Ketua IDAI: Jangan Salah Persepsi soal Stunting
JAKARTA, investor.id – Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof Dr dr Aman B Pulungan SpA(K) FAAP FRCPI (Hon) mengatakan, banyak yang salah mengartikan stunting. Padahal, dengan salahnya persepsi tersebut akan berakibat fatal pada masyarakat. Terutama masa depan anak-anak yang malah akan membuat mereka obesitas hingga menimbulkan berbagai penyakit degeneratif.
“Selama ini banyak yang salah persepsi mengenai stunting. Banyak yang beranggapan bahwa stunting itu adalah anak pendek. Padahal, tidak semua anak yang pendek dikatakan stunting. Pengertian yang benar dari stunting adalah mereka yang pendek dan juga mengalami malnutrisi atau kurus karena kekurangan nutrisi,” ungkapnya di sela virtual media gathering, Selasa (16/3).
Menurut Prof Aman, persepsi salah ini banyak berujung pada sasaran yang salah dalam mengentaskan stunting di Indonesia. Sebab, banyak yang menyamaratakan bahwa anak pendek sudah dipastikan stunting. Alhasil, anak-anak yang sebenarnya dalam kondisi gizi baik atau normal saja tapi tinggi badanya tidak sesuai dengan perkembangan seusianya juga diberikan penangan yang sama seperti stunting. Hal ini malah akan membuat mereka mengalami obesitas. Mengingat, penanganan stunting adalah dengan pemberian makan yang bergizi untuk bisa memperbaiki kondisinya tersebut.
“Jika salah penanganan pada anak dengan kondisi gizinya baik atau normal ini malah akan menimbulkan persoalan baru bagi Indonesia dalam 20-30 tahun mendatang. Sebab, mereka berpotensi mengalami obesitas yang akan menimbulkan penyakit degeneratif. Ini akan menyebabkan lost generation bagi Indonesia di masa depan,” paparnya.
Prof Aman menjelaskan salah sasaran penanganan stunting inilah yang ia temukan dalam penelitiannya di Rampasasa, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Dalam penelitiannya itu menemukan bahwa anak-anak tersebut tidak mengalami stunting walau mempunyai perawakan yang pendek. Padahal, data sebelumnya menyebutkan daerah ini anak-anaknya banyak mengalami stunting.
“Pendek yang dialami anak-anak tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik dari orang tua mereka,” sebutnya.
Sebab, lanjut dia, lelaki dewasa pada kelompok pigmoid rampasasa mempunyai tinggi badan di bawah 150 cm, sedangkan tinggi badan perempuan dewasa di bawah 140 cm.
Untuk itu, dalam menentukan stunting ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Misalnya saja kondisi dari orang tuanya. Tidak hanya itu, dilihat pula apakah anak lahir dengan berat badan rendah dan kurang panjangnya.
Ditambah lagi, lakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala secara rutin dan sesuaikan dengan kurva yang ada dalam buku KIA.
Prof Aman lahir di Medan dan menyelesaikan Pendidikan Dokter Umum di Universitas Sumatera Utara pada 1984. Sebelumnya, ia pernah menjadi fellow sebagai mahasiswa kedokteran di Harvard University dan Tulane University, Amerika Serikat. Ia menyelesaikan Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada 1996.
Ia juga pernah menjalani pendidikan sebagai fellow di bagian endokrinologi anak di Vrije Universiteit, Amsterdam. Pada 2002, ia menyelesaikan pendidikan spesialis II (konsultan), Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia.
Hingga pada 2015, ia meraih gelar Doktor (S3) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pada 13 Maret lalu, ia dikukuhkan sebagai guru besar tetap FKUI.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





