Jumat, 15 Mei 2026

Perang Atas Inflasi Masih Berlanjut, Suku Bunga Kapan Turunnya?

Penulis : Fajar Widhiyanto
26 Aug 2023 | 22:07 WIB
BAGIKAN
Gubernur Federal Reserve Jerome Powell beristirahat di luar Jackson Lake Lodge selama Simposium Ekonomi Jackson Hole dekat Moran di Taman Nasional Grand Teton, Wyoming, Amerika Serikat pada 25 Agustus 2023. (Foto: AP Photo/Amber Baesler)
Gubernur Federal Reserve Jerome Powell beristirahat di luar Jackson Lake Lodge selama Simposium Ekonomi Jackson Hole dekat Moran di Taman Nasional Grand Teton, Wyoming, Amerika Serikat pada 25 Agustus 2023. (Foto: AP Photo/Amber Baesler)

JAKARTA, Investor.id - Inflasi Amerika Serikat dinilai masih  'terlalu tinggi' dan suku bunga bisa saja kembali dinaikkan  untuk mengendalikan inflasi, demikian disampaikan Gubernur Bank Sentral AS, atau The Federal Reserve dalam pidato yang sangat dinantikan di simposium tahunan para bank sentral di Jackson Hole, Wyoming, AS, Juat (25/8/2023) waktu setempat.

Disampaikan Gubernur The Fed  Jerome Powell,  tugas untuk meredam inflasi di Amerika Serikat masih jauh dari selesai. Dan dia bersikeras bahwa The Fed akan 'terus melakukannya (mengendalikan inflasi, red)  sampai tugas selesai'.

Komentar tersebut membuat dolar menguat di pasar valuta asing dan meningkatkan biaya pinjaman  di pasar obligasi, sementara para investor masih mencerna kecenderungan hawkish dari pidato Powell.

Para analis mengatakan bahwa pidato tersebut memperkuat pandangan bahwa suku bunga di AS dan di seluruh dunia kemungkinan akan tetap 'lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama',  meskipun banyak yang memperkirakan The Fed akan mulai menurunkan suku bunga tahun depan ketika ekonomi melambat.

ADVERTISEMENT

“Tugas Fed adalah menurunkan inflasi ke target 2%, dan kami akan melakukannya,” kata Powell di lansir Thisismoney.co.uk, Sabtu (26/8/2023). “Meskipun inflasi telah turun dari puncaknya, sebuah perkembangan yang menggembirakan, (tapi) tetap masih terlalu tinggi,” tegasnya.

"Kami siap untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan, dan bermaksud untuk menjaga kebijakan pada level yang ketat sampai kami yakin bahwa inflasi bergerak secara berkelanjutan menuju tujuan kami."

Inflasi di AS telah turun menjadi 3,2% dari puncak dalam 40 tahun terakhir di di level 9%. Setelah menaikkan suku bunga dari hampir nol persen menjadi antara 5,25% dan 5,5 persen, Powell mengatakan bahwa  Federal Reserve akan 'melanjutkan kebijakan dengan hati-hati' saat mereka mempertimbangkan kenaikan lebih lanjut.

Pada saat yang sama, dia mengisyaratkan bahwa Fed dapat menjaga suku bunga tetap stabil dalam pertemuan berikutnya pada bulan September, seraya menambahkan bahwa keputusan tersebut akan bergantung pada data ekonomi.

“Mengingat sejauh mana langkah-langkah yang telah kami ambil, dalam pertemuan mendatang kami berada dalam posisi untuk melanjutkan kebijakan dengan hati-hati saat kami mempelajari data yang  masuk dan perkembangan prospek dan risiko,” ujarnya.

Michael Arone, kepala strategi investasi di State Street Global Advisors mengatakan, Powell terus  menjalankan kebijakan yang sensitif.

"Saya pikir dia sedang menunjukkan bahwa dia puas dengan sejauh mana kebijakan moneter telah berjalan dan bagaimana inflasi telah berkurang. Tetapi dia masih berpegang erat pada gagasan bahwa mereka masih harus mengamati secara hati-hati,  dan  masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan,” kata Arone.

Bank sentral di seluruh dunia telah meningkatkan suku bunga demi meredam inflasi yang melonjak. Bank of England telah meningkatkan suku bunga dari 0,1% menjadi 5,25% sejak Desember 2021,  yang telah meningkatkan biaya pinjaman bagi jutaan orang, termasuk keluarga dengan hipotek. Namun, inflasi tetap tinggi,  kendati turun dari puncak 11,1%tetap saja masih lebih dari tiga kali lipat target 2%, yakni  6,8%. Diperkirakan Bank Sentral AS akan meningkatkan suku bunga lagi bulan depan menjadi 5,5% .

Tetapi dengan perlambatan ekonomi dan angka-angka mengejutkan  yang menunjukkan penurunan usaha swasta, ada perdebatan tentang seberapa jauh kebijakan ini akan berlanjut. Bank Sentral Eropa juga menghadapi dilemma, terutama melihat kondisi ekonomi Jerman yang lesu.

Setelah menaikkan suku bunga dari wilayah negatif menjadi 3,75% hanya dalam waktu satu tahun,  ECB diyakini bisa menunda kenaikan suku bunga berikutnya bulan depan dan mempertahankan patokan biaya pinjaman.

Namun, meskipun harapan tumbuh bahwa suku bunga di seluruh dunia mendekati puncaknya, pemangkasan suku bunga tampaknya masih jauh karena perang melawan inflasi juga masih terus berlanjut.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 45 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 47 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia