Rupiah Tembus Rp 15.700, Pemerintah Percaya Diri Fundamental Ekonomi Kuat
JAKARTA, investor.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah saat ini terjadi karena adanya penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Namun pemerintah tetap berupaya menjaga fundamental perekonomian domestik.
“Isunya dolar AS kuat terhadap berbagai currency termasuk Jepang. Jadi kita tenang-tenang saja yang penting kita menjaga fundamental ekonomi kita baik,” ucap Airlangga saat ditemui usai mengikuti HSBC Summit di St.Regis, Jakarta pada Rabu (11/10/2023).
Berdasarkan data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI posisi nilai tukar rupiah adalah Rp 15.710 pada Rabu (11/10/2023).
Salah satu fundamental perekonomian yang dinilai masih stabil adalah kondisi inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi year on year 2,28% pada September 2023. Adapun target sasaran inflasi pemerintah sebesar 3%±1% selama tahun 2023 ini.
“Inflasi kita kan masih rendah, beberapa komoditas, harga minyak juga masih terkendali, relatif. Kita lihat saja ya (perkembangannya),” tutur Airlangga.
Baca Juga:
Bunga Acuan Perlu DinaikkanDi sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan kondisi pelemahan nilai tukar rupiah ini lebih memberikan dampak negatif kepada pengusaha. Pihak yang merasakan keuntungan dari pelemahan rupiah umumnya hanya eksportir komoditas mentah.
Sedangkan sektor usaha lain (eksportir produk manufaktur dan pelaku usaha berorientasi pasar domestik) hampir seluruhnya mengalami peningkatan beban overhead usaha, pelemahan daya saing serta cenderung menunda ekspansi usaha/investasi jangka pendek-menengah.
Hal tersebut juga memberikan imbas negatif ke masyarakat karena cenderung menciptakan inflasi yang lebih tinggi dan penurunan daya beli masyarakat secara umum. “Kalau dibiarkan berlama-lama, pelemahan rupiah bisa menciptakan perlambatan pertumbuhan yang serius, bahkan tidak tertutup kemungkinan menyebabkan deindustrialisasi karena komponen biaya usaha di Indonesia saat ini pun sudah merupakan nomor 1 atau nomor 2 termahal di kawasan,” ungkap Shinta.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah ini dipengaruhi oleh pergerakan indeks dolar yang kembali menguat setelah sebelumnya cenderung melemah karena pelaku pasar mencermati ketegangan geopolitik yang dipicu oleh perang Israel-Hamas.
“Pada saat yang sama pelaku pasar juga menantikan rilis notulensi rapat FOMC bulan September yang lalu dan menantikan rilis data inflasi AS yang akan dirilis pada hari Kamis mendatang,” terang Josua.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






