Saat Turun, Tidak Perlu Sedih Terlalu Lama
Dua kata dari negara di Skandinavia menginspirasi namanya. Kata dari negara di tengah Laut Mediterania mengilhami nama sepatu yang ia lahirkan hingga seumur remaja sekarang. Pengusaha muda yang menyebut terlahir sebagai seorang shoe dog, terdidik sebagai seorang insinyur sipil, dan hidup untuk membuat sepatu selamanya ini mengimpikan ada merek lokal sepatu Indonesia yang bisa menjadi merek global.
Berikut penuturannya kepada Investor Daily, yang menemui di ruang ide dan kreatifnya bersama tim di Jakarta, pada Senin (09/02/2026).
Bisa diceritakan kembali bagaimana perjalanan karier Anda?
Kalau dimulai sejak pertama kalinya keluar, benar tahun ini adalah tahun ke-16 Brodo. Saya tidak sempat bekerja atau bisnis yang lain. Paling magang. Di Dinas Pekerjaan Umum karena latar belakang saya teknik sipil (ITB).
Seru sih, cuma nasibnya membawa ke sini (Brodo). Sebenarnya trigger-nya banyak. Kalau pribadi, saya dari kecil mengagumi brand Nike. Saya selalu pakai Nike untuk main basket. Terus pengen banget pakai sepatu Michael Jordan. Dan nggak pernah dikasih (oleh orang tua) karena mahal.
Tapi intinya saya senang sekali bagaimana caranya sebuah produk, sebuah brand, itu bisa memberi tidak sekadar produk, tapi feeling. Saya ingin sekali pakai sepatu Michael Jordan soalnya ingin bisa terbang kayak dia. Hal-hal seperti itu yang saya kagumi sedari kecil dan secara psikologis masuk ke hal-hal yang menjadi minat.
Walau kuliah teknik sipil, tapi passion tetap di sepatu. Bertemu partner bisnis waktu sama-sama main basket di kampus. Namanya Uta (Putera Dwi Karunia). Dia minatnya ke bisnis. Dari awal ingin berbisnis. Cuma nggak tahu mau bisnis apa.
Lalu bertemu dua momen. Pertama dapat kesempatan buka stan di Pasar Seni ITB 2010. Waktu itu, ini acara lima tahunan. Pasti ramai. Jualan apa pun pasti laku. Ini momen yang membuat, eh kita coba bisnis yuk!
Momen kedua saat harus presentasi dengan pakaian rapih dan tidak boleh pakai sneakers. Sayangnya saya belum pernah punya sepatu pantofel. Mau pinjam punya orang tua pun kaki saya lebih besar. Orang tua size 44, saya 46. Singkat cerita ada di Jakarta, tapi harganya Rp2,2 juta. Saya mikir sepatu kenapa mahal banget, ya.
Lalu partner ngajak ke Cibaduyut. Di situ ada semua, dari yang jualan sepatu, jualan kulit, jualan sol. Semua ada. Jadi kita mikir bisa nih kita start bisnis sepatu.
Saya jual beberapa lusin di Pasar Seni langsung habis. Kalau tidak salah penjualan satu hari itu Rp10juta. Buat mahasiswa, itu gede banget.
Kalau diingat kembali, yang membuat pasar langsung menyerap Brodo kayaknya kombinasi dari desain, branding, fokus di gerai, harga, dan timing.
Selain dari kecil suka sepatu dan brand tertentu, apa lagi yang mendasari usaha ini?
Momentum atau timing. Kita masuk di momentum generasi yang menjadi market saya tuh sudah mau belanja online. Dan belanja online waktu itu nggak ada saingannya.
Saingannya ya sepatu KW. Atau ada yang bagus tapi mungkin servisnya kurang bagus. Kita lihat momentum dan timing dimana ada shifting sehingga hampir nggak ada saingan waktu itu. Pilihannya cuma kita.
Kalau saya mulainya sekarang mungkin sudah beda. Belanja online sudah biasa. Saingan makin banyak. Tapi opportunity juga makin besar. Waktu itu opportunity-nya kecil.
Tapi di kolam kecil itu kita jadi sendirian. Kalau saya mulainya 2015 mungkin beda lagi. Jadi timing waktu itu tepat. Ada luck juga saat kita mulai.
Sebagai pemimpin, Anda memandangnya seperti apa? Bagaimana gaya kepemimpinan Anda?
Yang bisa menilai sebenarnya tim saya. Bisa dibilang saya bukan tipe tangan besi. Mungkin tipe generasi sekarang. Tipe anak muda lah.
Yang mau saya tanamkan ke tim itu semangat wirausaha. Mereka kita kasih keluasaan. Kebebasan untuk bereksperimen. Untuk mengambil resiko. Kita selalu mendorong untuk independen. Coba ambil risiko, jangan takut salah. Karena kita perlukan itu melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Hasilnya adalah kalau talentanya bagus, dia akan bisa bersinar.
Bagaimana kiat-kiat Anda memimpin dengan tim seperti itu?
Sebenernya saya kurang aktif dalam memimpin, sih. Kita berdua tuh agak sedikit pasif dalam memimpin. Jadi tim itu masing-masing memimpin diri sendiri.
Mungkin kekurangan kita adalah kita kurang aktif, kurang partisipatif dalam hal itu. Tapi tadi, kalau orangnya memang bagus akan sangat senang karena tidak dikasih batasan untuk bisa berkembang. Kekurangannya kalau mereka bagus nanti mereka cabut. Tapi itu tidak masalah.
Apa contoh gebrakan untuk memajukan usaha ini? Atau untuk menghadapi persaingan di bisnis ini?
Kita akan bersaing dengan semakin banyak kompetitor. Baik merek lokal maupun merek luar. Baik merek-merek KW atau merek negara lain yang memang harganya lebih murah, tapi kualitasnya lebih bagus.
Kalau kita kembali ke roots dasarnya sepatu kan nomor satu kualitas harus bagus, harus enak dipakai. Kalau memang masih ada yang perlu diperbaiki, kita kejar itu.
Yang kedua secara merek harus kuat. Soalnya yang bisa bikin sepatu lebih murah dan lebih bagus dari Brodo saya yakin lebih banyak.
Terus analisis tren dan peluang. Contoh, tiga tahun terakhir ada tren yang lebih ke arah sneakers warna abu-abu. Kita coba dan ternyata sukses besar. Berarti ke depannya pun harus bisa membaca tren-tren selanjutnya.
Terus kita lihat kategori. Macam-macam. Jadi kategori bagian dari strategi. Baru terakhir distribusi.
Kalau tidak salah transaksi online sepatu di Indonesia tuh masih 10 persen dari total penjualan. Berarti mayoritas masih ada di offline. Sedangkan kita online-nya besar sekali. Jadi masih ada peluang untuk mengembangkan bisnis.
Apa filosofi dan nilai-nilai dalam berbisnis atau pun menjalani hidup?
Prinsipnya, kita salah satu yang beruntung bisa berbisnis sesuai passion. Kadang-kadang orang berbisnis hanya melihat peluang. Tapi kadang itu bukan bidang yang mereka suka.
Kalau kita kebetulan nyambung semuanya. Bisnis sesuai passion, berbisnis dengan sahabat baik pula. Itu sudah kita nikmati. Saya dan Uta tuh bener-bener enjoy dan merasa sangat bersyukur. Walaupun tantangan pasti akan terus ada.
Kita tidak akan selalu naik, pasti akan naik turun. Saat turun benar-benar stresnya minta ampun. Jadi kita selalu mencoba menikmatinya. Kalau ada masalah kita kerjakan. Kalau bisnis lagi turun, ya jangan sedih terlalu lama karena pasti akan naik lagi. Kalau lagi naik, kita juga jangan sombong.
Ibaratnya ini anak pertama kita yang masih terus berkembang dan terus bertahan. Kita berusaha menjaganya terus. Sebisa mungkin kita membuat strategi untuk jangka panjang.
Apa yang masih dan ingin dikejar dalam bisnis?
Dalam bisnis, sebisa mungkin yang nomor satu tuh reputasi. Itu yang saya ingat sekali dari teman-teman. Jangan sampai reputasi jelek atau menjadi jelek.
Lalu bagaimana caranya? Ya harus memiliki wisdom saja. Dulu waktu baru mulai mungkin maunya cepet sukses, cepet kaya. Kita berdua lurus-lurus aja. Bisa dibilang kita terlalu santai. Terlalu tidak serius karena kita mikirnya ya ngapain juga serius-serius amat.
Ini juga industri kreatif. Kita juga harus kreatif. Kalau kita bisa berkembang artinya kita bisa merekrut banyak orang, bisa menghidupi lebih banyak orang.
Kita tuh masih jauh banget dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Kita sebenarnya ingin ada brand Indonesia yang bisa jadi brand global. Kita mencoba menjadi salah satunya.
Karena pabrik-pabrik kita kan sudah biasa bikin sepatu buat merek luar negeri. Sementara di China, brand-brand lokalnya sudah mulai unjuk gigi di global. Ada Li Ning sama Anta. Bahkan Anta sudah membeli Puma. Jadi harusnya di Indonesia ada yang bisa mulai.
Apa obsesi yang belum tercapai?
Saya melihat posisi kita dibandingkan potensinya itu masih jauh. Saya ingin kita bisa punya sesuatu yang bisa terus melahirkan talenta-talenta sepatu.
Ingin desain yang terbaik itu di Indonesia. Soalnya kita tidak kekurangan talenta. Ketika diajari ternyata cepat bisa. Siapa tahu kita bisa bikin sekolah sepatu, misalnya. Yang tidak kalah dengan sekolah sepatu di Italia.
Atau misalnya kita bisa punya pusat riset teknologi dan inovasi yang berkaitan dengan sepatu di Indonesia. Itu kan keren ya.
Di sentra pengrajin sepatu yang sudah ada mungkin lebih karena tidak melihat jangka panjang. Melatih dari yang tidak punya menjadi punya keterampilan membuat sepatu mungkin sudah cukup bagi mereka. Tapi bagaimana agar bisa lebih kuat lagi dan bisa bersaing dengan merek-merek luar itu kan beda. Dan belum ada yang fokus ke sana.
Selalu Full Team Bersama Keluarga
Bagi saya, keluarga itu penting, sangat penting. Itu nomor satu. Contoh, hidup kan tidak selalu untuk bisnis. Kita selalu harus ada tempat untuk pulang.
Orang tua menanamkan semua. Ya semangat, ya karakter. Kalau saya melihat, bapak itu mirip sama saya, santai orangnya. Cuma dia tetap pekerja keras. Kalau ibu selalu berusaha anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. Selalu mendorong kita untuk bisa berprestasi.
Sekarang justru mayoritas dari kita, saya empat bersaudara, tiga menjadi pengusaha dan satu dokter. Yang cukup krusial waktu orang tua saya ambil S2 di luar negeri. Itu membentuk perspektif saya.
Saya dikasih eksposur maksudnya Bahasa Inggris saya jadi bagus. Dikasih eksposur untuk bisa ikut pertukaran pelajar. Satu tahun tinggal bersama orang tua angkat itu membentuk pola pikir yang berbeda. Bisa memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi, beradaptasi, dan lain-lain.
Kalau bersama keluarga sendiri, karena anak-anak sudah mulai besar mereka sudah ada kegiatan sendiri. Yang sulung aktif di bola basket. Yang bungsu aktif di beladiri. Sementara Istri aktif di bidang pendidikan, sedang buka sekolah lagi, sedang ekspansi, mau bikin kampus, dan lain-lain.
Akhir pekan menjadi kegiatan bersama. Kalau anak-anak ada kejuaraan, kita antar, kita tonton. Atau makan bareng. Yang penting harus bareng-bareng dan selalu bareng-bareng. Itu wajib. Jadi waktu untuk mereka tetap ada.
Karena kita pulangnya malam terus, ya. Sedangkan umur mereka terus bertambah. Umur 17 mungkin sudah pada sibuk sendiri. Dan itu tak lama lagi.
BIODATA
Muhammad Yukka Harlanda
Pengalaman
CEO PT Brodo Ganesha Indonesia
Juni 2012 – Sekarang
Pendidikan
Institut Teknologi Bandung
Teknik Sipil – Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan 2007-2011
AMES High School, Iowa, AS 2005-2006
SMAN 8 Jakarta 2004-2005
Editor: Iwan Subarkah
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

