Jumat, 15 Mei 2026

Inflasi Diredam, Masyarakat Mulai Gemar Belanja dan Jalan-Jalan

Penulis : Prisma Ardianto
10 Sep 2023 | 06:39 WIB
BAGIKAN
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro usai mengisi seminar dan pelatihan di Ayan Hotel, Pantai Waecicu, Komodo, Manggarai Barat, NTT, pada Sabtu (9/9/2023). (B Universe Photo/Prisma Ardianto)
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro usai mengisi seminar dan pelatihan di Ayan Hotel, Pantai Waecicu, Komodo, Manggarai Barat, NTT, pada Sabtu (9/9/2023). (B Universe Photo/Prisma Ardianto)

MANGGARAI BARAT, investor.id - Aktivitas belanja dan bepergian masyarakat Indonesia mulai meningkat seiring kebijakan pemerintah mencabut pembatasan sosial. Faktor penentu lainnya adalah pergerakan inflasi yang mampu diredam.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menyampaikan, kebijakan pemerintah mencabut pembatasan sosial dan status pandemi direspons masyarakat secara positif. Sektor-sektor ekonomi yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat tumbuh positif di kuartal II-2023.

Imbasnya, kata dia, kontribusi sektor konsumsi untuk pertumbuhan ekonomi pun mulai menunjukkan pergerakan yang baik. Mobilitas masyarakat yang kian meningkat, pada gilirannya mengerek sejumlah sektor ekonomi untuk lebih cepat dalam pemulihan akibat dampak pandemi Covid-19, termasuk sektor pariwisata.

ADVERTISEMENT

Nah ini juga yang kemudian membuat sektor aktivitas pariwisata kembali meningkat. Kalau kami menggunakan data Mandiri Spending Index, terlihat memang orang Indonesia itu dari sisi konsumsi hobinya dua, yaitu jajan dan jalan-jalan,” kata Andry dalam seminar di Manggarai Barat, Sabtu (9/9/2023).

Dia menerangkan, Mandiri Spending Index mencatat 40% pengeluaran masyarakat lari ke restoran dan supermarket. Selanjutnya, sekitar 9% masyarakat menggelontorkan dananya untuk memenuhi kebutuhan bepergian atau berwisata.

Untuk itu, menurut Andry pihaknya tidak khawatir pertumbuhan di sektor konsumsi masih akan melanjutkan tren positif hingga akhir tahun ini. “Kalau tidak ada gangguan mobilitas, sebenarnya saya tidak khawatir (pertumbuhan) akan turun di bawah 5%, saya yakin akan di atas 5%,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Andry menerangkan, perilaku masyarakat ini tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah meredam tingkat inflasi yang jadi momok tersendiri. Inflasi tetap bergerak, namun jauh lebih rendah dari yang diperkirakan.

Inflasi IHK Agustus 2023 tercatat deflasi 0,02% month to month (mtm) sehingga secara tahunan mengalami inflasi 3,27% year on year (yoy).Inflasi inti tercatat sebesar 2,18% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,43% (yoy), sejalan dengan permintaan yang terkelola, ekspektasi inflasi yang terjaga, serta imported inflation yang rendah.

Jika dirinci, Kelompok volatile food mengalami inflasi 2,42% (yoy), tetap terkendali sejalan dengan kesuksesan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah. Inflasi kelompok administered prices terus menurun menjadi 8,05% (yoy), lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 8,42% (yoy).

“Ini keberhasilan pemerintah menjaga dari harga bahan pangan. Kalau dilihat memang masih ada inflasinya tapi jauh lebih rendah, bisa ukur deh dalam beberapa tahun terakhir itu berapa volatilnya harga pangan di Indonesia,” ungkap Andry.

Terjaganya inflasi sektor konsumsi ini juga dipengaruhi perkembangan infrastruktur jalan tol yang bisa memangkas waktu pengangkutan barang pangan. Meski permintaan meningkat, inflasi pun dapat lebih terkendali dengan biaya yang lebih terukur.

Kendati demikian, Andry percaya potensi untuk sektor konsumsi lebih akseleratif mendukung pertumbuhan ekonomi masih terbuka lebar. Segmen pendapatan menengah-atas perlu pengungkit lewat pendekatan-pendekatan inovatif.

“Potensinya banyak di long weekend, pemerintah bisa buat program jauh-jauh hari. Misalnya ada semacam Jakarta Great Sale setiap long weekend. Lalu misalnya waktu Maulid ini, buat saja supaya belanjanya di domestik, bukan malah lari ke luar negeri,” ujar dia.

Sebaliknya untuk segmen pendapatan menengah-bawah, pemerintah masih perlu banyak membantu. Dalam hal ini, pemerintah dapat memberikan subsidi atau pendekatan lainnya untuk juga menjaga tingkat konsumsi.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia