Menkominfo Beberkan Kendala Implementasi 5G di Indonesia
JAKARTA-,investor.id- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyoroti tentang kendala yang dihadapi Indonesia dalam melakukan implementasi teknologi 5G. Salah satu kendala yang paling mencolok adalah ketersediaan frekuensi.
“Untuk kita ketahui, kendala yang paling besar di 5G adalah tersedianya spektrum frekuensi yang memadai. Karenanya program farming dan refarming spektrum frekuensi menjadi perhatian utama Kemenkominfo. Dan refarming frekuensi bukan pekerjaan yang mudah, karena harus memindahkan pengguna spektrum itu ke frekuensi yang lain. Nah ini perlu komunikasi yang intens dan dia akan berimplikasi pada sisi komersial. Kalau memindahkan pasti ada biaya-biayanya yang jumlahnya tidak akan sedikit,” kata Johnny dalam acara yang bertajuk Mendigitalkan Indonesia: Retrospeksi Kominfo 2021 dan Outlook 2022, di Jakarta, Selasa (28/12).
Selain ketersediaan spektrum, juga ketersediaan handset atau smartphone. Saat ini, belum semua smartphone yang beredar di pasar Indonesia sudah ready 5G. Sehingga butuh kerja sama dengan produsen pembuat handphone.
“Tidak semua handphone yang kita miliki memmpunyai fasilitas 5G. Software-nya belum tentu 5G. Sehingga, kita juga harus bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan pembuat handphone. Jadi ada di sisi operator menyiapkan infrastruktur, dari sisi pemerintahan dalam menyediakan spektrum dan di sisi pengguna untuk menyiapkan handphone,” ungkap Johnny.
Johnny menambahkan, untuk dapat menikmati 5G, masyarakat juga perlu memiliki handphone yang memenuhi kualifikasi 5G. Saat ini, kualifikasi itu belum semua handphone di Indonesia membuka software-nya untuk 5G.
“Baru beberapa, kalau tidak salah, OPPO sudah buka, Samsung juga sudah. Tetapi teknologi seperti Apple misalnya, belum dibuka. Kenapa Aple belum buka? Karena Apple, handset-nya bergerak di band 2,6 Ghz. Belum ada layanan 2,6 Ghz di Indoensia untuk 5G. Yang ada baru di 2,1 dan 2,3 Ghz. Sehingga walaupun Apple buka, toh belum ada layanannya,” tegas Johnny.
Sehingga, lanjut Johnny, Indonesia perlu memastikan tersedianya spekturum frekuensi di semua level, baik di 2,1 Ghz, 2,3 Ghz, 2,6 Ghz, 3,3 Ghz dan 3,5 Ghz, untuk 5G.
“Dan juga spektrum di atasnya, super high atau milimeter wave untuk keperluan 5G di Indonesia. Namun demikian, Indonesia menandai tahun 2021 dengan baik, yaitu dengan beroperasinya 5G komersial. Ini perlu kita terus bergerak dan lanjutkan ke depannya,” tandas Johnny.
Editor: Emanuel
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler

