Kenali Penyebab Prolaps Organ Panggul
Posisi rahim yang normal seharusnya berada tepat di atas vagina, namun posisi tersebut dapat berubah, menurun ke vagina dan hal ini dapat disertai penurunan organ panggul lainnya. Kondisi rahim yang turun, biasa dikenal dengan turun peranakan. Hal ini merupakan bagian dari penurunan organ panggul secara keseluruhan.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Uroginekologi RS Pondok Indah Grup dr. Astrid Yunita, Sp.OG (K) menjelaskan, prolapse organ panggul (POP) adalah turun atau menonjolnya dinding vagina ke dalam liang vagina atau luar vagina yang kemudian diikuti dengan organ-organ pelvik (rahim, kandung kemih, usus, atau rektum) akibat kelemahan struktur penyokong dasar panggul. Prolaps uteri bisa terjadi pada wanita di usia berapapun, meski kondisi ini lebih banyak dialami oleh wanita pada usia setelah menopause, atau wanita yang pernah melahirkan normal.
Menurut dr Astrid, prolaps ini dapat meliputi tiga area berdasarkan segmen dinding vagina yang mengalami penurunan, yaitu: Prolaps anterior yang terjadi pada dinding vagina anterior (urethrokel, sistokel), Prolaps posterior yang terjadi pada dindingvagina posterior (rektokel, enterokel), Prolaps apikal/superior yang terjadi pada dinding vagina apikal (leher rahim/serviks, rahim/uterus, puncak vagina).
Untuk prolaps pada Rahim dapat diklasifikasikan menjadi 44 stadium, yaitu stadium 1 berupa penurunan sampai dengan setengah panjang vagina. Stadium 2 yaitu penurunan lebih jauh dari stadium 1 hingga batas hymen (selaput dara) atau tepi vagina sehingga dapat terlihat pada, atau setinggi celah vagina.
“Sedangkan stadium 3 sebagian besar penurunan sudah melewati selaput dara dan berada di luar vagina. Stadium 4 terjadi penurunan maksimum dari setiap kompartemen organ pelvik,” jelasnya.
Dr Astrid mengatakan, penyebab dan faktor risiko terjadinya prolaps umumnya multifaktoral (dapat lebih dari satu penyebab), yang meliputi beberapa faktor risiko yang terjadi secara bersamaan, antara lain genetik dan ras, berkaitan dengan kolagen dan elastin yang mempengaruhi kualitas jaringan, penyokong pelviks, riwayat kehamilan dan persalinan misalnya kehamilan berulang, riwayat kehamilan dan persalinan, dengan bayi besar, riwayat persalinan berbantu dengan alat vakum/forceps.
Selain itu, riwayat pembedahan seperti angkat rahim, operasi prolaps sebelumnya, terapi yang mengganggu persarafan pelviks, misal terapi radiasi, trauma akibat kecelakaan, obesitas, konstipasi, pekerjaan atau aktivitas fisik serta kebiasaan angkat berat, penyakit paru kronik atau batuk kronik, tumor abdomen, tumor rongga pelviks dan penumpukan cairan di rongga perut, proses penuaan, menopause, status estrogen, dan kebiasaan merokok.
Lebih lanjut dr Astrid mengatakan, ada beberapa gejala yang membuat seseorang menyadari mengalami prolaps organ panggul. Apabila merasakan salah satu gejala ini, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan uroginekologi.
Gejala pada vagina keluhan gejala benjolan di vagina dipengaruhi oleh gravitasi, sehingga semakin berat terasa pada posisi berdiri.
Semakin lama, benjolan akan terasa semakin menonjol terutama setelah adanya aktivitas fisik berat jangka panjang seperti mengangkat benda berat atau berdiri. Gejala pada vagina lainnya seperti rasa menggantung/ tertarik pada vagina, tekanan pada panggul hingga rasa pegal pada punggung, rasa tidak nyaman/ penuh di vagina, keputihan, keluar darah dari erosi benjolan vagina.
Sementara itu, lanjutnya, gejala gangguan berkemih. Gejala gangguan berkemih dapat disadari dengan sulit memulai berkemih, berkemih tidak lampias atau tidak tuntas, harus mengedan, keluar urin saat batuk atau tertawa, sulit menahan dorongan berkemih, serta infeksi saluran kemih berulang.
Gejala buang air besar (BAB) benjolan di dalam vagina saat mengedan, BAB tidak lampias atau tidak tuntas, sulit BAB dan harus mengedan, perlunya penekanan pada perineum atau vagina posterior untuk membantu BAB.
“Gejala seksual antara lain rasa tidak nyaman saat berhubungan, nyeri saat berhubungan, menghindari hubungan seksual akibat adanya kepercayaan diri yang menurun,” papar dia.
“Prolaps organ panggul dapat terjadi pada Anda yang memiliki faktor risiko, namun demikian, dengan menghindari faktor risiko termasuk melakukan gerakan senam Kegel saat hamil dan setelah melahirkan dapat menurunkan risiko terjadinya prolapse organ panggul di kemudian hari,” tutur dia.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

