Ekonom: Terbuka Ruang Suku Bunga Naik Lagi
JAKARTA, investor.id – Ekonom Universitas Indonesia Chatib Basri memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) masih akan menaikan suku bunga acuan (Federal Fund Rate/FFR) untuk mengantisipasi kenaikan bunga surat utangnya. Dalam hal ini, BI dinilai perlu melakukan antisipasi kenaikan FFR untuk menjaga ketahanan nilai tukar rupiah dan inflasi.
“Dugaan saya bahwa interest rate-nya masih akan naik, jadi tingkat bunga masih akan naik, dan kita akan berhadapan dengan exchange rate yang melemah,” ucap Chatib Basri dalam acara BNI Investor Daily Summit 2023 di Hutan Kota by Plataran Senayan pada Selasa (24/10/2023).
Chatib mengatakan, untuk mengantisipasi hal itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh BI yaitu mempertahankan suku bunga acuan namun nilai tukar tetap melemah atau meningkatkan suku bunga acuan. “Oleh karena itu, yang dilakukan BI smoothing the volatility not pegging the level. Dalam kondisi ini dan kemudian ada makroprudensial yang dilakukan,” kata Chatib.
Sebelumnya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Oktober 2023 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75%.
Mengenai nilai tukar rupiah, Chatib mengatakan pelemahan nilai tukar Rupiah saat ini tidak separah tahun 2013. Sebab depresiasi Rupiah saat ini hanya 2%, bandingkan dengan Ringgit Malaysia sekitar atau Yen Jepang. Berdasarkan data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI posisi nilai tukar rupiah adalah Rp 15.869 per dolar AS pada Selasa (24/10/2023).
Baca Juga:
Suku Bunga Berpotensi Naik Lagi“Jadi ruang BI untuk melakukan apresiasi (Rupiah) sebetulnya ada, dikombinasi dengan menaikkan bunga sambil makroprudensial,” tutur Chatib.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo menekankan bahwa ketidakpastian perekonomian global masih mempengaruhi perekonomian domestik. Kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat diperkirakan akan menyebabkan keluarnya aliran modal asing dan dapat mempengaruhi perekonomian nasional.
“Pelemahan ekonomi global yang kita tunggu katanya tahun depan akan naik tahun depan akan naik ternyata juga belum. Kebijakan kenaikan suku bunga yang tinggi dan dalam waktu yang lama oleh Amerika Serikat juga makin merumitkan bagi negara-negara yang berkembang capital outflow semuanya lari balik ke Amerika Serikat semakin juga merumitkan kita semuanya,” tutur Joko Widodo
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






