Kemenkeu Telah Lakukan Penarikan Utang Rp 203,6 Triliun
JAKARTA, investor.id – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah melakukan pembiayaan utang sebesar Rp 203,6 triliun per 31 Oktober 2023. Angka ini menunjukkan kontraksi sebesar 59,9% dari posisi Oktober 2022 yang saat itu sebesar Rp 507,3 triliun. Pemerintah menargetkan realisasi pembiayaan utang selama tahun 2023 ini senilai Rp 696,3 triliun.
“Kalau kita lihat, pembiayaan utang itu negative growth-nya sangat dalam 59,9%,. Artinya kita hanya merealisir kurang dari 30% dari yang ada dalam UU APBN,” ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta yang berlangsung secara virtual pada Jumat (24/11/2023).
Realisasi pembiayaan utang sebesar Rp 203,6 triliun terbagi dalam bentuk surat berharga negara (SBN) senilai Rp 185,4 triliun dan pinjaman sebesar Rp 18,2 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2022 realisasi SBN mengalami kontraksi sebesar 62,9%, sebab pada Oktober 2022 realisasi penarikan utang SBN mencapai Rp 500,3 triliun. Sedangkan realisasi utang melalui pinjaman mengalami pertumbuhan hingga 159,7% dari posisi Oktober 2022 yang sebesar Rp 7 triliun.
“Untuk SBN yang seharusnya diterbitkan sesuai UU APBN (2023) itu mencapai Rp 712,9 triliun, tetapi kita hanya menerbitkan Rp 185,4 triliun. Ini artinya turun drastis dari tahun lalu yang mencapai Rp 500,3 triliun, turunnya 62,9% dari sisi penerbitan SBN neto,” kata Sri Mulyani.
Pengelolaan pembiayaan utang terjaga baik, dilakukan secara prudent dan akuntabel pengadaan pembiayaan utang melalui lelang domestik masih on-track. Pengadaan utang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan tahun 2023 dan antisipasi tantangan 2024. Pemerintah juga telah menerbitkan sukuk global sebesar US$ 2 miliar di tengah kondisi pasar yang cukup volatile.
“Pemerintah baru-baru ini mengeluarkan SBN dalam bentuk sukuk global sebesar US$ 2 miliar, dan ini mengalami issuance yang sangat baik, padahal dalam situasi pasar yang masih sangat volatile,” tutur Sri Mulyani.
Penerbitan sukuk global sebesar US$ 2 miliar pada November 2023 terdiri dari US$ 1 miliar tenor 1 tahun (yield 5,4%) dan US$ 1 miliar tenor 10 tahun (yield 5,6%). Penerbitan ini oversubscribe 2,8 kali dan menjadi green sukuk global keenam yang diterbitkan Indonesia.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






