahwa operasional pasar berjalan normal pasca-keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari aliansi tersebut.
Konflik bersenjata yang pecah pada akhir Februari 2026 setelah serangan AS dan Israel ke fasilitas nuklir Iran telah mengubah peta ekonomi dunia dalam waktu singkat.
Selat Hormuz, yang merupakan jalur transit bagi 20% pasokan minyak dunia, kini menjadi pusat peperangan ekonomi. Strategi "tekanan maksimum" yang dijalankan Washington bertujuan untuk melumpuhkan pendapatan ekspor Teheran secara total melalui blokade laut di Teluk Oman.
Kondisi ini menciptakan dilema global: lonjakan inflasi energi di negara-negara Barat dan ancaman kerusakan permanen pada infrastruktur minyak Iran jika sumur-sumur terpaksa ditutup.
Rencana evakuasi kapal sipil oleh Trump pada Mei 2026 ini merupakan upaya pertama untuk meredakan kemacetan logistik, namun risiko eskalasi militer tetap tinggi mengingat Iran mengancam akan membalas setiap intervensi asing di wilayah perairannya.
Kesepakatan OPEC+ yang tetap menaikkan kuota produksi menjadi upaya terakhir untuk menstabilkan harga, meski realisasinya sangat bergantung pada keamanan jalur navigasi internasional tersebut.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






