Jumat, 15 Mei 2026

Waspada Terjadinya Infeksi Hepatitis pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik

Penulis : Indah Handayani
8 Aug 2021 | 21:05 WIB
BAGIKAN
Webinar Hepatitis dan Penyakit Ginjal Kronik #TemanKPCDI, Minggu (8/8/2021).
Webinar Hepatitis dan Penyakit Ginjal Kronik #TemanKPCDI, Minggu (8/8/2021).

JAKARTA. investor.id – Pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) yang menjalani cuci darah rentan akan terjadinya infeksi. Terutama infeksi hepatitis. Hal ini sangat membahayakan para pasien PGK. Sebab, akan akan membuat usia harapan hidup pasien dialisis yang terkena hepatitis akan semakin singkat.

dr Aida Lydia PhD SpPD-KGH FINASIM, Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia mengatakan, Hepatitis C menginfeksi 130-150 juta orang di dunia dengan estimasi prevalensi 3%.

Hal ini menyebabkan 300.000 orang meninggal akibat HCV per tahun. Sedangkan menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2014) di Indonesia estimasi prevalensi terjadi 0,8%-1%.

Pada pasien PGK terutama yang menjalani hemodialisis (HD) perevalensi hepatitis lebih tinggi.

ADVERTISEMENT

“Kelompok tertinggi terkena hepatitis diantaranya pasien hemodialisis dimana secara umum usia harapan hidup pasien dialisis yang terkena hepatitis akan semakin singkat, belum lagi kalau terkena penyakit hati kronik, yaitu sirosis hati atau kanker hati,” ungkapnya di sela webinar Hepatitis dan Penyakit Ginjal Kronik #TemanKPCDI, Minggu (8/8/2021).

Dr dr Irsan Hasan SpPD-KGEH FINASIM, Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia mengungkapkan saat ini untuk vaksin hepatitis B sudah tersedia, sedangkan hepatitis C belum tersedia.

Salah satu kondisi yang harus diperhatikan adalah hepatitis kronik yang dapat berlanjut menjadi sirosis hati, dimana kasus sirosis hari di Indonesia pada umumnya disebabkan oleh hepatitis B dan hepatitis C.

“Pada kejadian penyakit ginjal kronik stadium akhir atau dalam 8 tahun, studi menunjukkan bahwa pada kelompok yang mendapatkan terapi antiviral lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapatkan terapi antiviral,” tambahnya.

Emanuel Melkiades Laka Lena, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, menambahkan saat ini pasien PGK berpotensi besar sekali untuk terpapar penyakit di ruang hemodialisa salah satunya hepatitis. Melihat hal ini kita harus dapat menemukan cara lain agar pasien gagal ginjal tidak berisiko terpapar hepatitis. Perlu ada pola penanganan baru pada pasien PGK dan hepatitis ini dengan merubah cara pengobatannya, salah satunya dengan pengobatan Erythropoietin (EPO) yang merupakan terapi pengobatan bagi pasien cuci darah.

“Hal ini bisa menjadi perhatian kita kedepan untuk menjadi lini utama dalam pengobatan yang optimal, harga terjangkau dan risiko yang kecil,” papar dia.

Selain itu dr Azhar Jaya SKM MARS, Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan menambahkan Penyakit PGK angkanya semakin lama semakin tinggi, untuk itu kita harus melakukan tindakan preventif jangan sampai menjadi parah dan melakukan cuci darah. Banyak upaya preventif yang menjadi tugas bersama, agar bisa mengurangi kenaikan kasus.

Pemerintah selalu berupaya memberikan pelayanan bagi pasien cuci darah, dimana saat ini anggaran penyakit gagal ginjal harus didiskusikan lebih lanjut dengan parlemen.

“Kementerian Kesehatan siap bekerjasama dengan organisasi profesi dalam memberikan pengobatan kepada pasien PGK salah satunya usulan penggunaan Erythropoietin (EPO) dengan memperhatikan standar terapi yang sudah ada,” paparnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia