Jumat, 15 Mei 2026

Siap-siap! Pemerintah bakal Kenakan Biaya Vaksin Booster Rp 100.000

Penulis : Yustinus Paat
8 Feb 2023 | 14:19 WIB
BAGIKAN
Menkes Budi Gunadi Sadikin di acara rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/2/2023).
Menkes Budi Gunadi Sadikin di acara rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/2/2023).

JAKARTA, Investor.id - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan salah satu perubahan yang pasca pencabutan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) adalah pemberian vaksinasi Covid-19 booster tidak gratis lagi untuk umum.

Menurut Budi, masyarakat yang mendapatkan vaksin booster akan dikenai biaya Rp 100.000. "Vaksinasi untuk booster disiapkan, harganya sebenarnya di bawah Rp 100.000 belum pakai ongkos, ini bisa dicover oleh masyarakat secara independen," ujar Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/2/2023).

Budi mengatakan, masyarakat bisa melakukan vaksin booster setiap enam bulan sekali. Menurut dia, nilai Rp 100.000 tidak terlalu kesulitan bagi masyarakat untuk membayarnya. "Harga Rp 100.000 setiap enam bulan sekali menurut saya sih suatu angka yang masih make sense ya," terang Budi.

ADVERTISEMENT

Budi menegaskan, kebijakan ini tidak akan berlaku secara umum untuk semua masyarakat. Bagi masyarakat kurang mampu, kata dia, akan ada kebijakan tersendiri di mana bisa mendapatkan vaksin gratis melalui mekanisme Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan. "Untuk masyarakat yang tidak mampu nanti kita pakai mekanisme PBI," ungkap dia.

Selain vaksinasi, Budi mengatakan, masyarakat tetapi menjalankan protokol kesehatan pada masa transisi pandemi Covid-19 menuju endemi. Termasuk, kata dia, mengantisipasi munculnya varian-varian baru Covid-19 karena peningkatan kasus Covid-19 umumnya disebabkan oleh munculnya varian baru, bukan mobilitas masyarakat.

"Kita akan lebih agresif mengenai prokes, vaksinasi, mengenai varian-varian baru. Karena kenaikan kasus Covid-19 karena adanya varian baru, bukan karena mobilitas, bukan acara-acara," pungkas Budi.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia