Program Keuangan Berkelanjutan Asean Ditargetkan Selaras dengan Global
JAKARTA, Investor.id - Negara-negara anggota Asean mendorong program keuangan berkelanjutan dalam taksonomi Asean bisa selaras dengan taksonomi internasional.
Taksonomi Asean untuk keuangan berkelanjutan berisi upaya negara-negara anggota Asean mewujudkan transisi energi yang tertib dan mendorong penerapan keuangan berkelanjutan.
“Tantangan selanjutnya adalah bagaimana membangun interoperabilitas taksonomi Asean dengan taksonomi lainnya, seperti taksonomi Uni Eropa, juga dengan negara lain. Hal ini akan meningkatkan lebih banyak keterlibatan sektor swasta secara global, tidak hanya secara regional,” ucap Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu dalam seminar Energy Transition Mechanism: Asean Country Updates di Hotel Mulia pada Rabu (23/8/2023).
Dalam Asean Taxonomy for Sustainable Finance Version 2 tercatat bahwa taksonomi Asean telah dikembangkan secara paralel dengan taksonomi negara lain, namun tidak terbatas pada taksonomi yang telah dikembangkan oleh Uni Eropa, Australia, Kanada, dan Afrika Selatan. Semua taksonomi ini berusaha untuk mengatasi tujuan lingkungan yang serupa seperti yang menjadi fokus Taksonomi ASEAN.
Febrio mengatakan, taksonomi Asean berfungsi sebagai contoh transisi yang baik, kredibel, dan dapat diterapkan dengan taksonomi yang dapat dioperasikan antar wilayah dan negara. Dalam taksonomi ini telah diperkenalkan penghentian penggunaan batu bara secara bertahap sebagai kegiatan yang akan diklasifikasikan sebagai golongan hijau atau kuning, tergantung pada kualifikasi proyek.
“Indonesia terus meningkatkan kerja sama internasional untuk mengadvokasi aksi iklim dan memobilisasi pendanaan sektor swasta dan publik untuk aksi iklim,” tutur Febrio.
Indonesia juga terus meningkatkan kerja sama dengan para pemangku kepentingan melalui program green climate fund, , fasilitas lingkungan global, lembaga keuangan internasional, bank pembangunan multilateral, negara mitra pembangunan, sektor swasta, bahkan termasuk lembaga filantropi.
“Kami memandang perlunya kolaborasi global untuk menciptakan ekosistem industri hijau dan tradisional, termasuk baterai, kendaraan listrik, dan rantai pasokan global hijau,” kata dia.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






