Jumat, 15 Mei 2026

Hipertensi Harus Ditekan Demi Turunkan Prevalensi Penyakit Kronis

Penulis : Mardiana Makmun
3 Mar 2025 | 17:26 WIB
BAGIKAN
Paparan penyakit ginjal akibat hipertensi dalam seminar Breaking Barriers, Building Health: The Science of Chronic Disease di Jakarta
Paparan penyakit ginjal akibat hipertensi dalam seminar Breaking Barriers, Building Health: The Science of Chronic Disease di Jakarta

JAKARTA, investor.id –Hipertensi atau tekanan darah tinggi berkaitan dengan penyakit kronis, seperti penyakit jantung coroner (PJK), diabetes melitus, gagal ginjal hingga stroke. Karena itu, penyakit hipertensi harus ditekan.

“Penyakit kronis berkaitan erat dengan hipertensi dan merupakan salah satu tantangan terbesar dalam dunia kesehatan saat ini. Oleh karena itu, kami di Prodia berkomitmen untuk memberikan kontribusi dalam meningkatkan pemahaman dokter dan para tenaga medis mengenai pentingnya skrining, deteksi dini, pengelolaan, dan pemantauan penyakit kronis secara holistik,” ujar Routine Product Manager Prodia, Matthew Justyn,  pada Roadshow Seminar Dokter Nasional 2025 di 11 kota besar di Indonesia bertema ‘Breaking Barriers, Building Health: The Science of Chronic Disease’

Data menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi diperkirakan meningkat hingga 29% dari populasi dewasa global pada tahun 2025. Hipertensi merupakan faktor risiko utama yang berkontribusi pada kerusakan organ vital, seperti otak, jantung, ginjal, retina, pembuluh darah besar (aorta), dan pembuluh darah perifer.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, diabetes mellitus juga menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Prevalensi diabetes di tahun 2024 diperkirakan Indonesia memiliki lebih dari 20 juta penderita. Ini menjadikan Indonesia termasuk dalam lima besar dunia dengan jumlah kasus diabetes tertinggi di dunia.

“Diabetes sering kali dikaitkan dengan hipertensi, yang meningkatkan risiko stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung, dan kerusakan ginjal,” ujar dokter penyakit dalam  Prof dr Sidartawan Soegondo,MD, PhD, DTM&H, FINASIM, FACE.

Berdasarkan data WHO, lebih dari 17 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit jantung. Faktor gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, pola makan yang tidak seimbang, dan kurangnya aktivitas fisik, menjadi pemicu utama meningkatnya prevalensi penyakit jantung di Indonesia. Oleh sebab itu, edukasi kepada tenaga medis dan masyarakat menjadi aspek krusial dalam pencegahan dan penanganan penyakit ini.

Kota Jakarta menjadi tuan rumah pertama dari seminar nasional dengan menghadirkan dr Johanes Purwoto, SpPD-KEMD, FINASIM sebagai moderator, serta Prof dr Sidartawan Soegondo,MD, PhD, DTM&H, FINASIM, FACE dan ahli gizi dr Ida Gunawan, Ms, Sp. G.K, Subsp. K. M., FINEM sebagai pemateri.

“Acara ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya dalam mendukung efektivitas pengelolaan penyakit kronis di Indonesia,” tandas matthew.

Editor: Mardiana Makmun

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia