Jumat, 15 Mei 2026

Meniru Pola Jepang dan Korsel

Penulis : Thomas Ekafitrianus H / Hari Gunarto
26 Jun 2023 | 09:30 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi ekonomi Indonesia
Sumber: Antara
Ilustrasi ekonomi Indonesia Sumber: Antara

JAKARTA, investor.id – Banyak negara yang berpuluh tahun terjerambab dalam jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap/MIT), terutama beberapa negara Amerika Latin dan Afrika. Namun, tidak sedikit negara yang relatif cepat lolos dari MIT. Indonesia termasuk cukup lama tersandera fenomena MIT, salah satunya karena ‘kutukan’ sumber daya alam (SDA).

Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid berpendapat, beberapa penyebab negara maju dan negara berkembang di dunia terjerambab dalam kondisi middle income trap (MIT) adalah akibat ketergantungan terhadap SDA serta sumber daya manusia (SDM) yang kurang berkualitas. Faktor lainnya adalah kalah dalam persaingan perkembangan teknologi dengan negara maju.

Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan membutuhkan waktu kurang dari 20 tahun dalam berjuang untuk lolos MIT. Tiongkok dengan telaten mengatasi fenomena MIT dan kini bergerak cepat menuju gerbang negara maju. Arsjad menyebut bahwa beberapa strategi yang ditempuh negara-negara maju tersebut bisa diterapkan di Indonesia dengan fokus pada peningkatan produktivitas.

ADVERTISEMENT

Jepang, kata dia, keluar dari MIT dengan menerapkan peningkatan produktivitas melalui pengembangan teknologi dengan skema desentralisasi. Produksi barang-barang berteknologi mulai dari level daerah hingga pusat membuat pendapatan per kapita Jepang meningkat.

Selain itu, Jepang menerapkan kolaborasi antara UMKM dengan usaha besar, sehingga dapat membangun kohesi sosial ekonomi yang berkelanjutan. Pada akhirnya Jepang berhasil menjadi negara maju yang memiliki produk-produk berteknologi tinggi dengan dukungan dari industri-industri kecilnya. “Skema pemerataan transfer teknologi dan kolaborasi usaha besar dan UMKM yang dilakukan Jepang dapat menjadi acuan bagi Indonesia,” ujar Bos Indika Energy tersebut.

Di lain sisi, pembenahan kualitas pendidikan tinggi yang dilakukan oleh Korea Selatan juga dapat menjadi referensi untuk meningkatkan kualitas SDM di Indonesia. Kualitas pendidikan tinggi menjadi kunci bagi penduduk untuk mendapatkan pekerjaan yang tepat dengan penghasilan yang layak. Pengembangan pengetahuan dan keterampilan SDM harus berjalan beriringan sehingga dapat berkontribusi langsung terhadap dunia usaha.

Korea Selatan menghadapi MIT dengan meningkatkan produktivitas melalui transfer teknologi tinggi dan juga peningkatan kualitas pendidikan tinggi dalam membangun SDM. Strategi ini berhasil membuat Korea Selatan keluar dari MIT hanya dalam kurun waktu 19 tahun.

Sementara itu, Tiongkok sedang berproses untuk menjadi negara maju melalui skema yang serupa dengan Jepang dan Korea Selatan, yaitu transfer teknologi. Beberapa industri di Tiongkok telah bersaing dengan produk-produk Jepang dan Korea Selatan dalam hal teknologi. Banyak produk elektronik tinggi otomotif Tiongkok yang berteknologi canggih saat ini membanjiri pasar global. “Menjadi negara maju sudah berada di depan mata Tiongkok untuk saat ini,” kata Arsjad.

Berdasarkan pengalaman negara-negara Asia Timur yang memiliki budaya Asia yang hampir sama dengan Indonesia, Kadin Indonesia yakin negeri ini akan mampu keluar dari MIT. Persyaratan utama dalam menghadapi tantangan saat ini adalah transfer teknologi dan juga peningkatan kualitas pendidikan.

“Kadin Indonesia optimistis dengan mengkolaborasikan pengalaman negara-negara lain akan sangat berguna bagi peningkatan produktivitas dan penguatan ekonomi nasional. Tentunya dengan tetap memegang teguh nilai-nilai bangsa seperti gotong royong dan Bhineka Tunggal Ika. Itu juga menjadi persyaratan mutlak untuk mencapai target Indonesia Emas 2045,” jelas dia.

Sedangkan menurut Bhima Yudhistira, Indonesia bisa meniru upaya dari Korea Selatan (Korsel) yang tahun 1960-an adalah sama-sama sebagai negara miskin. Kemudian Korsel cepat masuk ke negara menengah dan saat ini menjadi negara berpendapatan tinggi. Langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Korsel selalu dari sektor pertanian meloncat ke industri manufaktur.

“Kalau sekarang ada Korean wave seperti K-pop itu adalah sektor jasa yang mendukung sektor manufaktur. Mereka (K-pop) meng-endorse barang-barang buatan Korea seperti Samsung dan LG. Jadi sektor jasa digunakan untuk mendukung sektor manufaktur. Sebenarnya program industri 4.0 di Indonesia itu sudah benar, tapi tidak digarap secara serius,” jelas dia.  

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 4 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia