The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga Acuan pada September 2023
JAKARTA, investor.id - Ekonom Universitas Indonesia Chatib Basri memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed masih akan menaikan suku bunga acuan lagi sebesar 25 basis poin pada September 2023. Sehingga hingga akhir 2023, suku bunga acuan Federal Reserve akan berada di angka 5,75%.
“Ada kemungkinan September 2023, The Fed akan meningkatkan lagi 25 basis poin sehingga jadi 5,75% implikasinya kita melihat likuiditas ketat, pertumbuhan AS akan melandai,” ucap Chatib dalam Investor Daily Roundtable pada Senin (31/7/2023).
Chatib mengatakan bila pertumbuhan ekonomi AS melandai maka akan berdampak ke perekonomian Tiongkok dan Eropa. Jika melihat hubungan perdagangan Indonesia dengan negara-negara tersebut maka kinerja ekspor Indonesia diperkirakan akan melandai.
“Secara logika ekspor Indonesia akan turun dan berdampak ke pertumbuhan ekonomi. Fakta bahwa kita masih bisa tumbuh 5,03% di kuartal I 2023 ini sesuatu yang saya tidak ekspektasi. Karena perkiraan saya dampaknya lebih cepat dari yang kita harapkan. Tetapi kita berhadapan di dalam situasi di mana mau tidak mau dampak perlambatan ekonomi global akan sampai di Indonesia,” ucap Mantan Menteri Keuangan ini.
Dia mengatakan perlambatan perekonomian global tidak terlepas dari penurunan harga komoditas. Sehingga nilai ekspor juga turun dan surplus neraca perdagangan mulai menurun jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 3,45 miliar pada Juni 2023.
Nilai ekspor pada Juni 2023 mencapai US$ 20,61 miliar, turun 5,08% dibanding Mei 2023. Sedangkan nilai impor pada Juni 2023 senilai US$17,15 miliar, turun 19,4% dibanding Mei 2023. Pertumbuhan surplus neraca perdagangan mencapai 708,66% jika dibandingkan Mei 2023 namun menurun 32,75% jika dibandingkan Juni 2022.
“Efeknya ekspor akan melambat itu sebabnya surplus neraca perdagangan mulai sedikit mengalami penurunan,” tutur Chatib.
Di sisi lain Bank Indonesia (BI) tidak memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan dari posisi saat ini yang sebesar 5,75%. Sebab bila BI menurunkan suku bunga acuan dan suku bunga acuan The Fed naik maka investor akan memindahkan modal ke AS.
“Jadi dia akan maintain tingkat bunga pada level saat ini, pasti investasi akan terkena dampak. Dalam kondisi seperti ini, saya tidak akan terkejut kalau terjadi perlambatan ekonomi,” kata dia.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






