Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peluncuran Indonesia Digital Infrastructure Report 2021 oleh BeritasSatu secara virtual, Kamis, 25 November 2021. (IST)

Peluncuran Indonesia Digital Infrastructure Report 2021 oleh BeritasSatu secara virtual, Kamis, 25 November 2021. (IST)

BeritaSatu Terbitkan Indonesia Digital Infrastructure Report 2021

Kamis, 25 November 2021 | 13:38 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Tim riset BeritaSatu Media Holdings meluncurkan Laporan Infrastruktur Digital Indonesia (Indonesia Digital Infrastructure Report) 2021. Laporan tersebut mengupas lengkap tentang pembangunan infrastruktur digital Indonesia, baik infrastruktur keras (hardware) maupun infrastruktur lunak (software).  

Anthony Wonsono, Deputi CEO BeritaSatu Media Holdings, mengatakan, penerbitan Indonesia Digital Infrastructure Report 2021 disusun oleh tim riset BeritaSatu selama empat bulan yang dipimpin oleh Dion Bisara.

Penulisan laporan juga diampu oleh Dewan Penyelia yang mumpuni terdiri atas  Rudiantara (Ketua) yang merupakan Menkominfo RI 2014-2019, Alex J Sinaga (mantan Dirut Telkom), Alexander Rusli (mantan Dirut Indosat Oredoo), serta pakar/akademisi Onno W Purbo dan Bayu Prawira Hie.

“Penulisan pertama dari laporan sekitar 100 halaman tersebut mulai diproses pada Mei-Juni 2021. Laporan ditulis dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris, agar bisa lebih dipahami oleh berbagai pihak dan kalangan di Tanah Air dan luar negeri,” ujar Anthony, dalam peluncuran Indonesia Digital Infrastructure Report) 2021 dalam Economic Outlook 2022 yang digelar BeritaSatu Media Holdings, Kamis (25/11) .

Sementara itu, latar belakang penerbitan Indonesia Digital Infrastructure Report 2021 karena selama ini yang menjadi isu utama sudah banyak mengenai ekonomi digital. Sementara itu, laporan terkait infrastruktur digital hampir tidak ada, atau kalau pun ada masih parsial, atau sepotong-sepotong.

“Tidak ada, dan kita nggak pernah lihat (yang lengkap). Mungkin, kita juga bisa bikin satu laporan lengkap tentang infrastruktur digital, tidak sepotong-sepotong,” tutur Anthony.

Dia melanjutkan, framework dari Indonesia Digital Infrastructure Report 2021 dibagi dalam dua kategori besar, yaitu infrastruktur digital infrastruktur keras (hardware) dan infrastruktur lunak (software). Komposisi kupasan hardware mencapai 70-80% dan software 20-30%.

“Kali ini, penulisan laporan hardware infrastruktur digital ini mengambil berkisar 70-80% dari laporan secara keseluruhan dan berkisar 20-30% berupa software. Bukan karena apa, tapi bisa dibilang karena keterbatasan dan waktu,” jelasnya.

Pada infrastruktur perangkat keras, Indonesia di antaranya telah dan sedang membangun fiber optik Palapa Ring, pembangunan pusat data (data center), pengadaan satelit, dan upaya migrasi TV terestrial analog ke digital (analog switch off) dengan target tuntas 2 November 2022.

Sementara itu, perangkat keras infrastruktur dan teknologi yang canggih juga memerlukan sumber daya talenta digital yang mampu mengoperasikannya. Karena itu, laporan juga menyinggung seperti didorong oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim bahwa ke depan harus ada percepatan pencipataan talenta digital karena dibutuhkan 9 juta hingga tahun 2035.

Laporan BeritaSatu pun mengupas antara lain program Merdeka Belajar dari Kemendikbudristek. “Menurut saya, itu emang suatu langkah luar biasa dan inisiatif yang emang sudah lama dinantikan oleh masyarakat Indonesia ya,” katanya.

Menurut Anthony, dua hal tersebut, baik infrastruktur keras dan lunak, harus disinergikan dan bisa dibangun bersama untuk mewujudkan ekonomi digital yang benar-benar tangguh.

Anthony pun menyebut riset Temasek, Google, dan Bain & Company bahwa Indonesia punya potensi ekonomi digital bisa mencapai US$ 146 miliar sampai tahun 2025. Sedangkan dalam 10-30 tahun ke depan, nilai ekonom digital Indonesia akan berkembang lebih  besar dan membutuhkan inovasi digital lebih banyak lagi.

“Karena itu, saya sangat senang dan cukup bangga dengan tim kita yang mampu untuk menerbitkan laporan ini, tentu masih jauh dari sempurna, tetapi apa yang kita terbitkan itu secara esensial mudah-mudahan memberikan manfaat kepada masyarakat, semua stakeholder,” katanya.

Laporan Lengkap

Anthony menjelaskan, laporan tersebut dibuat karena BeritaSatu juga melihat selama ini banyak sekali laporan penelitian mengenai Indonesia yang kebanyakan dilakukan oleh organisasi internasional, atau berasal dari luar negeri, di antaranya oleh McKinsey, Temasek, Google, dan lainnya.

“Kita melihat sudah waktunya ada organisasi dan suatu institusi di Indonesia yang benar-benar juga melakukan penelitian dan menulis laporan mengenai isu-isu yang dihadapi sendiri dengan pandangan dan konteks lokal,” imbuhnya.

Hal yang memberikan semangat, lima dewan penyelia juga menyampaikan bahwa dinantikan laporan-laporan berikutnya. BeritaSatu pun sudah mulai memikirkan tahun depan apa laporan yang akan ditulis dan  proses yang perlu diperbaiki agar menghasilkan laporan yang lebih dalam dan bagus lagi.

“Ke depan, BeritaSatu bukan hanya akan menulis laporan mengenai kegiatan investasi dan infrastucture report, tetapi kita juga akan masuk ke dalam sektor-sektor lain yang menjadi krusial buat pertumbuhan dan kemajuan Indonesia, mulai dari isu kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan perubahan iklim,” tutur Anthony.

Bisa Jadi Referensi

Sementara itu, Rudiantara berpendapat, inisiatif BeritaSatu untuk membuat laporan tentang digital infrastruktur Indonesia tahun 2021 sudah bagus dan akan menjadi referensi untuk siapa pun, terutama untuk kalangan para pebisnis untuk ekspansi bisnisnya.

“Mengapa, walaupun belum sempurna, kita masih membutuhkan pembangunan infrastruktur digital,” tutur Rudiantara.

Menurut dia, negara Indonesia cukup terlambat dalam membangun infrastruktur digital dibandingkan negara-negara tetangga. Indikasinya, belanja (spending) infrastruktur digitral Indonesia  terhadap produk domsetik bruto (PDB) jauh lebih rendah daripada Thailand dan Malaysia. Walaupun diakuinya, beberapa tahun terakhir, Indonesai sangat gencar membangun infrastruktur digital.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN