Listrik Desa dan Astha Cita: Energi untuk Keadilan Sosial
Oleh: Anggawira*)
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sedang mendorong arah baru pembangunan nasional berbasis Astha Cita-delapan agenda prioritas yang tidak hanya menjanjikan percepatan, tetapi juga pemerataan pembangunan. Salah satu pilar penting dalam Astha Cita adalah mewujudkan swasembada energi dan ketahanan nasional.
Dalam konteks ini, program elektrifikasi desa menjadi sangat strategis. Ia bukan sekadar soal pemasangan kabel dan tiang listrik, melainkan bagian dari cita-cita besar negara produsen dan ekonomi berdikari yang menjangkau hingga ke pelosok.
10.068 Desa Belum Teraliri Listrik
Data terbaru Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan masih terdapat 10.068 desa di Indonesia yang belum mendapatkan akses listrik memadai. Untuk menyelesaikan tantangan ini, pemerintah melalui PLN telah menyiapkan program Listrik Desa (Lisdes) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2029.
Targetnya: 780.000 rumah tangga di desa-desa tertinggal akan mendapatkan akses listrik dalam lima tahun ke depan. Total kebutuhan investasi yang dibutuhkan untuk mencapai elektrifikasi menyeluruh ini diperkirakan mencapai Rp500,1 triliun (Antara, 2025).
Langkah ini merupakan tindak lanjut konkret dari komitmen negara untuk mengakhiri ketimpangan pembangunan dan mendorong daya saing kawasan terpencil.
Turun ke Lapangan
Menariknya, komitmen ini tidak hanya berhenti di atas kertas. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, bersama Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, bergerak cepat meninjau langsung wilayah-wilayah terluar yang belum teraliri listrik. Salah satu kunjungan dilakukan ke Kabupaten Sarmi, Papua, yang menjadi simbol keterpencilan sekaligus ujian kehadiran negara.
Gerakan cepat ini menunjukkan paradigma baru birokrasi yang tidak hanya administratif, tetapi juga responsif dan eksekutorial. Negara tidak hadir dalam wacana, tetapi hadir dengan tindakan.
Listrik: Hak Dasar dan Instrumen Pembangunan
Masih banyak wilayah Indonesia yang hidup tanpa cahaya. Di daerah-daerah ini, anak-anak belajar menggunakan pelita minyak tanah, pelaku UMKM terbatas akses produksinya, dan layanan kesehatan terkendala operasional.
Akses listrik memiliki korelasi langsung terhadap indeks pembangunan manusia (IPM). Data dari UNDP menunjukkan bahwa setiap peningkatan 10% akses listrik di pedesaan dapat meningkatkan partisipasi sekolah sebesar 5-7% dan mendorong produktivitas usaha mikro hingga 25%. Dalam konteks ini, listrik bukan sekadar komoditas, melainkan alat pembangunan dan pengungkit kesejahteraan.
Ketahanan Energi
Ke depan, program elektrifikasi tidak cukup hanya mengejar kuantitas sambungan listrik. Pemerintah harus memastikan pembangunan ekosistem energi yang berkelanjutan: pelatihan teknisi lokal, kepemilikan komunitas terhadap infrastruktur, serta integrasi dengan ekonomi lokal seperti pengeringan hasil tani atau produksi rumah tangga berbasis listrik.
Pendekatan ini dapat diakselerasi melalui sinergi antara koperasi energi, BUMDes, dan program strategis seperti Koperasi Merah Putih. Desa tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi juga produsen dan pengelola energi berbasis potensi lokal seperti tenaga surya, mikrohidro, dan biomassa.
Menuju Indonesia Terang
Ketahanan energi sejati adalah yang terdesentralisasi, merata, dan berkeadilan. Bukan hanya tentang berapa besar megawatt yang dibangun, tetapi berapa banyak keluarga yang terbebas dari kegelapan dan bisa hidup lebih produktif.
Dalam kerangka Astha Cita, energi bukan lagi sekadar urusan teknis Kementerian, tetapi urusan konstitusional. Karena listrik di desa bukan hanya cahaya di malam hari, melainkan simbol martabat dan kemajuan bangsa.
Penutup
Membangun desa dengan listrik adalah pekerjaan sejarah. Di sanalah hadir wajah negara sejati. Kita perlu menjaga agar semangat ini tidak hanya berhenti pada perencanaan, tetapi diteruskan dengan aksi yang konkret, terukur, dan kolaboratif.
Baca Juga:
Bersama-sama Kejar Swasembada EnergiDalam pidatonya, Bung Karno pernah berkata: “Negara yang besar bukanlah negara yang kaya, tetapi negara yang mampu membuat seluruh rakyatnya merdeka!”
Dan dalam terang listrik desa, kita menemukan bentuk kemerdekaan itu-cahaya keadilan yang menyala dari pinggiran hingga pusat.
*) Sekjen HIPMI / Ketua Umum ASPEBINDO
Editor: Emanuel
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






