Menjaga Kebersihan Diri Dapat Mencegah dari Penularan Hepatitis A
JAKARTA, investor.id – Hepatitis atau peradangan hati, yang kerap dikenal sebagai ‘sakit kuning’, masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia. Rendahnya pemahaman terhadap bahaya penyakit ini tercermin dari masih adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) hepatitis A, khususnya di lingkungan sekolah.
Laporan dari WHO pada April 2024 lalu memperingatkan tentang bahaya virus hepatitis yang telah merenggut 3.500 nyawa setiap harinya di seluruh dunia, dan jumlahnya diperkirakan akan terus meningkat dengan 6.000 orang baru terinfeksi setiap harinya.
Penyakit hepatitis ini menempati peringkat kedua sebagai penyebab kematian menular terbanyak di dunia setelah tuberkulosis.
Hepatitis adalah kondisi peradangan pada organ hati. Peradangan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius.
Salah satu penyebab paling umum adalah infeksi virus, dengan jenis yang paling sering ditemui meliputi virus hepatitis A, B, dan C. Masing-masing jenis virus ini memiliki cara penularan dan tingkat keparahan yang berbeda-beda, sehingga penting untuk memahami penyebab dan karakteristiknya guna melakukan pencegahan serta penanganan yang tepat.
Hampir sama dengan infeksi virus pada umumnya, gejala hepatitis A berupa demam, meriang, sakit kepala, nafsu makan menurun dan muntah.
Bedanya, hepatitis A dapat disertai kondisi kuning yang biasanya bersifat akut. Sedangkan hepatitis B dan C sangat sulit dideteksi. Gejala-gejala baru muncul jika sudah terjadi komplikasi.
Ada beberapa langkah untuk mencegah penyebaran hepatitis A:yaitu pastikan makanan dan suplai air bersih.
“Jaga kebersihan dapur dan alat makan, terapkan kebiasaan sanitasi yang baik. Cuci tangan sebelum makan dan setelah ke kamar mandi,”: kata dr. Steven Zulkifly, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam dari RS Siloam Kebon Jeruk dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (6/5/2025).
Selain itu, karena rute penularan adalah oral, lakukan praktek seksual yang sehat.. Selanjutnya virus hepatitis pada makanan atau minuman bisa mati jika dipanaskan di suhu 85° Celcius selama 1 menit. Untuk itu, konsumsilah makanan yang matang.
Selain itu, vaksinasi hepatitis A. Anak-anak dapat divaksin hepatitis A dua kali dalam jarak waktu 6 bulan untuk proteksi seumur hidup.
Sedangkan infeksi hepatitis B dan C menular melalui darah. Secara vertikal, bayi berisiko terjangkit hepatitis dari ibunya. Penularan dapat berlangsung pada proses kehamilan dan persalinan.
Secara horizontal, paparan terhadap produk darah yang terinfeksi menjadi sebab penularan hepatitis B dan C. Faktor risiko utamanya penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Contohnya pada proses pembuatan tato atau piercing.
Gaya hubungan seksual multiple partner baik lawan jenis ataupun pada homoseksual juga berisiko. Pencegahan penularannya adalah dengan menghindari faktor-faktor risiko tersebut.
Para tenaga medis umumnya sudah dilakukan vaksinasi hepatitis B agar terhindar dari infeksi hepatitis B. Akan tetapi, tetap harus hati-hati dalam menangani atau kontak dengan pasien yang terinfeksi hepatitis B dan C.
Minimnya kesadaran akan pentingnya vaksinasi hepatitis B menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya pencegahan.
Karena sifatnya yang sering tanpa gejala di tahap awal, hepatitis B dan C kerap baru terdeteksi setelah muncul komplikasi serius seperti pengerasan hati atau bahkan berkembang menjadi kanker hati.
Tidak Selalu dari Virus
Hepatitis tidak selalu disebabkan oleh infeksi virus. Dalam sejumlah kasus, peradangan hati justru dipicu oleh faktor non-infeksi, seperti konsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan tertentu, penyakit autoimun, serta perlemakan hati.
Konsumsi alkohol yang berlebihan, terutama dalam jangka panjang, dapat merusak sel-sel hati dan menyebabkan peradangan. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk membatasi jumlah dan frekuensi konsumsi alkohol secara ketat.
Hepatitis yang disebabkan oleh obat-obatan juga perlu menjadi perhatian. Penggunaan obat dalam jangka panjang sebaiknya selalu berada di bawah pengawasan dokter.
Dosis parasetamol yang berlebihan, misalnya, bisa membuat Anda terkena hepatitis. Konsultasi sebelum memulai pengobatan sangat penting untuk mengurangi risiko gangguan fungsi hati.
Selain itu, perlemakan hati yang umumnya dialami oleh individu dengan obesitas juga berisiko berkembang menjadi hepatitis jika tidak ditangani dengan baik. Pencegahannya dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti olahraga teratur, menjaga pola makan seimbang, dan mempertahankan berat badan ideal.
Sementara itu, hepatitis akibat penyakit autoimun biasanya muncul secara tiba-tiba dan hingga kini belum ditemukan metode pencegahan yang efektif. Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan medis yang tepat sangat penting.
Kelompok Usia Rentan
Semua orang berisiko terjangkit hepatitis. Namun, ada kelompok usia tertentu yang rawan. Karena penularannya mudah terjangkit lewat oral, hepatitis A banyak ditemukan pada usia anak sekolah yang sanitasinya belum baik. Dari KLB di Indonesia, rentang usia rawan hepatitis A adalah 10-15 tahun.
Sedangkan hepatitis B dan C rentan terjadi di kelompok usia produktif sekitar 35-60 tahun. Karena faktor risikonya ada pada hubungan seksual, pembuatan tato, piercing, dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril.
Komplikasi Hepatitis
Komplikasi adalah kondisi yang muncul akibat dari suatu penyakit. Meski ada pasien yang terjangkit hepatitis B dan HIV bersamaan, komplikasi hepatitis bukanlah HIV. Kebetulan saja media penularannya sama lewat darah melalui hubungan seksual.
Bukan berarti jika seseorang mengidap hepatitis, dia akan mengidap HIV Seseorang tidak akan mengidap HIV kecuali dia tertular virusnya. Kalaupun pasien terjangkit hepatitis B, C, dan HIV bersamaan, dia tidak perlu khawatir. Karena salah satu obat HIV juga cocok untuk terapi hepatitis B,” jelas dr. Steven, yang mendapatkan pendidikan spesialisnya di Universitas Indonesia.
Hepatitis B dan C berisiko komplikasi mengecilnya volume liver (sirosis) dan kanker hati. Gejalanya tidak muncul tapi tiba-tiba hati mengecil. Proses ini butuh waktu sekitar 10-20 tahun. Kadang perut pasien buncit karena penumpukan cairan (asites). Uniknya, hepatitis B bisa berkembang menjadi kanker hati tanpa melalui proses sirosis.
Sedangkan karena infeksi hepatitis A bisa sembuh dengan sendirinya, komplikasi sangat jarang terjadi. Tapi sekitar 1% kasus hepatitis A dapat mengalami gagal hati akut, keluhan kuning, perdarahan, dan gangguan kesadaran.
Dibutuhkan pemeriksaan laboratorium atau radiologi untuk membedakan gejala infeksi hepatitis atau infeksi lain. Untuk mendiagnosis hepatitis A, dokter membutuhkan pemeriksaan anti HAV (Hepatitis A Virus).
Sedangkan untuk mengetahui pasien mengidap hepatitis B, dokter harus mencari tau HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen) dan untuk pemeriksaan hepatitis C, ada pemeriksaan anti HCV (Hepatitis C Virus). Sementara itu untuk mendeteksi perlemakan hati, dokter menggunakan ultrasonografi (USG).
Belum Ada Obatnya
Secara umum, hepatitis B dan C berisiko infeksi kronik. Penyakit ini bisa menjangkit seumur hidup dan menetap.
Telah tersedia vaskin untuk hepatitis B. Tiga kali vaksinasi untuk usia nol, satu, dan enam bulan terbukti memberi perlindungan seumur hidup. Vaksin hepatitis B bisa melindungi sekitar 90-95% kasus. Apalagi kalau ini dibuktikan dengan anti-HBs yang tinggi. Anti-HBs di atas 10 cukup melindungi Anda dari hepatitis B.
Namun, belum ada obat yang bisa memberantas tuntas virus hepatitis B. Virus ini tidur di dalam sel hati sehingga tidak semua hepatitis B bisa langsung diterapi.
Untuk pemberian antivirus dalam bentuk tablet, virusnya harus ditunggu hingga bangun. Hingga saat ini, terapi hepatitis B memerlukan terapi jangka panjang dengan tingkat kesembuhan yang bervariasi.
Sebaliknya, belum ada vaksin untuk hepatitis C. Tapi sekitar 10 tahun terakhir sudah ada obat DAA (Direct Acting Antiviral). Konsumsi obatnya selama 3-6 bulan, tergantung tingkat keparahan. Jika ada sirosis hati, terapi obati akan berlangsung hingga 6 bulan. Tingkat keberhasilan pengobatan DAA di atas 90-95%.
Grup RS Siloam terus mengedukasi masyarakat mengenai hepatitis. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya hepatitis serta pentingnya vaksinasi hepatitis.
“Di RS Siloam Kebon Jeruk, penanganan hepatitis bersifat menyeluruh. Penyakit ini dapat ditangani mulai dari tindakan preventif, diagnostik, hingga terapi. Vaksinasi hepatitis tersedia, sarana pemeriksaan lengkap, laboratorium, peralatan endoskopi yang dibutuhkan memadai. Fasilitas after care untuk pasien juga tersedia. Pasien yang terkena hepatitis B akan terus dipantau hingga muncul waktu yang tepat untuk diterapi. Pasien hepatitis C akan langsung diobati agar tidak berkembang menjadi sirosis,” jelas dr. Steven.
Editor: Imam Suhartadi
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler


