Kemenkeu Perkirakan Defisit APBN 2023 Berada di Bawah 2,3% dari PDB
JAKARTA, investor.id - Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) memperkirakan defisit APBN 2023 akan berada di bawah 2,3%. Prognosa ini tidak terlepas dari kinerja belanja dan pendapatan negara.
Dalam laporan semester I-2023 pemerintah sudah membuat prognosa bahwa defisit APBN akan mencapai 2,3% dari PDB atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 2,8% dari PDB. Dengan dinamika yang terjadi saat ini angka defisit bisa lebih rendah dari 2,3%.
“Peluang untuk defisit lebih rendah dibandingkan dengan 2,3% itu memang terlihat semakin nyata. Sehingga yang menjadi modal bagi APBN kita untuk tetap bisa berfungsi sebagai shock absorber maupun juga penopang pertumbuhan ekonomi dan juga konsumsi masyarakat,” ungkap Febrio dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta,Jumat (24/11/2023).
APBN Oktober mencatatkan defisit sebesar Rp 700 miliar atau 0,003% PDB, sementara keseimbangan primer masih tercatat positif sebesar Rp 365,4 triliun. Realisasi Belanja Negara mencapai Rp 2.240,8 triliun atau 73,2% Pagu APBN, terkontraksi 4,7% (yoy). Komponen Belanja Pemerintah Pusat (BPP) telah terealisasi sebesar Rp 1.572,2 triliun (70,0% dari Pagu), ditopang Belanja K/L sebesar Rp 768,7 triliun dan Belanja non-K/L sebesar Rp 803,6 triliun.
Sebanyak 57,2% dari BPP atau sebesar Rp 899,1 triliun merupakan belanja yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, baik di sektor perlindungan sosial, petani, dan UMKM, sektor Pendidikan, dan sektor infrastruktur. Penyaluran transfer ke daerah (TKD) per Oktober 2023 mencapai Rp 668,5 triliun (82,1% dari Pagu) atau turun 1,6% (yoy).
Febrio mengatakan, kinerja belanja tetap kuat menopang pemulihan ekonomi. Pada saat yang sama belanja negara juga berperan mendukung konsumsi masyarakat. Hal ini terlihat baik secara natural terjadi dari pertumbuhan ekonominya maupun juga pemerintah melihat kebutuhan untuk adanya penebalan bantuan sosial (bansos).
“Bansos dalam konteks El Nino dan juga harga komoditas, inilah kemudian dinamika yang kemudian tercermin di dalam APBN,” kata Febrio.
Realisasi pendapatan Negara mencapai Rp 2.240,1 triliun (90,9% dari target APBN 2023), tumbuh 2,8% (yoy). Penerimaan Pajak telah mencapai Rp 1.523,7 triliun (88,69%% dari target), tumbuh 5,3% (yoy), melambat dari bulan sebelumnya 5,9% (yoy). Penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp220,8 triliun (72,8% dari target), turun 13,6% (yoy) dipengaruhi penurunan bea keluar dan cukai. Realisasi penerimaan negara bukan pajak yaitu sebesar Rp 494,2 triliun (112,0% dari Target) atau tumbuh 3,7% (yoy).
“APBN kita bersifat forward looking sehingga antisipatif dan ini sudah terbukti bahwa di perkembangan sisi penerimaan APBN kita pun ini relatif lebih baik dibandingkan APBN yang sudah kita siapkan, sehingga di outlook-nya di laporan semester I -2023 juga kita lakukan penyesuaian-penyesuaian yang lebih mencerminkan kondisi terkini,” tutur Febrio.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






